Oleh: Hibban M
Tidak Semua Luka Harus Segera Dipahami
LESINDO.COM – Kita hidup dalam zaman yang serba cepat. Bahkan kesedihan pun seolah dituntut segera selesai. Orang yang kehilangan diminta segera bangkit. Orang yang gagal diminta segera mencoba lagi. Orang yang kecewa diminta segera melupakan.
Padahal hati manusia tidak bekerja seperti tombol.
Ada luka yang membutuhkan waktu.
Ada kehilangan yang baru bisa diterima setelah bertahun-tahun.
Ada pertanyaan yang jawabannya baru datang ketika seseorang telah berjalan cukup jauh dari peristiwa yang dahulu membuatnya bertanya-tanya.
Karena itu, tidak apa-apa jika hari ini kita belum memahami semuanya.
Barangkali tugas kita memang bukan memahami seluruh rahasia takdir, melainkan tetap berjalan sambil belajar mempercayai-Nya.
Waktu sering kali mempunyai cara yang lebih jujur untuk menjelaskan sesuatu.
Apa yang dahulu membuat kita menangis, suatu ketika mungkin justru membuat kita tersenyum. Bukan karena peristiwa itu berubah, melainkan karena kita telah berubah dalam memandangnya.
Pada Akhirnya, Kita Hanya Perlu Tetap Berjalan
Hidup bukan tentang bagaimana membuat seluruh jalan menjadi mudah.
Sebab jalan yang mudah pun belum tentu membawa kita ke tempat yang baik.
Kadang jalan yang berliku justru mempertemukan kita dengan diri sendiri. Kesulitan mengajarkan ketahanan. Kegagalan mengajarkan kerendahan hati. Kehilangan mengajarkan bahwa tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal.
Dan kesendirian, pada saat tertentu, mengajarkan bagaimana seseorang berdamai dengan dirinya sendiri.
Mungkin karena itu, manusia tidak perlu terlalu sibuk menuntut takdir agar selalu sesuai dengan keinginannya.
Cukuplah berusaha ketika masih diberi kesempatan untuk berusaha. Berdoa ketika tidak lagi mampu mengandalkan kekuatan sendiri. Bersabar ketika jawaban belum datang. Dan bersyukur ketika sesuatu yang tidak pernah kita duga akhirnya mengetuk pintu kehidupan.
Sebab boleh jadi, di balik tirai yang hari ini membuat kita kecewa, ada sesuatu yang belum waktunya kita lihat.
Mungkin kita sedang disiapkan.
Mungkin sedang dijauhkan dari sesuatu.
Mungkin sedang diarahkan menuju jalan yang lain.
Atau mungkin, kita sedang diajarkan sebuah pelajaran yang kelak membuat kita lebih mengenal siapa diri kita dan kepada siapa seharusnya hati bersandar.
Takdir memang tidak selalu mudah dibaca.
Tetapi barangkali kita tidak harus membacanya sampai halaman terakhir.
Kita hanya perlu menjalani halaman yang sedang terbuka di hadapan kita—dengan ikhtiar, doa, sabar, dan sedikit lebih banyak percaya.
Sebab bisa jadi, ketika suatu hari tirai itu tersibak, kita akan menoleh ke belakang dan tersenyum.
Bukan karena perjalanan itu tanpa luka.
Melainkan karena akhirnya kita mengerti: ternyata tidak semua yang dahulu kita tangisi adalah kehilangan. Sebagian di antaranya adalah cara Tuhan membawa kita pulang kepada-Nya.

