spot_img
BerandaJelajahSumeleh: Seni Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian Hidup.

Sumeleh: Seni Menemukan Ketenangan di Tengah Ketidakpastian Hidup.

Orang Jawa mengenal sikap sumeleh. Sebuah keadaan batin ketika seseorang tidak lagi memaksakan segala sesuatu harus berjalan menurut kehendaknya sendiri.

Oleh : KRT. M. Raharjo

LESINDO.COM – Tidak semua yang kita inginkan harus menjadi kenyataan. Terkadang, kehidupan justru mengajarkan kedewasaan melalui sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan.

Pagi belum sepenuhnya terang. Di sebuah rumah sederhana, seorang lelaki duduk sendirian di teras. Secangkir teh hangat berada di atas meja kecil. Sesekali ia menyeruput minumannya, kemudian memandang jalan kampung yang masih lengang.

Pikirannya rupanya belum benar-benar beristirahat. Ada pekerjaan yang belum selesai, harapan yang belum terwujud, juga beberapa persoalan keluarga yang belum menemukan jalan keluar. Semua berputar di kepala, seperti percakapan panjang yang tak kunjung selesai.

Ia pernah membayangkan kehidupan akan berjalan lebih mudah ketika usia semakin bertambah. Pengalaman dianggap cukup untuk membuat seseorang lebih tenang menghadapi persoalan. Namun kenyataan tidak selalu demikian. Semakin panjang perjalanan hidup, semakin banyak pula hal yang harus dipahami, diterima, dan terkadang diikhlaskan.

Barangkali, di situlah manusia mulai belajar bahwa ketenangan bukanlah keadaan ketika seluruh persoalan telah selesai. Ketenangan justru tumbuh ketika seseorang mampu menjaga keyakinan meskipun belum mengetahui bagaimana persoalan itu akan berakhir.

Kita sering kali terlalu sibuk mengatur kehidupan agar berjalan sesuai keinginan. Menyusun rencana, menetapkan target, menghitung kemungkinan, bahkan berharap segala sesuatu berlangsung sebagaimana yang telah dibayangkan. Ketika kenyataan melenceng sedikit saja, hati mulai gelisah.

Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang harus menerima kenyataan bahwa orang yang dicintai memilih jalan berbeda. Ada pula yang telah berusaha bertahun-tahun, tetapi hasilnya belum juga mendekati harapan.

Dalam situasi seperti itu, manusia kerap bertanya: mengapa harus terjadi sekarang? Mengapa bukan jalan yang lebih mudah? Mengapa sesuatu yang telah diperjuangkan justru tidak menjadi milik kita?

Pertanyaan-pertanyaan itu manusiawi. Sebab, kita memiliki harapan, perasaan, dan keterbatasan. Namun, tidak semua pertanyaan harus segera menemukan jawaban. Ada kalanya kehidupan meminta kita menjalani prosesnya terlebih dahulu sebelum memahami maknanya.

Tawakal Bukan Berarti Berhenti Berusaha

Dalam khazanah pemikiran Islam, Imam Al-Ghazali banyak membahas pentingnya membersihkan hati, mengendalikan keinginan, dan menempatkan kepercayaan kepada Allah dalam menjalani kehidupan.

Tawakal bukanlah sikap menyerah sebelum berjuang. Bukan pula alasan untuk berhenti bekerja, mengabaikan tanggung jawab, atau membiarkan persoalan berlalu tanpa ikhtiar.

Tawakal justru menuntut keseimbangan antara usaha manusia dan kesadaran bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah.

Kita tetap harus bekerja ketika membutuhkan penghasilan. Tetap berobat ketika tubuh sakit. Tetap memperbaiki hubungan ketika terjadi perselisihan. Tetap mencari jalan keluar ketika persoalan datang silih berganti.

Namun, setelah segala ikhtiar dilakukan, ada satu hal yang perlu disadari: manusia tidak memiliki kuasa mutlak atas hasil.

Di sinilah kedewasaan spiritual diuji. Mampukah kita menerima sesuatu yang tidak sesuai keinginan tanpa kehilangan keyakinan kepada Allah?

Sebab, terkadang kita terlalu sibuk memikirkan apa yang belum dimiliki sampai lupa mensyukuri apa yang masih berada dalam genggaman.

Kesehatan yang masih memungkinkan kita bangun pagi, keluarga yang masih dapat diajak berbincang, teman yang bersedia mendengarkan, serta kesempatan untuk memperbaiki kesalahan merupakan bentuk rezeki yang sering kali tidak disadari.

Kita kerap mengukur keberhasilan dari pencapaian yang terlihat. Padahal, kehidupan yang tenang, hati yang tidak dipenuhi iri, dan kemampuan menerima kenyataan juga merupakan kekayaan yang tidak selalu dapat dinilai dengan materi.

Tidak Semua Kehilangan Berarti Keburukan

Ada fase ketika seseorang harus belajar melepaskan sesuatu yang selama ini diperjuangkan. Bukan karena tidak lagi menginginkannya, melainkan karena kehidupan ternyata memiliki arah yang berbeda.

Dalam budaya Jawa dikenal ungkapan sangkan paraning dumadi, sebuah pengingat bahwa manusia perlu memahami asal-usul sekaligus tujuan perjalanan hidupnya. Ada pula nasihat nrimo ing pandum yang kerap disalahpahami sebagai sikap pasrah tanpa usaha.

Padahal, menerima bukan berarti berhenti berjuang. Menerima adalah kemampuan menempatkan diri secara bijaksana setelah ikhtiar dilakukan.

Orang Jawa mengenal sikap sumeleh. Sebuah keadaan batin ketika seseorang tidak lagi memaksakan segala sesuatu harus berjalan menurut kehendaknya sendiri. Bukan kehilangan semangat, melainkan menyadari bahwa ada batas antara wilayah usaha manusia dan ketetapan Tuhan.

Barangkali kita pernah mengalami hal serupa.

Sebuah pekerjaan yang gagal diperoleh, ternyata membawa seseorang menemukan lingkungan kerja yang lebih baik. Hubungan yang kandas, perlahan mengajarkan arti menghargai diri sendiri. Rencana perjalanan yang tertunda, justru membuat seseorang memiliki waktu lebih panjang bersama keluarga.

Namun, tidak semua hikmah langsung terlihat. Ada kehilangan yang tetap menyisakan kesedihan. Ada ujian yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan. Ada pula doa yang belum menemukan jawaban sebagaimana yang kita harapkan.

Karena itu, tidak bijaksana jika kita tergesa-gesa menilai kesedihan seseorang hanya dengan kalimat, “Pasti ada hikmahnya.”

Setiap orang memiliki waktu masing-masing untuk memahami dan menerima kenyataan. Terkadang, yang dibutuhkan bukan nasihat panjang, melainkan kehadiran seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments