Oleh : Adreena AM
LESINDO.COM – Di ruang tunggu rumah sakit, seorang anak lelaki menuntun ibunya yang renta menuju ruang pemeriksaan jantung. Pemandangan sederhana itu menghadirkan rasa syukur sekaligus menyisakan pertanyaan: ketika usia menggerogoti kekuatan tubuh, siapa yang akan tetap tinggal di sisi kita?
Pagi itu, matahari seolah enggan beranjak dari persembunyiannya. Bukan karena malas menyingsing, melainkan langit yang tertutup awan membuat cahaya pagi terasa lebih redup dari biasanya. Udara masih menyimpan dingin ketika halaman depan Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) mulai dipenuhi orang-orang yang datang dengan tujuan serupa: mencari kesembuhan.
Di pintu masuk, suasana bergerak seperti pagi-pagi sebelumnya. Ada yang berjalan tergesa-gesa, ada yang berdiri kebingungan di dekat pos satpam, ada pula yang sibuk memastikan nomor antrean dan tujuan poli. Pelayanan yang terintegrasi memang memudahkan banyak urusan, tetapi bagi sebagian orang, terutama mereka yang telah lanjut usia, kebingungan kecil tetap membutuhkan uluran tangan. Seseorang yang bersedia menjelaskan, menunjukkan arah, atau sekadar menemani berjalan sering kali menjadi pertolongan yang berarti.
Di antara hilir mudik para pencari kesembuhan itu, ada yang duduk menunggu di loket pendaftaran, ada yang telah berada di depan ruang poliklinik, dan ada pula yang memilih bertahan di lobi sambil menunggu anggota keluarga menjalani pemeriksaan.
Pagi itu, perhatian saya tertuju pada seorang anak lelaki yang mengantar ibunya berobat ke poli jantung.
Usia sang ibu tampaknya telah jauh meninggalkan masa-masa ketika kedua kakinya mampu melangkah cepat. Tubuhnya tak lagi sekuat dahulu. Untuk mencapai ruang pemeriksaan, ia membutuhkan waktu dan pendampingan. Sang anak berjalan di sisinya, menyesuaikan langkah, memastikan ibunya tidak tertinggal, dan menemaninya ketika harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Tidak ada adegan luar biasa. Tidak terdengar kata-kata manis yang sengaja diucapkan untuk menarik perhatian. Tidak pula ada tindakan heroik yang mengundang tepuk tangan.
Hanya seorang anak dan ibunya.
Namun, justru dalam kesederhanaan itulah ada sesuatu yang menyentuh hati.
Sang anak tidak tampak tergesa-gesa meninggalkan ibunya. Ia hadir, menemani, dan memberikan waktu. Ketika tubuh seorang ibu mulai kehilangan kekuatan, anak yang dahulu pernah dituntunnya belajar berjalan kini mengambil alih peran itu. Tangan yang dulu menggenggam jari kecil seorang anak, bertahun-tahun kemudian mungkin harus bergantung pada tangan yang sama agar tetap tegak melangkah.
Waktu memang memiliki cara sendiri untuk membalikkan keadaan.
Dahulu, seorang ibu menggendong anaknya ketika menangis, menyuapinya ketika belum mampu makan sendiri, dan menuntunnya menyeberangi jalan. Kini, ketika usia membuat langkah sang ibu semakin pendek, anaknya yang berjalan perlahan, mengikuti irama tubuh yang mulai renta.
Saya menyaksikan pemandangan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa haru, tetapi juga rasa syukur. Sebab, tidak semua orang yang memasuki usia senja masih memiliki seseorang yang bersedia berjalan di sampingnya.
Ada kebahagiaan yang barangkali tidak bisa dibeli dengan uang: ketika seseorang yang dahulu merawat kita masih dapat kita temani; ketika di tengah sakit dan lemahnya tubuh, ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Beranda yang Perlahan Kehilangan Penghuni
Pemandangan di rumah sakit itu mengingatkan saya pada sebuah rumah sederhana di tepi jalan yang hampir setiap hari saya lalui.
Beberapa tahun lalu, rumah itu menyimpan pemandangan kecil yang terasa akrab. Di berandanya, sepasang lansia kerap terlihat duduk bersama. Sang kakek dan nenek menghabiskan waktu dengan berbincang, berbagi cerita, atau sekadar menikmati pagi. Tidak ada kemewahan yang mencolok. Barangkali hanya secangkir minuman hangat, makanan sederhana, dan percakapan tentang hal-hal sehari-hari.
Namun, bagi dua orang yang telah melewati begitu banyak musim kehidupan, kebersamaan semacam itu mungkin jauh lebih berharga daripada apa pun.
Hari demi hari, saya terbiasa melihat mereka. Pemandangan itu menjadi bagian dari perjalanan pagi, sesuatu yang nyaris tidak pernah benar-benar saya pikirkan. Sebagaimana banyak hal dalam hidup, keberadaan mereka terasa biasa karena selalu ada.
Sampai suatu ketika, pemandangan itu berubah.
Sang kakek tak lagi terlihat di beranda. Kursi yang dahulu menjadi tempatnya duduk bersama sang istri seolah kehilangan separuh ceritanya. Yang tersisa hanya sang nenek, duduk seorang diri di rumah yang sama.
Ke mana sang kakek pergi?
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Apakah ia sedang bepergian, sakit, atau telah lebih dahulu berpulang? Saya tidak mengetahui jawabannya. Saya hanya menyaksikan perubahan kecil yang perlahan menjadi semakin nyata.
Pagi-pagi berikutnya, sang nenek masih terlihat menjalani aktivitasnya. Ia menjemur pakaian, mengurus rumah, dan membersihkan bagian-bagian di sekitar tempat tinggalnya. Sesekali, ia tampak mengumpulkan nasi yang tersisa untuk dikeringkan di atas genting, sebagaimana kebiasaan sebagian orang yang berusaha tidak menyia-nyiakan makanan.
Rutinitas itu terus berlangsung. Hari berganti hari. Matahari terbit dan tenggelam. Kendaraan melintas di depan rumahnya, sementara kehidupan orang-orang di sekitarnya terus bergerak.
Di tengah semua itu, seorang perempuan tua menjalani hari-harinya tanpa sosok yang dahulu biasa menemaninya.
Saya tidak tahu bagaimana perasaannya ketika pagi datang dan tidak ada lagi teman berbagi cerita di beranda. Saya juga tidak tahu apakah ia merasa kesepian atau justru telah berdamai dengan perubahan yang tidak dapat ditolaknya. Kehidupan orang lain memang sering kali hanya tampak dari permukaan. Kita menyaksikan gerak tubuhnya, tetapi tidak selalu mengetahui apa yang disimpan hatinya.
Lalu, waktu kembali berjalan.
Rumah itu semakin jarang menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Berandanya tak lagi menghadirkan pemandangan yang sama. Bangunannya mulai tidak terawat, seolah perlahan ditinggalkan oleh waktu dan penghuninya.
Sampai suatu hari, rumah sederhana di pinggir jalan itu tidak lagi ada.
Bangunannya telah rata dengan tanah.
Tempat yang dahulu menjadi ruang percakapan dua orang lanjut usia itu kini berubah menjadi bidang kosong. Tidak ada lagi kursi di beranda, tidak ada lagi sosok nenek yang menjemur pakaian, dan tidak ada lagi aktivitas kecil yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari pemandangan pagi saya.
Ke mana perginya sang nenek?
Apakah ia telah meninggal dunia? Apakah ia tinggal bersama anak atau kerabatnya? Ataukah ia menghabiskan hari-hari terakhirnya di tempat lain?
Saya tidak mengetahui jawabannya.
Saya tidak ingin menebak-nebak akhir perjalanan hidup seseorang hanya dari rumah yang telah kosong. Namun, perubahan itu meninggalkan pertanyaan yang lebih dalam: ketika seseorang menua, ketika tubuhnya semakin lemah dan rumahnya kehilangan suara-suara yang dahulu akrab, siapa yang berada di sisinya?
Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban tergesa-gesa. Kadang-kadang, ia cukup dibiarkan tinggal di dalam hati, mengajak kita merenungkan sesuatu yang selama ini terlalu sering dianggap biasa.

