Oleh : Niti Sastro
LESINDO.COM – Dunia sedang berubah arah dengan sangat cepat. Peta geopolitik yang dahulu tampak stabil kini bergeser seperti lempeng bumi yang bergerak diam-diam namun mematikan. Perang terbuka pecah di berbagai kawasan, blok-blok kekuatan global kembali saling mencurigai, ekonomi dijadikan senjata politik, dan teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kedewasaan moral manusia mengendalikannya.
Di tengah situasi itu, ada satu hal yang mulai tampak semakin jelas: banyak pemimpin dunia hari ini lebih sibuk mempertahankan kekuasaan daripada menjaga keadilan.
Kita hidup pada zaman ketika demokrasi masih dipidatokan, tetapi kritik dibatasi secara halus. Ketika kebebasan masih dipamerkan di panggung internasional, namun suara rakyat kecil perlahan kehilangan ruang untuk benar-benar didengar. Dunia modern seakan memasuki babak baru: kekuasaan yang tampil demokratis di permukaan, tetapi semakin otoriter dalam praktik keseharian.
Dan sejarah menunjukkan, setiap zaman yang mulai menjauh dari keadilan sebenarnya sedang menghitung mundur kehancurannya sendiri.
Dunia yang Kian Tegang
Perang Rusia-Ukraina belum benar-benar menemukan ujungnya. Konflik di Timur Tengah terus melahirkan gelombang kemanusiaan yang memilukan. Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok tidak lagi sekadar perang dagang, melainkan perebutan pengaruh global yang menjalar ke teknologi, energi, pangan, bahkan kecerdasan buatan.
Di Asia, Laut Cina Selatan tetap menjadi bara yang sewaktu-waktu dapat menyala. Di Eropa, krisis energi dan migrasi mengubah wajah politik domestik. Sementara di banyak negara berkembang, rakyat menghadapi tekanan hidup akibat inflasi, PHK, kenaikan harga pangan, dan ketidakpastian ekonomi global.
Namun ironisnya, di tengah kegelisahan rakyat yang semakin nyata, banyak elite justru sibuk membangun citra, memperkuat lingkar kekuasaan, dan mengamankan kepentingan kelompoknya masing-masing.
Inilah titik paling berbahaya dalam sejarah sebuah bangsa maupun peradaban: ketika penguasa mulai kehilangan kepekaan terhadap rasa sakit rakyatnya sendiri.
Ketika Kekuasaan Tidak Lagi Mendengar
Kehancuran sebuah rezim atau kepemimpinan modern tidak selalu dimulai dengan demonstrasi besar atau dentuman senjata. Ia sering lahir dari sesuatu yang tampak sepele: hilangnya kepercayaan publik sedikit demi sedikit.
Rakyat mungkin masih diam, tetapi diam bukan berarti percaya.
Di era digital hari ini, ketidakadilan tidak lagi tersembunyi seperti zaman dahulu. Satu keputusan yang dianggap memihak elite dapat tersebar dalam hitungan detik. Satu tindakan represif dapat direkam, dipotong, lalu menjadi bara kemarahan kolektif di media sosial.
Teknologi yang awalnya diciptakan untuk memperkuat kekuasaan justru berubah menjadi cermin raksasa yang memantulkan semua luka sosial ke hadapan dunia.
Karena itu, pemimpin masa kini sesungguhnya tidak hanya berhadapan dengan oposisi politik, tetapi juga dengan kesadaran publik yang semakin sulit dibohongi.
Ketika hukum terasa tajam kepada rakyat kecil namun lunak kepada pemilik kuasa dan modal, maka yang runtuh pertama kali bukan gedung pemerintahan, melainkan legitimasi moral penguasanya.
Dan bila legitimasi moral sudah hilang, kekuasaan tinggal menunggu waktu untuk kehilangan wibawanya.
Geopolitik Baru: Kekuatan Tanpa Nurani
Perubahan geopolitik global hari ini juga memperlihatkan kenyataan lain yang mengkhawatirkan: dunia mulai kembali memuliakan kekuatan dibanding kebijaksanaan.
Negara-negara berlomba memperbesar anggaran militer. Teknologi kecerdasan buatan dikembangkan untuk kepentingan pertahanan dan pengawasan massal. Informasi dipakai sebagai alat propaganda. Bahkan pangan dan energi kini dapat dijadikan alat tekanan politik internasional.
Dunia seperti sedang bergerak menuju zaman baru yang dingin—bukan sekadar perang senjata, melainkan perang pengaruh, perang data, dan perang persepsi.
Dalam situasi seperti ini, banyak pemimpin tergoda menggunakan rasa takut sebagai alat mengendalikan rakyat. Ketakutan menjadi instrumen politik paling murah sekaligus paling efektif.
Rakyat yang takut akan lebih mudah diatur.
Rakyat yang lelah akan lebih mudah dibungkam.
Dan rakyat yang terpecah akan sulit bersatu melawan ketidakadilan.
Namun sejarah juga menunjukkan: kekuasaan yang bertahan dengan rasa takut biasanya hanya tampak kuat di permukaan. Di dalamnya, ia rapuh dan penuh retakan.
Hukum Alam Kekuasaan
Dalam falsafah Jawa, ada keyakinan bahwa kehidupan berjalan mengikuti “hukum kasunyatan”—hukum keseimbangan semesta. Ketika seorang pemimpin terlalu jauh melenceng dari rasa adil, semesta akan mencari jalannya sendiri untuk mengoreksi keadaan.
Kadang koreksi itu datang lewat krisis ekonomi.
Kadang lewat perpecahan internal.
Kadang lewat suara rakyat yang lama dipendam.
Dan kadang melalui tokoh-tokoh baru yang lahir dari penderitaan zaman.
Sejarah Nusantara maupun dunia berkali-kali memperlihatkan pola yang sama: kekuasaan runtuh bukan saat musuh datang dari luar, tetapi ketika kebusukan di dalam sudah terlalu lama dibiarkan tumbuh.
Karena sejatinya, keadilan bukan hanya urusan hukum dan politik. Ia adalah energi yang menjaga hubungan antara pemimpin dan rakyat tetap hidup.
Saat hubungan itu putus, sebuah bangsa hanya tinggal menunggu badai.
Menunggu Fajar atau Menunggu Runtuh
Hari ini dunia memang belum runtuh. Gedung-gedung pemerintahan masih berdiri. Pasar saham masih bergerak. Para pemimpin masih berpidato di panggung internasional dengan jas rapi dan senyum diplomatis.
Tetapi sejarah mengajarkan bahwa keruntuhan besar sering kali dimulai justru ketika semuanya tampak masih baik-baik saja.
Maka pertanyaan terpenting bagi zaman ini bukan lagi siapa negara paling kuat atau siapa pemimpin paling berpengaruh.
Melainkan:
masih adakah keadilan dijaga di tengah perebutan kekuasaan global yang semakin bising?
Sebab apabila keadilan benar-benar disingkirkan demi ambisi politik, ekonomi, dan dominasi dunia, maka umat manusia sebenarnya tidak sedang berjalan menuju kemajuan.
Kita hanya sedang menghitung mundur kehancuran dengan teknologi yang lebih modern.

