LESINDO.COM – Malam perlahan turun di pesisir Jimbaran. Langit yang semula jingga berubah menjadi kelam, sementara cahaya lampu-lampu restoran berjejer memantul di permukaan laut. Aroma ikan bakar memenuhi udara, bercampur suara ombak yang datang dan pergi tanpa lelah. Wisatawan berdatangan, memilih meja-meja yang menghadap laut untuk menikmati makan malam dengan hidangan laut yang tersaji mewah.
Namun, beberapa langkah dari deretan restoran itu, ada kehidupan lain yang nyaris luput dari perhatian.
Seorang lelaki duduk di samping tungku sederhana. Di atas bara arang, empat atau lima tongkol jagung tersusun rapi. Dengan kipas anyaman bambu di tangannya, ia mengipasi bara perlahan. Tidak terburu-buru, tidak pula gelisah. Gerakannya tenang, seolah sudah menyatu dengan ritme malam dan desir angin pantai.
Tidak banyak orang yang berhenti membeli.
Kadang satu orang. Kadang dua. Bahkan ada malam ketika cukup lama ia hanya ditemani bara yang terus menyala.
Namun ia tetap mengipasi arang.
Barangkali hidup memang tidak selalu memberi pilihan yang luas kepada setiap orang.
Ada mereka yang sekolah hanya sampai jenjang SMP karena keadaan. Ada yang tidak memiliki ijazah cukup tinggi, tidak mempunyai keahlian khusus, tidak memiliki modal untuk membuka usaha besar. Pilihan pekerjaan pun menjadi terbatas. Bukan karena tidak mau bermimpi, tetapi karena hidup memintanya lebih dahulu untuk bertahan.
Pada titik itu, bertahan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keberanian.
Lelaki penjual jagung itu mungkin tidak pernah membaca buku-buku motivasi. Ia juga tidak mengenal istilah growth mindset, strategi bisnis, atau teori kewirausahaan. Yang ia tahu hanyalah satu hal sederhana: selama tubuh masih sehat dan bara masih bisa dinyalakan, selalu ada kemungkinan rezeki datang.
Mungkin sedikit.
Tetapi tetap datang.
Saya sempat bertanya kepadanya, apakah ia tidak merasa kecil berjualan di antara restoran-restoran besar yang setiap malam dipenuhi pengunjung.
Ia tersenyum.
“Tidak.”
Jawabannya singkat.
Menurutnya, setiap orang sudah memiliki jalannya masing-masing.
Restoran memang memperoleh pendapatan jauh lebih besar. Namun mereka juga memiliki biaya yang besar. Ada puluhan karyawan yang harus digaji, listrik, perawatan bangunan, bahan baku, hingga berbagai kebutuhan operasional lain.
“Saya hanya mikir diri saya sendiri,” katanya pelan.
Kalimat itu terdengar sangat sederhana.
Tetapi justru di situlah letak kebijaksanaannya.
Hari ini banyak orang mengukur hidup melalui apa yang dimiliki orang lain. Pendapatan dibandingkan, kendaraan dibandingkan, rumah dibandingkan, bahkan kebahagiaan pun dibandingkan.
Akibatnya, hidup terasa selalu kurang.
Padahal, belum tentu beban yang dipikul orang lain sanggup kita pikul.
Penjual jagung itu seolah sedang mengajarkan satu pelajaran yang sering terlupakan: jangan menghitung rezeki orang lain sebelum selesai menghitung kebutuhan diri sendiri.
Sering kali kita hanya melihat ombak yang tenang di permukaan, tanpa mengetahui deras arus di bawahnya.
Kita melihat restoran yang ramai, tetapi tidak melihat biaya yang harus mereka keluarkan setiap hari.
Kita melihat seseorang berhasil, tetapi tidak melihat berapa banyak malam yang ia korbankan.
Kita melihat hasil, tetapi lupa menghargai proses.
Sesungguhnya hidup bukan perlombaan untuk menjadi paling besar.
Bukan pula perlombaan agar terlihat paling berhasil.
Hidup adalah tentang menemukan ruang di mana kita dapat bekerja dengan jujur, menerima dengan lapang, dan tetap bersyukur tanpa kehilangan martabat.
Penjual jagung itu tidak iri.
Ia juga tidak merasa gagal hanya karena dagangannya tidak seramai restoran di sebelahnya.
Ia memahami bahwa rezeki bukan soal siapa yang paling banyak menerima, melainkan siapa yang paling siap mensyukuri apa yang datang.
Barangkali itulah sebabnya wajahnya tampak lebih tenang daripada sebagian orang yang setiap hari mengejar angka demi angka.
Malam semakin larut.
Bara arang masih menyala merah.
Sesekali terdengar suara jagung yang meletup pelan ketika mentega menyentuh panasnya arang.
Seorang wisatawan datang, membeli dua tongkol jagung, lalu berjalan kembali ke bibir pantai.
Penjual itu tersenyum.
Bukan senyum karena dagangannya laris, melainkan senyum seseorang yang percaya bahwa setiap ikhtiar, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia.
Dari lelaki sederhana di tepi Pantai Jimbaran itu saya belajar bahwa hidup tidak selalu menuntut kita menjadi besar. Kadang, hidup hanya meminta kita tetap setia menyalakan bara harapan, mengipasinya dengan kesabaran, lalu percaya bahwa Tuhan tidak pernah salah membagikan rezeki.
Sebab pada akhirnya, bukan besarnya penghasilan yang paling menentukan ketenangan seseorang, melainkan kecil atau besarnya rasa syukur yang tinggal di dalam hatinya. (Ren)

