spot_img
BerandaJelajahPart 2 : “Tak Harus Sama untuk Bisa Bersama”

Part 2 : “Tak Harus Sama untuk Bisa Bersama”

Seperti tumbu oleh tutup, keduanya tidak harus menjadi benda yang sama. Cukup saling menemukan tempat, saling menjalankan peran, dan saling menjaga agar kehidupan di dalam rumah tetap terasa utuh.

Oleh : Aurora Ch

Belajar hingga rambut memutih

LELINDO.COM – Manusia adalah makhluk yang unik. Bahkan dua saudara yang tumbuh dalam satu rumah, diasuh oleh orang tua yang sama, dan menikmati makanan dari meja yang sama, bisa memiliki watak serta pandangan hidup yang jauh berbeda.

Apalagi dua orang yang berasal dari keluarga berbeda, membawa kebiasaan berbeda, kemudian dipertemukan dalam ikatan pernikahan.

Karena itu, berumah tangga sesungguhnya merupakan perjalanan belajar yang tidak pernah benar-benar selesai.

Pada masa awal pernikahan, pasangan belajar mengenali kebiasaan satu sama lain. Setelah memiliki anak, mereka belajar membagi perhatian dan tanggung jawab. Ketika ekonomi sedang sulit, mereka belajar bertahan. Ketika anak-anak tumbuh dewasa dan mulai menentukan jalan hidupnya sendiri, mereka kembali belajar menerima bahwa tidak semua hal dapat diatur sesuai keinginan.

Bahkan ketika usia mulai menua, pelajaran itu belum selesai. Tubuh tidak lagi sekuat dahulu, kebutuhan berubah, dan waktu bersama menjadi semakin berharga. Pada masa seperti itu, pasangan mungkin tidak lagi membutuhkan banyak janji. Kehadiran sederhana, secangkir teh, percakapan ringan, atau kesediaan mendengarkan keluhan yang sama berulang kali bisa terasa lebih bermakna daripada hadiah mahal.

Di sana, cinta menemukan bentuknya yang lebih tenang.

Bukan lagi sekadar tentang siapa yang paling romantis, siapa yang paling banyak memberi, atau siapa yang paling sering mengucapkan kata sayang. Cinta juga tumbuh dalam kesediaan menemani, memahami keterbatasan, dan tidak mempermalukan pasangan hanya karena ia memiliki kelemahan.

Tentu, semua itu tidak hadir dengan sendirinya. Perlu kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, keberanian meminta maaf, serta kelapangan hati menerima bahwa pasangan bukanlah manusia yang diciptakan untuk memenuhi seluruh keinginan kita.

Sebab, orang yang menikah bukan sedang mencari seseorang yang selalu benar. Ia sedang berjalan bersama seseorang yang, seperti dirinya, masih memiliki banyak hal untuk dipelajari.

Tumbu oleh tutup

Dalam ungkapan Jawa, ada istilah tumbu oleh tutup. Secara harfiah, tumbu adalah wadah, sedangkan tutup merupakan penutupnya. Keduanya memiliki bentuk dan fungsi berbeda, tetapi justru karena perbedaan itu, keduanya dapat saling melengkapi.

Perumpamaan sederhana ini mengingatkan bahwa sesuatu tidak harus serupa untuk menjadi serasi. Yang diperlukan ialah kesesuaian, saling menerima fungsi, dan kesediaan menempatkan diri secara tepat.

Begitu pula suami dan istri. Tidak perlu memaksakan pasangan menyukai semua hal yang kita sukai. Tidak harus selalu memiliki pendapat yang sama. Bahkan dalam beberapa persoalan, perbedaan sudut pandang justru diperlukan agar keputusan tidak diambil secara tergesa-gesa.

Yang perlu dijaga adalah cara memperlakukan perbedaan tersebut.

Ketika suami berbicara, istri bersedia mendengarkan. Ketika istri menyampaikan keberatan, suami tidak buru-buru merasa diserang. Ketika salah satu melakukan kekeliruan, yang lain tidak menjadikannya kesempatan untuk merasa lebih unggul. Mereka belajar menyelesaikan persoalan tanpa harus memenangkan setiap perdebatan.

Sebab, dalam rumah tangga, kemenangan yang membuat pasangan terluka sesungguhnya bukan kemenangan yang patut dibanggakan.

Ada kalanya seseorang perlu mengalah bukan karena ia kalah, melainkan karena ia memahami bahwa tidak semua persoalan harus berakhir dengan pembuktian siapa yang paling benar. Namun, ada pula saatnya seseorang harus bersikap tegas agar persoalan yang sama tidak terus berulang.

Kebijaksanaan terletak pada kemampuan membedakan keduanya.

Pada akhirnya, pasangan terbaik bukan semata-mata pasangan yang terbalik, tetapi pasangan yang mampu menjadikan perbedaan sebagai jalan untuk saling melengkapi. Sebab, perbedaan tanpa kemauan belajar hanya akan melahirkan jarak, sedangkan perbedaan yang dirawat dengan ketulusan dapat menjadi sumber kedewasaan.

Mungkin memang tidak ada rumah tangga yang sepenuhnya ideal. Setiap pasangan memiliki persoalan yang tidak selalu diketahui orang lain. Apa yang terlihat harmonis dari luar belum tentu bebas dari pergulatan. Sebaliknya, pasangan yang sesekali berbeda pendapat belum tentu kehilangan cinta.

Kita hanya melihat permukaan, sementara perjalanan sesungguhnya berlangsung di ruang-ruang pribadi yang tidak selalu terbuka bagi siapa pun.

Maka, barangkali yang paling penting bukan mencari pasangan tanpa kekurangan, melainkan menemukan seseorang yang bersedia belajar bersama, memperbaiki diri, dan tetap menghormati kita ketika perbedaan muncul.

Sebab, pernikahan bukan pertemuan dua manusia yang telah selesai dengan dirinya masing-masing. Pernikahan adalah pertemuan dua pribadi yang terus berproses, saling mengoreksi tanpa merendahkan, saling menguatkan tanpa menguasai, serta saling menerima tanpa kehilangan jati diri.

Dan jika kelak rambut mulai memutih, langkah tidak lagi secepat dahulu, serta anak-anak telah menempuh jalan hidupnya sendiri, mungkin keduanya baru benar-benar memahami: yang membuat mereka bertahan bukan karena selalu memiliki kesamaan, melainkan karena sepanjang perjalanan mereka tidak berhenti belajar memahami perbedaan.

Seperti tumbu oleh tutup, keduanya tidak harus menjadi benda yang sama. Cukup saling menemukan tempat, saling menjalankan peran, dan saling menjaga agar kehidupan di dalam rumah tetap terasa utuh.

Sebab, pasangan yang baik bukanlah orang yang membuat hidup selalu mudah, melainkan seseorang yang bersedia menghadapi hidup bersama—dengan segala perbedaan, kekurangan, dan pelajaran yang belum selesai.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments