spot_img
BerandaJelajahJurnalis Warga Part 1

Jurnalis Warga Part 1

Algoritma media sosial justru lebih menyukai konten yang mampu memancing emosi. Semakin kontroversial, semakin tinggi peluangnya muncul di beranda jutaan pengguna.

Ketika Semua Orang Menjadi Jurnalis: Krisis Literasi di Tengah Banjir Informasi

LESINDO.COM – Setiap detik, ribuan video baru lahir di TikTok. Dalam hitungan menit, jutaan orang menggulir layar Instagram Reels, YouTube Shorts, hingga Facebook. Di sudut-sudut kampung, di pasar tradisional, di jalan raya, bahkan di ruang kelas, siapa pun kini dapat menjadi penyampai berita. Cukup bermodal telepon genggam dan jaringan internet, sebuah peristiwa dapat disiarkan kepada publik tanpa harus melewati ruang redaksi.

Perubahan ini melahirkan fenomena baru: ledakan jurnalis warga.

Jika dahulu masyarakat menunggu wartawan datang membawa kamera dan buku catatan, kini masyarakat sendirilah yang memegang kamera, menulis narasi, sekaligus menyebarkan informasi. Demokratisasi informasi memang memberi ruang partisipasi yang lebih luas. Namun di balik kebebasan itu, muncul persoalan yang jauh lebih besar: masyarakat memproduksi informasi lebih cepat daripada kemampuan mereka memahami informasi.

Ironisnya, ketika produksi informasi meningkat, kemampuan membaca justru mengalami penurunan.

Krisis yang Tidak Terlihat

Data statistik tentang kemampuan membaca sering kali menjadi bahan diskusi para akademisi. Namun, gejala krisis literasi sesungguhnya dapat dilihat langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang hanya membaca judul berita tanpa membuka isi. Sebagian besar lebih percaya potongan video berdurasi satu menit dibanding laporan jurnalistik sepanjang beberapa halaman. Bahkan tidak sedikit yang menyebarkan informasi hanya karena sesuai dengan keyakinannya, bukan karena telah diverifikasi.

Fenomena ini bukan semata-mata disebabkan masyarakat malas membaca.

Perubahan teknologi telah mengubah cara kerja otak manusia.

Platform digital dirancang agar pengguna terus bertahan di layar. Video pendek, musik yang menarik, efek visual, serta algoritma yang memahami kebiasaan pengguna membuat otak memperoleh kepuasan secara instan. Rentang perhatian (attention span) menjadi semakin pendek.

Membaca artikel sepanjang dua ribu kata terasa jauh lebih melelahkan dibanding menonton puluhan video berdurasi tiga puluh detik.

Tanpa disadari, masyarakat sedang mengalami perubahan pola konsumsi informasi dari membaca secara aktif menjadi menonton secara pasif.

Ketika Algoritma Menggantikan Editor

Pada masa kejayaan media cetak, informasi melewati proses panjang.

Reporter melakukan peliputan, editor memeriksa fakta, redaktur mempertimbangkan nilai berita, sebelum akhirnya sebuah informasi diterbitkan.

Kini, mekanisme itu tidak lagi menjadi syarat utama.

Algoritma media sosial justru lebih menyukai konten yang mampu memancing emosi. Semakin kontroversial, semakin tinggi peluangnya muncul di beranda jutaan pengguna.

Akibatnya, informasi yang paling banyak dikonsumsi belum tentu yang paling benar, melainkan yang paling menarik perhatian.

Di sinilah fungsi media sebagai gatekeeper (penjaga gerbang) mulai terkikis.(Che)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments