spot_img
BerandaJelajahAntara Pemuja dan Pembenci: Ketika Penilaian Kehilangan Akal Sehat

Antara Pemuja dan Pembenci: Ketika Penilaian Kehilangan Akal Sehat

Padahal manusia tidak pernah sepenuhnya hitam atau sepenuhnya putih. Setiap orang membawa keunggulan sekaligus kelemahan. Mengakui keduanya adalah bentuk kedewasaan berpikir.

Namun, ada satu pasangan lain yang terus hidup di tengah masyarakat modern: pengagum dan pembenci.

Keduanya selalu ada, di mana pun manusia berkumpul. Di ruang keluarga, di warung kopi, di stadion olahraga, di panggung politik, hingga di media sosial yang seolah tidak pernah tidur. Yang membedakan hanyalah objeknya.

Orang yang menyukai seseorang akan sibuk mencari seribu alasan untuk membenarkan idolanya. Kekurangan dianggap sekadar kekhilafan. Kesalahan dipandang sebagai kekeliruan yang manusiawi. Bahkan, ketika fakta berbicara lain, pembelaan tetap ditemukan.

Sebaliknya, orang yang membenci akan melakukan hal yang sama, tetapi dari arah yang berlawanan. Segala kebaikan menjadi tidak terlihat. Prestasi dianggap kebetulan. Keberhasilan dicurigai. Sementara satu kesalahan kecil dapat dijadikan bahan pembicaraan yang berulang-ulang, berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain, seolah menjadi komoditas yang tak pernah habis dijual.

Di titik itulah penilaian kehilangan keseimbangannya.

Fenomena ini mudah ditemukan dalam dunia olahraga. Bertahun-tahun, persaingan penggemar Valentino Rossi dan Marc Márquez bukan hanya terjadi di lintasan balap, tetapi juga di ruang-ruang diskusi para penggemarnya. Setiap kemenangan dipuja, setiap kekalahan dicari pembenarannya. Sebaliknya, kubu lawan akan mengangkat setiap kesalahan sebagai bukti bahwa idolanya memang tidak layak dihormati.

Hal serupa juga tampak dalam dunia sepak bola. Perdebatan tentang Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi seolah tidak pernah menemukan garis akhir. Bagi penggemarnya, sang idola nyaris sempurna. Bagi pembencinya, hampir tidak ada satu pun hal yang pantas diapresiasi.

Yang menarik, kedua kelompok itu sering kali menggunakan cara berpikir yang sama. Bedanya hanya pada arah keberpihakannya.

Dalam psikologi, keadaan semacam ini dikenal sebagai confirmation bias—kecenderungan manusia hanya menerima informasi yang menguatkan keyakinannya sendiri, lalu mengabaikan fakta yang bertentangan. Akibatnya, penilaian tidak lagi dibangun di atas kenyataan, melainkan di atas rasa suka atau rasa benci.

Dunia politik bahkan menghadirkan gambaran yang lebih kompleks. Loyalitas sering kali mengalahkan objektivitas. Demi memenangkan kelompoknya, berbagai cara ditempuh: kekuatan modal, jaringan, pengaruh, hingga propaganda. Yang penting berada dalam barisan yang sama.

Di ruang seperti itu, kritik sering dianggap permusuhan, sedangkan pujian berubah menjadi alat pembenaran. Tidak sedikit orang kehilangan kemampuan untuk menilai secara jernih karena lebih memilih berdiri di salah satu kubu.

Padahal, jika direnungkan lebih dalam, rasa suka yang berlebihan tidak akan mengubah kita menjadi sehebat orang yang kita kagumi. Begitu pula rasa benci yang terus dipelihara tidak akan membuat hidup kita lebih baik daripada orang yang kita benci.

Nasib mereka berjalan pada jalurnya sendiri.

Yang berubah justru diri kita. Waktu habis untuk memperdebatkan kehidupan orang lain. Energi terkuras untuk mencari-cari kesalahan atau menyusun pembelaan. Sementara kesempatan memperbaiki diri perlahan terlewat begitu saja.

Ironisnya, ketika seseorang sibuk menghitung kekurangan orang lain, orang yang sedang menjadi bahan pembicaraan itu mungkin justru sedang berlatih, belajar, memperbaiki kemampuan, dan bekerja lebih keras. Itulah sebabnya banyak orang besar lahir bukan karena mereka bebas dari kritik, melainkan karena mereka tidak berhenti bertumbuh.

Pembenci dan pemuja sama-sama memiliki risiko yang serupa: kehilangan objektivitas.

Yang satu menutup mata terhadap kekurangan. Yang lain menutup mata terhadap kelebihan.

Padahal manusia tidak pernah sepenuhnya hitam atau sepenuhnya putih. Setiap orang membawa keunggulan sekaligus kelemahan. Mengakui keduanya adalah bentuk kedewasaan berpikir.

Barangkali, yang lebih penting bukanlah memilih menjadi penggemar atau pembenci, melainkan menjadi pembelajar. Mengambil inspirasi dari keberhasilan orang lain tanpa kehilangan nalar. Mengkritik kekeliruan tanpa kehilangan adab.

Sebab hidup bukanlah perlombaan untuk memenangkan perdebatan tentang siapa yang paling benar atau siapa yang paling hebat.

Hidup adalah kesempatan untuk menjadi versi diri yang lebih baik setiap hari.

Dan sering kali, orang-orang yang benar-benar berhasil tidak memiliki banyak waktu untuk membenci. Mereka terlalu sibuk belajar, berlatih, bekerja, dan memperbaiki dirinya sendiri.(Rai)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments