Peran Orang Tua yang Tak Bisa Diabaikan
Kasus ini juga memperlihatkan persoalan lain.
LESINDO.COM – Alih-alih mencari kebenaran secara utuh, sebagian orang tua atau keluarga terkadang lebih cepat bereaksi berdasarkan cerita sepihak anak.
Padahal setiap konflik semestinya diperiksa dari kedua sisi.
Dalam banyak kasus, keberpihakan tanpa verifikasi justru memperbesar konflik.
Anak belajar satu hal yang berbahaya:
Apa pun kesalahannya akan selalu dibela.
Jika pola ini terus berlangsung, anak tidak pernah belajar bertanggung jawab atas tindakannya.
Guru di Tengah Posisi yang Serba Sulit
Beberapa tahun terakhir, banyak guru mengaku semakin berhati-hati menegur siswa.
Bukan karena mereka tidak peduli.
Melainkan karena khawatir teguran akan dipersoalkan, direkam, dipelintir, bahkan berujung laporan hukum.
Sebagian memilih diam.
Membiarkan pelanggaran kecil berlalu.
Padahal pelanggaran kecil yang dibiarkan sering berkembang menjadi pelanggaran yang lebih besar.
Sekolah kehilangan fungsi pendidikannya ketika guru takut menjalankan tugas moralnya.
Kekerasan Tidak Pernah Menyelesaikan Masalah
Proses hukum terhadap kasus ini masih berjalan. Kepolisian masih memeriksa para saksi dan mendalami kronologi secara menyeluruh. Karena itu, semua pihak tetap harus menghormati asas praduga tak bersalah terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Namun terlepas dari hasil penyidikan nanti, satu pelajaran sudah tampak jelas.
Kekerasan tidak pernah dapat dibenarkan sebagai jawaban atas sebuah teguran.
Apalagi ketika teguran itu bertujuan menjaga martabat sekolah.
Alarm bagi Dunia Pendidikan
Kasus Muhammad Afdal bukan sekadar berita kriminal.
Ia adalah alarm.
Alarm bahwa hubungan antara guru, siswa, orang tua, dan masyarakat sedang mengalami perubahan yang serius.
Jika seorang guru tidak lagi memiliki ruang aman untuk menegur pelajar yang melanggar aturan, maka yang sedang kehilangan wibawa bukan hanya guru.
Melainkan seluruh sistem pendidikan.
Sebab sekolah tidak dibangun hanya untuk mengajarkan membaca, berhitung, atau menghafal rumus.
Sekolah ada untuk membentuk manusia.
Dan ketika teguran dibalas pengeroyokan, yang sedang dipukul sesungguhnya bukan hanya seorang guru.
Yang sedang dipukul adalah kewibawaan pendidikan itu sendiri.

