Rumah Jawa bentuk Limasan Pendopo proses finishing memiliki kesan aura dingin. Mac-Lesindo

LESINDO.COM-Rumah adat Jawa ada beberapa macam ragamnya mulai adat Jawa Badui, Kebaya, Kasepuh, Joglo. Namun yang  kita kenal secara umum untuk kalangan masyarakat hanya rumah Joglo maupun Limasan.  Masih sering kita jumpai beberapa rumah ada Jawa diseputaran Solo Raya terutama Limasan di daerah pinggiran dan desa, sedangkan rumah Joglo biasanya di beberapa daerah pinggiran sebagai tempat Balai Desa. Namun sekarang sudah mulai berubah seiring perkembangan banyak rumah adat Jawa  sudah berubah bentuk bangunan megah dari bahan bata.

Sarimin dan team lagi proses pemasangan gebyok di salah satu konsumen. Mac-Lesindo

Beberapa tahun sekarang ini rumah Jawa yang menggunakan bahan kayu mulai lagi ngetrend dan kembali hidup di tengah-tengah kota. Rumah Jawa dengan sentuhan tangan-tangan terampil menjadi lebih unik, banyak para kolektor memburu rumah Jawa baik Joglo maupun Limasan untuk pesanan bagi orang-orang cukup memiliki uang, baik sebagai rumah hunian atau rumah sebagai pajangan dekorasi untuk di seputar Solo Raya rumah etnik Jawa digunakan sebagai tampilan depan warung atau rumah makan dari kelas hik wedangan, caffe dari kelas menengah  hingga kelas perhotelan bintang.  Saat ini rumah Jawa harganya cukup lumayan tinggi, kisaran 80 juta hingga milyaran. Beberapa kalangan orang tertentu sudah mulai beralih dari rumah megah maupun minimalis dan mulai berganti rumah Jawa klasik  yang bahannya  dari kayu jati lawas/kuno.

Sarimin adalah salah satu pemain rumah Jawa Kuno Klasik. Sarimin sendiri merekomendasikan para pelanggannya untuk menggunakan bahan kayu jati pilihan terutama kayu yang sudah tua atau jati lawas/lama.  Pengusaha kayu yang berasal dari Gayaman Dayu Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar bermain rumah etik Jawa klasik Limasan maupun Joglo sudah malang melintang diperkayuan terutama asesoris rumah etnik Jawa terutama jual beli gebyok maupun patangaring mengeluti sudah cukup lama kurang lebih 5 tahun.

Dari beberapa sumber para pemain rumah klasik, kalangan orang tertentu membangun rumah  ke arah rumah klasik, karena rumah etnik Jawa baik Limasan maupun Joglo punya kesan tersendiri terutama dalam aura rumah itu, bagi penghuninya merasakan hawa yang lebih dingin / adem dan orang lain yang melihatnya juga punya kesan tersendiri.

“Ada teman seorang mekanik pemborong swalayan area Jogja,  akhirnya dapat relasi dan di kenalkan dengan beberapa penggemar rumah etnik Jawa. Saat ini sudah ada ratusan untuk nyeting rumah Limasan / Joglo  meliputi wilayah Solo Raya, Bantul Jogja, Magetan, Temanggung”, jelas Sarimin kelahiran 1978.

Lebih lanjut Sarimin yang hanya sempat mengeyam pendidikan SMP karena keadaan orang tua mengatakan,   sudah tidak terhitung jumlah jenis gebyok yang diperjual belikan, sedangkan untuk gebyok yang di jual kepada konsumen sudah mulai finishing, dibersihkan di cuci dengan beberapa tahap, di amplas lagi dan  direnovasi jika ada kerusakan. “Untuk satu  lembar gebyok proses pembersihan perapian service dibutuhkan waktu kurang lebih 2 hari, gebyok baru kelihatan lebih bagus dan jika dilihat konsumen banyak yang tertarik, beda dengan gebyok  di jual apa adanya.  Kalau gebyok sudah proses finishing konsumen tinggal pasang tidak lagi membutuhkan perbaikan dan konsumen lebih irit ongkos perbaikan”, Jelas bapak 3 anak.

Kalau para pemain kayu lama terutama gebyok se Solo Raya sudah tahu kalau harga gebyok Sarimin agak sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan  yang lainnya, tapi konsumen akan lebih tertarik dan senang melihat barang gebyok yang sudah siap pasang.

Kelebihan rumah Jawa kalau terjadi bencana gempa masih bisa dipergunakan dari sisi kayu baik gebyoknya. “Paling kalau ada kerusakan diperbaiki di poles lagi, coba rumah permanen kalau sudah terkena gempa hancur tinggal puing-puing dan hanya sekali pakai”, papar Sarimin mengakhiri bincang-bincang dengan team Lesindo. (Adrena)