spot_img
BerandaJelajahjelajahSaat Kita Berhenti Mengendalikan Dunia

Saat Kita Berhenti Mengendalikan Dunia

Sejarah menunjukkan bahwa mereka yang bertahan bukan selalu orang yang paling kuat, melainkan mereka yang mampu berdamai dengan kenyataan tanpa kehilangan arah.

Ia tidak berteriak meminta angin berhenti. Ia tidak memaksa hujan berganti menjadi matahari. Pohon itu hanya melakukan satu hal: tetap berakar kuat, melenturkan ranting-rantingnya, dan membiarkan alam menyelesaikan pekerjaannya.

Barangkali, dari pohon itulah manusia dapat belajar tentang kehidupan.

Sebagian besar kegelisahan kita lahir bukan karena hidup terlalu berat, melainkan karena kita ingin mengendalikan sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah berada dalam genggaman.

Kita ingin semua orang memahami niat baik kita. Kita ingin setiap usaha selalu berbuah keberhasilan. Kita berharap perjalanan hidup berjalan lurus tanpa tikungan, tanpa kehilangan, tanpa air mata. Ketika kenyataan berbicara sebaliknya, kita merasa hidup sedang berlaku tidak adil.

Padahal, kehidupan tidak pernah berjanji untuk selalu mengikuti keinginan manusia.

Sejak matahari pertama kali menyinari bumi, alam telah bekerja mengikuti hukumnya sendiri. Siang berganti malam, musim datang dan pergi, air mengalir ke tempat yang rendah, dan benih memerlukan waktu sebelum berubah menjadi pohon yang mampu menaungi banyak kehidupan.

Tidak ada yang tergesa-gesa. Tidak ada yang melompat dari awal menuju akhir.

Semua bergerak mengikuti pola.

Demikian pula kehidupan manusia.

Ada peristiwa yang memang dapat kita sentuh dengan ikhtiar: belajar lebih sungguh-sungguh, bekerja lebih jujur, memperbaiki sikap, mengendalikan emosi, menjaga lisan, dan memilih untuk tetap berbuat baik meski tidak selalu dihargai.

Namun, ada pula wilayah yang sama sekali berada di luar kuasa kita: cuaca, penilaian orang lain, masa lalu, usia, kehilangan, bahkan hasil akhir dari setiap perjuangan yang telah dilakukan.

Ironisnya, justru wilayah kedua itulah yang paling sering menyita pikiran.

Berapa banyak malam yang hilang hanya karena memikirkan ucapan seseorang? Berapa banyak tenaga yang habis untuk menyesali sesuatu yang sudah berlalu? Berapa banyak kebahagiaan yang tertunda karena kita memaksa kenyataan mengikuti skenario yang kita tulis sendiri?

Padahal, hidup bukan panggung yang seluruh adegannya dapat kita sutradarai.

Kita hanyalah pemeran yang diberi kebebasan memainkan karakter sebaik mungkin, sementara alur besarnya telah bergerak menurut hukum kehidupan yang jauh lebih luas daripada kemampuan manusia untuk memahaminya.

Di sinilah letak kebijaksanaan yang sering terlambat disadari.

Mengendalikan hidup bukan berarti menguasai seluruh keadaan. Mengendalikan hidup berarti menguasai diri sendiri ketika keadaan berubah.

Ketika badai datang, kita mungkin tidak mampu menghentikan angin. Namun, kita masih bisa memilih untuk tidak membiarkan kepanikan mengambil alih kemudi.

Ketika difitnah, kita tidak dapat menghapus semua prasangka. Namun, kita tetap dapat memilih kejujuran sebagai jalan hidup.

Ketika kehilangan sesuatu yang dicintai, kita tidak sanggup memutar waktu. Namun, kita masih bisa memilih untuk bangkit dan melanjutkan perjalanan.

Pilihan-pilihan kecil itulah yang diam-diam membentuk kekuatan terbesar dalam diri manusia.

Sejarah menunjukkan bahwa mereka yang bertahan bukan selalu orang yang paling kuat, melainkan mereka yang mampu berdamai dengan kenyataan tanpa kehilangan arah.

Mereka memahami bahwa hidup memiliki irama. Ada saatnya berlari, ada saatnya berjalan perlahan. Ada musim menanam, ada musim memanen. Ada hari ketika langit begitu cerah, dan ada hari ketika mendung menggantung sejak pagi.

Tak satu pun berlangsung selamanya.

Karena itu, kebahagiaan sejati mungkin bukan ketika semua keinginan terpenuhi, melainkan ketika hati tidak lagi bertengkar dengan kenyataan.

Saat itulah kita mulai menyadari bahwa ketenangan bukan hadiah dari dunia luar. Ia tumbuh dari cara kita memandang dunia.

Kita memang tidak dapat mengendalikan semua peristiwa yang datang menghampiri. Namun, kita selalu memiliki kebebasan untuk mengendalikan pikiran, sikap, dan persepsi terhadap setiap peristiwa itu.

Dan boleh jadi, justru di sanalah letak kemerdekaan manusia yang paling hakiki.

Sebab dunia akan terus berubah, zaman akan terus bergerak, dan hidup akan selalu menghadirkan kejutan. Namun, selama hati tetap mampu menjadi nahkoda bagi dirinya sendiri, setiap badai hanya akan menjadi bagian dari perjalanan, bukan akhir dari pelayaran.(Dea)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments