spot_img
BerandaJelajahTak Semua yang Singgah Ditakdirkan Menetap

Tak Semua yang Singgah Ditakdirkan Menetap

Bukankah daun yang gugur bukan tanda pohon mati? Ia hanya sedang memberi kesempatan bagi tunas baru untuk tumbuh. Demikian pula kehidupan. Ada orang-orang yang harus pergi agar ruang hati kita cukup lapang menerima pelajaran, pengalaman, dan perjumpaan baru yang telah disiapkan oleh Sang Maha Pengatur.

LESINDO.COM – Hidup tak ubahnya sebuah stasiun tua yang tak pernah benar-benar lengang. Kereta datang silih berganti, membawa penumpang dari berbagai arah, lalu kembali berangkat menuju tujuan yang berbeda. Begitulah manusia. Ada yang turun sebentar, menyapa, meninggalkan jejak tawa, lalu menghilang di tikungan waktu. Ada pula yang sempat berjalan berdampingan begitu lama hingga kita mengira mereka akan tinggal selamanya. Padahal, sejak awal semesta telah menetapkan bahwa setiap pertemuan selalu membawa tanggal kedaluwarsanya sendiri.

Kita sering mengira setiap orang yang hadir adalah bagian tetap dari cerita hidup. Padahal, sebagian hanya diberi peran sebagai persinggahan. Mereka datang bukan untuk menetap, melainkan untuk mengisi ruang kosong, mengantarkan satu pelajaran, lalu melanjutkan perjalanan ketika tugasnya telah selesai.

Ada yang hadir seperti embun di pagi hari, menyejukkan hati yang lama kehausan. Ada yang datang laksana hujan deras disertai petir, mengguncang, merobohkan kesombongan, sekaligus menumbuhkan akar ketegaran yang sebelumnya tak pernah kita sadari. Bahkan ada yang hanya singgah sekejap, tetapi meninggalkan bekas yang bertahan jauh lebih lama daripada usia perjumpaan itu sendiri.

Sesungguhnya, setiap pertemuan adalah ruang belajar yang disiapkan Tuhan. Ada yang mengajarkan arti kasih sayang, kesetiaan, dan ketulusan. Ada pula yang mengajari kita tentang pengkhianatan, kehilangan, serta betapa rapuhnya harapan yang digantungkan kepada manusia. Ironisnya, pelajaran yang paling membekas justru sering datang dari luka, bukan dari kebahagiaan.

Yang paling sulit bukanlah saat seseorang memilih pergi. Yang paling berat adalah ketika hati belum siap menerima bahwa jalan yang semula searah kini bercabang ke tujuan yang berbeda. Kita ingin menggenggam lebih erat, berharap waktu berhenti berjalan. Namun waktu tidak pernah pandai berkompromi. Ia terus bergerak, membawa siapa pun yang memang telah selesai menjadi bagian dari kisah kita.

Memaksa seseorang tetap tinggal ketika takdir telah memanggilnya pergi hanya akan melahirkan penderitaan yang sunyi. Seperti menggenggam pasir di tepi pantai, semakin kuat tangan mengepal, semakin banyak butir yang lolos di sela-sela jari. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah lelah dan kecewa.

Di titik itulah manusia diuji. Bukan tentang seberapa lama mampu memiliki, melainkan seberapa lapang ia sanggup merelakan. Orang Jawa menyebutnya legowo—sebuah kebesaran hati yang lahir bukan karena tidak merasa kehilangan, tetapi karena memahami bahwa segala sesuatu hanyalah titipan. Datang dengan izin-Nya, pergi pun atas kehendak-Nya.

Legowo bukan berarti hati menjadi beku atau kenangan ikut menghilang. Legowo adalah kemampuan untuk mengubah luka menjadi hikmah, mengubah air mata menjadi doa, dan mengubah kehilangan menjadi ruang bagi pertumbuhan jiwa. Sebab setiap orang yang pernah singgah sesungguhnya sedang memahat karakter kita, sedikit demi sedikit, hingga tanpa sadar membentuk siapa diri kita hari ini.

Bukankah daun yang gugur bukan tanda pohon mati? Ia hanya sedang memberi kesempatan bagi tunas baru untuk tumbuh. Demikian pula kehidupan. Ada orang-orang yang harus pergi agar ruang hati kita cukup lapang menerima pelajaran, pengalaman, dan perjumpaan baru yang telah disiapkan oleh Sang Maha Pengatur.

Maka, ketika tiba saatnya sebuah perjumpaan berubah menjadi perpisahan, jangan buru-buru mengutuk keadaan. Tataplah kepergian itu sebagaimana matahari memandang senja: bukan sebagai akhir dari cahaya, melainkan janji bahwa fajar akan kembali datang. Ucapkan terima kasih kepada setiap jiwa yang pernah singgah, karena mereka telah menyumbangkan warna pada kanvas kehidupan yang sedang kita lukis.

Pada akhirnya, hidup memang hanyalah tamasya singkat di bumi. Tidak ada yang benar-benar kita miliki, termasuk mereka yang paling kita cintai. Semua hanya dipinjamkan untuk waktu yang telah ditentukan. Dan ketika masa pinjam itu usai, barangkali bentuk cinta yang paling dewasa bukanlah mempertahankan dengan segala cara, melainkan mengantar kepergian dengan doa, senyum, dan hati yang legowo.

Sebab ada kalanya, melepaskan bukan berarti kehilangan. Melepaskan adalah cara jiwa menghormati takdir, sekaligus mempercayai bahwa setiap pertemuan dan perpisahan selalu membawa rahmat yang mungkin baru kita pahami setelah waktu berjalan jauh meninggalkan hari ini. (Cha)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments