spot_img
BerandaJelajahRahayu, Menjaga Api Pendidikan Tetap Menyala

Rahayu, Menjaga Api Pendidikan Tetap Menyala

Ia adalah Dra. Rahayu, M.Pd.

Bagi Rahayu, sekolah bukan sekadar gedung tempat guru mengajar dan murid menerima pelajaran. Sekolah adalah ruang kehidupan. Di dalamnya ada pengetahuan, karakter, harapan, sekaligus masa depan anak-anak yang sedang tumbuh.

Pandangan itulah yang menemani perjalanan Rahayu selama lebih dari dua dekade mengabdikan diri di dunia pendidikan.

Perjalanannya tidak selalu berada di balik meja kepala sekolah. Ia pernah berdiri di depan kelas sebagai guru, menjadi Guru Inti yang menjadi rujukan rekan sejawat, mendampingi guru melalui berbagai program pengembangan profesional, hingga dipercaya memimpin sekolah.

Kini, sejak 2022, ia mengemban amanah sebagai Kepala SD Negeri Pucangan 04.

Namun, jabatan kepala sekolah baginya bukan garis akhir. Justru dari posisi itu, ruang pengabdiannya menjadi semakin luas.

Berawal dari Ruang Kelas

Sebelum berbicara tentang manajemen sekolah, Rahayu lebih dahulu mengenal pendidikan dari tempat paling dekat dengan peserta didik: ruang kelas.

Sebagai guru di SD Negeri Makamhaji 03 sejak 2005 hingga 2018, ia menjalani hari-hari bersama peserta didik. Mengajar, mengamati perkembangan mereka, mencari cara agar pelajaran lebih mudah dipahami, dan menghadapi beragam karakter anak menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya.

Pengalaman di ruang kelas itu pula yang membentuk cara pandangnya sebagai pendidik.

Ia tidak ingin guru hanya menjadi penyampai materi. Guru, menurutnya, harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang membuat anak merasa terlibat.

Komitmen tersebut membawanya dipercaya sebagai Guru Inti. Peran itu membuat Rahayu tidak hanya mengajar peserta didik, tetapi juga berbagi pengalaman dengan guru-guru lain melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG).

Tahun 2011 menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan tersebut. Ia meraih penghargaan Guru Berprestasi Tingkat Kecamatan.

Penghargaan itu bukan sekadar sebuah piagam. Ada proses panjang di belakangnya—pengabdian di kelas, pengembangan kompetensi, dan kemauan untuk terus belajar.

Ketika Guru Berubah Menjadi Pemimpin

Pada 2018, perjalanan Rahayu memasuki babak baru. Ia dipercaya memimpin SD Negeri Makamhaji 05.

Perubahan posisi dari guru menjadi kepala sekolah membawa konsekuensi yang lebih luas. Jika sebelumnya perhatian utama tertuju pada perkembangan peserta didik di kelas, sebagai kepala sekolah ia harus memikirkan bagaimana seluruh sistem sekolah dapat berjalan dan berkembang.

Perencanaan strategis, supervisi akademik, pengelolaan sumber daya, pengembangan program unggulan, hingga budaya kerja guru menjadi bagian dari tanggung jawabnya.

Di sinilah pengalaman sebagai guru menjadi bekal penting.

Rahayu memahami bahwa sekolah yang baik tidak dibangun oleh kepala sekolah seorang diri. Ada guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, komite sekolah, dan masyarakat yang harus berjalan dalam satu arah.

Kepemimpinan sekolah, karena itu, ia tempatkan sebagai proses kolaborasi.

Pada 2021, ketika masih dalam perjalanan kepemimpinannya, Rahayu memperoleh penghargaan sebagai Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Kabupaten.

Penghargaan tersebut mengukuhkan kiprahnya dalam inovasi manajerial dan peningkatan mutu pendidikan.

Setahun kemudian, amanah kepemimpinan membawanya ke SD Negeri Pucangan 04.

Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran

Di sekolah, Rahayu tidak ingin perannya berhenti pada urusan administrasi.

Ia menempatkan kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran—seseorang yang ikut memastikan guru memiliki ruang untuk berkembang dan peserta didik mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna.

Karena itu, pembinaan guru menjadi salah satu perhatian penting.

Supervisi akademik tidak dipandang semata-mata sebagai proses menilai. Di balik supervisi terdapat percakapan, refleksi, dan upaya mencari jalan keluar atas persoalan yang muncul dalam pembelajaran.

Cara pandang itu tidak terlepas dari pengalaman Rahayu mendampingi para pendidik dalam berbagai program nasional.

Dari Sekolah ke Panggung Pendidikan Nasional

Mendampingi dan memfasilitasi Calon Guru Penggerak (CGP) dalam mengembangkan kompetensi kepemimpinan pembelajaran serta mendorong transformasi praktik pendidikan di satuan pendidikan. (mc)

Tahun 2013, Rahayu dipercaya sebagai Instruktur Nasional Kurikulum 2013.

Peran tersebut membawanya berhadapan dengan tantangan perubahan kebijakan pendidikan. Ia membantu guru memahami sekaligus menerapkan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum.

Beberapa tahun kemudian, kiprahnya semakin luas.

Pada 2020, Rahayu menjadi Pengajar Praktik Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP). Ia mendampingi calon guru penggerak melalui pendampingan individu dan lokakarya.

Pada periode 2021–2024, ia dipercaya menjadi Fasilitator Program Pendidikan Guru Penggerak. Kali ini, ruang pendampingannya semakin luas. Ia berinteraksi dengan calon-calon pemimpin pembelajaran dan ikut mendorong lahirnya budaya reflektif serta kolaboratif di kalangan pendidik.

Pengalaman tersebut mempertemukan dua dunia yang selama ini dijalaninya: praktik di sekolah dan pengembangan profesional guru.

Menjemput Pembelajaran Masa Depan

Perubahan pendidikan belum berhenti.

Teknologi berkembang. Karakter peserta didik berubah. Cara manusia memperoleh informasi juga mengalami pergeseran.

Di tengah perubahan itu, Rahayu kembali mengambil peran.

Sejak 2025, ia dipercaya sebagai Pengajar/Fasilitator Pembelajaran Mendalam (Deep Learning).

Pendekatan pembelajaran mendalam mendorong proses belajar yang tidak berhenti pada hafalan. Peserta didik diarahkan untuk memahami, menghubungkan pengetahuan, melakukan refleksi, dan menggunakannya dalam konteks kehidupan.

Bagi Rahayu, guru harus mampu bergerak bersama perubahan zaman.

Teknologi pendidikan, menurut perjalanan akademiknya, bukan sekadar tentang penggunaan perangkat digital. Lebih jauh, teknologi pendidikan adalah bagaimana merancang pengalaman belajar agar tujuan pendidikan dapat dicapai secara lebih efektif dan bermakna.

Latar belakang Magister Pendidikan (M.Pd.) bidang Teknologi Pendidikan dari Universitas Sebelas Maret semakin memperkuat perjalanan tersebut.

Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Pendidikan (Dra.) FKIP PMP & KN di IKIP Veteran Sukoharjo.

Belajar, Berbagi, Lalu Kembali ke Sekolah

Ada benang merah yang terlihat dalam perjalanan Rahayu: ia selalu kembali kepada sekolah.

Setelah memperoleh pengalaman sebagai fasilitator, instruktur, dan pendamping guru, pengetahuan itu dibawa kembali ke lingkungan sekolah.

Begitu pula ketika aktif dalam organisasi profesi. Keterlibatannya dalam PGRI, IPTPI, serta IKMTP menjadi bagian dari upaya menjaga jejaring dan ruang pertukaran gagasan di bidang pendidikan.

Ia berada di antara dua dunia: praktik pendidikan sehari-hari dan perkembangan pemikiran pendidikan.

Di satu sisi, ia berhadapan dengan persoalan nyata di sekolah. Di sisi lain, ia terus berinteraksi dengan gagasan-gagasan baru tentang pembelajaran dan pengembangan profesi guru.

Tidak Berhenti di Penghargaan

Lebih dari 20 tahun berada di dunia pendidikan membuat Rahayu menyadari bahwa penghargaan hanyalah satu titik dalam perjalanan panjang.

Guru Berprestasi Tingkat Kecamatan 2011 dan Kepala Sekolah Berprestasi Tingkat Kabupaten 2021 adalah bagian dari rekam jejaknya. Namun, ukuran keberhasilan seorang pendidik tidak selalu dapat ditulis dalam sertifikat atau piagam.

Ada perubahan kecil di kelas.

Ada guru yang menjadi lebih percaya diri setelah didampingi.

Ada sekolah yang perlahan menemukan arah.

Ada anak yang tumbuh menjadi lebih berani belajar.

Dan ada pengetahuan yang berpindah dari satu guru kepada guru lainnya.

Di sanalah makna pengabdian seorang pendidik menemukan bentuknya.

Menjaga Api yang Tak Boleh Padam

Dua puluh tahun lebih adalah waktu yang panjang. Kurikulum datang dan berubah. Teknologi berkembang. Generasi peserta didik berganti.

Tetapi satu hal tetap sama: pendidikan membutuhkan orang-orang yang bersedia terus belajar.

Rahayu memilih menjadi bagian dari mereka.

Dari ruang kelas, ia belajar menjadi guru. Dari pengalaman menjadi guru, ia belajar memimpin sekolah. Dari kepemimpinan sekolah, ia melangkah menjadi fasilitator yang mendampingi guru-guru lain. Dan dari setiap perjalanan itu, ia kembali membawa pengalaman untuk memperkuat sekolah.

Perjalanannya seperti lingkaran yang tidak pernah benar-benar selesai.

Sebab pendidikan memang demikian.

Ia bukan pekerjaan yang selesai ketika bel sekolah berbunyi. Ia adalah proses panjang yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Dan di tengah perjalanan itu, Rahayu memilih untuk tetap menjaga satu api: api belajar, api berbagi, dan api pengabdian.

Selama api itu menyala, sekolah akan selalu memiliki harapan.(Rhy)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments