LESINDO.COM – Oleh siapa pun yang memandang dari langit, Indonesia tampak seperti negeri yang seharusnya diberkahi tanpa akhir. Gugusan pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke itu menyimpan tanah subur, hutan tropis, laut yang kaya, dan perut bumi yang penuh mineral. Matahari bersinar hampir sepanjang tahun. Hujan turun dengan cukup. Alam seolah telah menyediakan segala syarat bagi kemakmuran.
Namun pertanyaan itu terus berulang dari generasi ke generasi: mengapa negeri yang begitu kaya belum juga sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyatnya?
Pertanyaan itu bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kecintaan. Sebab hanya orang yang mencintai negerinya yang akan merasa gelisah ketika melihat potensi besar berjalan beriringan dengan berbagai persoalan yang tak kunjung usai.
Banyak orang menunjuk pengelolaan sebagai akar masalah. Kekayaan alam yang melimpah sering kali lebih banyak menjadi rebutan daripada menjadi sarana kesejahteraan bersama. Di berbagai masa, sumber daya yang seharusnya menjadi berkah justru berubah menjadi arena perebutan pengaruh, jabatan, dan kepentingan.
Ironisnya, negeri yang dianugerahi lumbung kekayaan kadang masih menyaksikan sebagian rakyatnya berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Seperti pepatah lama, ayam mati di lumbung padi—sebuah gambaran yang terasa pahit sekaligus menyentak kesadaran.
Namun persoalan Indonesia sesungguhnya tidak hanya terletak pada kekayaan alam. Sejarah menunjukkan bahwa tantangan terbesar sering kali justru berasal dari manusia itu sendiri. Dari zaman kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, dari Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, hingga Mataram, kisah tentang perebutan kekuasaan hampir selalu menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Intrik, persaingan, pengkhianatan, dan perebutan pengaruh bukanlah cerita baru.
Sejarah seakan mengajarkan bahwa kekuasaan memiliki daya tarik yang mampu membuat manusia lupa pada tujuan awalnya. Ketika kekuasaan menjadi tujuan, kepentingan rakyat sering tersingkir ke pinggir. Ketika jabatan menjadi alat pengabdian, bangsa bergerak maju. Tetapi ketika jabatan berubah menjadi alat mempertahankan privilese, konflik akan selalu menemukan jalannya.
Di tengah kenyataan itu, masyarakat sering berharap hadirnya sosok-sosok baik yang mampu membawa perubahan. Namun jalan lurus tidak selalu menjadi jalan yang mudah. Mereka yang mencoba memperjuangkan transparansi, keadilan, dan kepentingan publik kerap berhadapan dengan berbagai kepentingan yang sudah mengakar. Tidak jarang, niat baik justru berhadapan dengan perlawanan yang besar.
Meski demikian, menyalahkan segelintir orang saja tentu tidak cukup. Sebab bangsa bukan hanya dibentuk oleh para pemimpinnya, melainkan juga oleh karakter masyarakatnya. Di sinilah refleksi yang lebih dalam perlu dilakukan.
Indonesia adalah salah satu negara dengan kehidupan beragama yang sangat kuat. Rumah-rumah ibadah berdiri di berbagai penjuru negeri. Hari-hari besar keagamaan dirayakan dengan meriah. Tetapi sejarah manusia menunjukkan bahwa banyaknya ritual belum tentu berbanding lurus dengan kualitas akhlak.
Agama pada dasarnya adalah kompas moral. Ia mengajarkan kejujuran, kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab. Namun ketika agama berhenti pada identitas dan simbol, sementara nilai-nilainya tidak meresap ke dalam perilaku, maka yang lahir hanyalah kesalehan yang tampak di permukaan.
Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi masih gemar menipu. Bisa fasih berbicara tentang kebaikan, tetapi mudah mencela sesama. Bisa mengatasnamakan Tuhan, tetapi kehilangan rasa kemanusiaan. Karena itu, mayoritas beragama tidak otomatis menjamin hadirnya masyarakat yang baik. Yang menentukan bukan seberapa sering ajaran itu diucapkan, melainkan seberapa jauh ia diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
Lalu, kapan Indonesia bisa damai dan tenang?
Mungkin jawabannya bukan ketika seluruh konflik menghilang. Sebab tidak ada bangsa yang benar-benar bebas dari perbedaan kepentingan. Kedamaian lahir ketika perbedaan tidak lagi berubah menjadi permusuhan. Ketika kekuasaan dipandang sebagai amanah, bukan warisan yang harus dipertahankan dengan segala cara. Ketika hukum berdiri di atas semua golongan. Ketika agama melahirkan kebijaksanaan, bukan sekadar kebanggaan identitas.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Indonesia juga tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kali kurang adalah kemampuan untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
Pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak hanya ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi juga oleh jutaan rakyat yang setiap hari memilih antara kejujuran atau kecurangan, antara kepedulian atau ketidakpedulian, antara persaudaraan atau permusuhan.
Barangkali damai dan tenang bukanlah sesuatu yang akan datang dari langit sebagai hadiah. Ia harus dibangun perlahan, dari karakter manusia yang hidup di dalamnya.
Sebab negeri ini sesungguhnya telah memiliki hampir semua syarat untuk menjadi besar. Yang masih terus diperjuangkan adalah syarat yang paling sulit: kemenangan manusia atas keserakahan dirinya sendiri. Ketika itu tercapai, Indonesia tidak hanya akan menjadi negeri yang kaya raya, tetapi juga rumah yang damai bagi seluruh anak bangsanya. (Rai)

