spot_img
BerandaJelajahTak Harus Terbang untuk Menikmati Langit

Tak Harus Terbang untuk Menikmati Langit

Ia tidak selalu dibeli dengan tiket wisata, kendaraan mewah, atau keberanian menaklukkan ketinggian. Kadang-kadang, kebahagiaan justru lahir ketika kita menerima diri sendiri apa adanya dan menemukan tempat yang paling nyaman untuk menjadi diri kita.

Oleh : Redaksi

LESINDO.COM – Di sebuah kawasan wisata di lereng gunung, orang-orang mengantre untuk menyeberangi jembatan kaca. Ada yang tertawa lepas, ada yang saling menggenggam tangan karena gugup, ada pula yang sibuk mengabadikan setiap langkah dengan telepon genggam. Tak jauh dari sana, beberapa wisatawan bersiap mengenakan perlengkapan paralayang. Wajah mereka memancarkan semangat dan rasa penasaran sebelum melayang di atas hamparan hijau kebun teh yang membentang luas.

Saya hanya berdiri di tepi.

Bukan karena tidak mampu membeli tiket. Bahkan, andaikata tiket itu diberikan secara cuma-cuma, besar kemungkinan saya tetap menolaknya. Saya memiliki fobia terhadap ketinggian.

Jembatan kaca itu sebenarnya dirancang sangat aman. Ketebalan kacanya sekitar tiga sentimeter, mampu menopang beban puluhan orang sekaligus. Namun rasa aman di atas kertas tidak selalu mampu mengalahkan rasa takut di dalam dada. Terlebih jembatan itu berada pada ketinggian sekitar 15 hingga 38 meter dari permukaan tanah, setara dengan gedung lima hingga tiga belas lantai. Membayangkan harus melihat ke bawah dari ketinggian itu saja sudah membuat lutut terasa lemas. Mungkin lain cerita jika saya bisa berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke bawah.

Akal sehat saya memahami bahwa jembatan itu aman. Namun rasa takut sering kali tidak tunduk pada logika.

Begitu pula dengan paralayang.

Membayangkan tubuh melayang di angkasa sudah cukup membuat jantung berdebar lebih cepat. Kalau ada yang berkata, “Ayo, gratis!” mungkin saya akan menjawab sambil tertawa, “Uangnya saja boleh saya bawa pulang?”

Bukan karena saya tidak menghargai pengalaman itu, melainkan karena saya mengenal batas diri sendiri.

Dulu saya sempat berpikir bahwa kebahagiaan harus diraih dengan cara yang sama seperti orang lain. Jika orang lain tersenyum puas setelah melayang di langit, saya pun harus mencobanya. Jika orang lain merasa bangga berhasil menyeberangi jembatan kaca, saya juga harus mampu.

Ternyata saya keliru.

Kebahagiaan tidak pernah memiliki satu wajah yang sama. Ia hadir dengan cara yang berbeda bagi setiap orang.

“Sebab setiap orang memiliki jalan pulang menuju kebahagiaannya masing-masing.”

Saat orang lain melangkah di atas jembatan kaca, saya justru merasa bahagia berdiri di pinggir sambil mengeluarkan kamera berlensa tele. Dari kejauhan saya memburu momen-momen yang tak direkayasa: tawa yang meledak spontan, wajah tegang yang perlahan berubah lega, anak kecil yang memeluk ayahnya karena takut, hingga sepasang lansia yang saling menggenggam tangan ketika melangkah perlahan.

Semuanya adalah cerita.

Saya memang tidak berada di tengah-tengah mereka, tetapi saya ikut menikmati kebahagiaan itu melalui jendela kecil bernama lensa kamera.

Begitu pula ketika para penerbang mulai mengudara. Saya tidak pernah iri melihat mereka melayang di langit. Sebaliknya, saya sibuk mencari sudut terbaik untuk membingkai parasut yang berwarna-warni dengan latar hamparan kebun teh dan langit biru. Ketika berhasil mendapatkan satu foto dengan komposisi yang pas, cahaya yang indah, dan ekspresi yang alami, di situlah kebahagiaan saya lahir.

Saya tidak harus terbang untuk merasakan indahnya langit.

Saya cukup menjadi orang yang mengabadikan kebahagiaan mereka.

Barangkali memang begitulah hidup.

Sering kali kita tertipu oleh gambaran kebahagiaan orang lain. Media sosial membuat semuanya tampak sempurna. Seolah-olah bahagia hanya dimiliki mereka yang berani mencoba hal-hal ekstrem, mampu bepergian ke mana saja, atau memiliki banyak harta.

Padahal kebahagiaan bukanlah perlombaan.

Ia tidak meminta kita menjadi orang lain.

Ada orang yang bahagia karena berhasil menaklukkan rasa takut. Ada yang bahagia karena bisa melayang di udara. Ada yang bahagia karena mampu mengajak keluarga berlibur. Namun ada pula yang bahagia hanya karena berhasil menangkap senyum seseorang melalui bidikan kamera.

Semuanya sama berharganya.

Saya percaya, salah satu tanda seseorang memiliki kesehatan mental yang baik adalah mampu ikut bergembira melihat orang lain bergembira tanpa dihinggapi rasa iri. Kita tidak harus memiliki apa yang mereka miliki untuk ikut merasakan kebahagiaan itu. Cukup hadir, menyaksikan, lalu ikut bersyukur karena masih ada tawa yang terdengar di sekitar kita.

Bahagia ternyata tidak selalu mahal.

Ia tidak selalu dibeli dengan tiket wisata, kendaraan mewah, atau keberanian menaklukkan ketinggian. Kadang-kadang, kebahagiaan justru lahir ketika kita menerima diri sendiri apa adanya dan menemukan tempat yang paling nyaman untuk menjadi diri kita.

Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah soal seberapa kaya seseorang, melainkan seberapa mampu ia mensyukuri apa yang telah Tuhan titipkan dalam hidupnya.

Mungkin itulah sebabnya saya tidak pernah merasa kehilangan hanya karena tidak berjalan di atas jembatan kaca atau tidak pernah melayang dengan paralayang. Saya tetap pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: cerita yang terekam dalam ingatan, foto-foto yang menyimpan senyum banyak orang, serta keyakinan bahwa kebahagiaan tidak harus dibeli dengan keberanian ataupun kemewahan.

Sebab, bahagia tidak perlu menunggu kaya.

Bahagia dimulai ketika kita berhenti membandingkan hidup dengan orang lain, menerima keterbatasan sebagai bagian dari diri, lalu menemukan cara sendiri untuk menikmati hidup. Sebab setiap orang memiliki jalan pulang menuju kebahagiaannya masing-masing.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments