Kepala SMK Pelayaran Kartasura, Benih Toto Laksono, S.Pd, mengatakan kegiatan tersebut wajib diikuti seluruh calon taruna sebagai upaya menanamkan kedisiplinan sejak dini.
“Kegiatan ini wajib diikuti para calon taruna agar dalam kehidupan pendidikan mereka memahami dan mengerti arti disiplin. Kelak, mereka akan bekerja di dunia pelayaran yang membutuhkan kedisiplinan tingkat tinggi,” kata Benih.
Selama dua hari pertama, para calon taruna mengikuti latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB). Materi yang diberikan meliputi lencang kanan dan kiri, berhitung, penghormatan, defile, serta tata upacara bendera dengan formasi barisan dan formasi huruf “L”.
Latihan tersebut tidak hanya ditujukan untuk melatih kemampuan baris-berbaris, tetapi juga membentuk kekompakan, kepatuhan terhadap instruksi, konsentrasi, dan kemampuan bekerja dalam satu kesatuan.

Memasuki hari ketiga, para calon taruna mengikuti longmarch sejauh sekitar 15 kilometer. Rute yang dilalui bervariasi, mulai dari sungai, parit, hingga area persawahan. Peserta juga mendapatkan materi penyamaran muka sebelum mengikuti upacara penutupan di halaman sekolah.
Seluruh rangkaian latihan dikomandoi Mayor (Purn) Kopassus Sutarjo dengan didampingi Sertu Sularno dari AAL dan empat personel Koramil Kartasura.
Sutarjo mengatakan latihan tersebut dirancang untuk membiasakan calon taruna menerapkan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak sebelum dilantik menjadi taruna harus sudah menguasai PBB. Dalam kehidupan pendidikan nantinya, kedisiplinan menjadi napas mereka sehari-hari, baik saat datang ke sekolah, mengikuti pembelajaran di kelas, maupun saat apel pulang sekolah,” ujar Sutarjo.
Kegiatan Diksatar ditutup dengan upacara resmi pada Sabtu (18/7/2026) pukul 12.30 WIB. Kepala SMK Pelayaran Kartasura bertindak sebagai inspektur upacara.
Dalam amanatnya, Benih mengatakan seluruh calon taruna telah menjalani serangkaian kegiatan yang menguji kemampuan fisik, mental, dan kekompakan.
“Kalian telah melaksanakan kegiatan Diksatar dengan penuh semangat. Kalian telah ditempa untuk menguji fisik, mental, dan kekompakan sebagai calon taruna. Keringat, rasa lelah, dan rasa sakit yang kalian rasakan selama mengikuti Diksatar merupakan bagian dari ujian mental untuk membentuk calon taruna yang memiliki rasa tanggung jawab dan kedisiplinan,” kata Benih.

Ia kemudian mengucapkan selamat kepada para peserta yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan Diksatar.
“Saya ucapkan selamat kepada kalian yang telah menyelesaikan kegiatan Diksatar dan menjadi calon taruna,” ujarnya.
Salah seorang calon taruna, Afdan Aditama, siswa lulusan SMP Negeri 20 Surakarta, mengatakan dirinya memilih melanjutkan pendidikan di SMK Pelayaran Kartasura karena ingin menjadi pelaut. Keinginan tersebut, kata dia, telah muncul sejak kecil.
“Saya ingin menjadi pelaut. Keinginan itu sudah ada sejak saya masih kecil,” kata Afdan.
Sementara itu, Eri, lulusan SMP Islam Arrohmah, Suruh, Kabupaten Semarang, mengaku awalnya mendapat tawaran dari saudaranya untuk melanjutkan pendidikan di SMK Pelayaran Kartasura.
Menurut Eri, profesi pelaut menjadi salah satu pilihan masa depannya. Ia juga mengaku menikmati seluruh rangkaian kegiatan Diksatar, termasuk longmarch sejauh 15 kilometer yang menjadi bagian dari latihan ketahanan fisik.
“Saya menjalani kegiatan Diksatar dengan senang hati. Apalagi saat penutupan ada longmarch sejauh 15 kilometer. Bagi saya, longmarch itu asyik,” kata Eri.(Mac)

