spot_img
BerandaJelajahPart 2 : Ketika Pendidikan dan Dunia Kerja Berjalan di Jalan Berbeda

Part 2 : Ketika Pendidikan dan Dunia Kerja Berjalan di Jalan Berbeda

Sekolah boleh mengantarkan seseorang pada sebuah pekerjaan, tetapi pendidikan seharusnya mengantarkan manusia pada kemampuan untuk menjalani kehidupan.

Oleh : Abah Muhamad

Sekolah dan Dunia yang Terus Berubah

LESINDO.COM – Persoalan pendidikan hari ini bukan sekadar bagaimana membuat anak sekolah lebih lama. Tantangannya adalah bagaimana membuat proses belajar lebih dekat dengan kehidupan.

Ada anak yang bersekolah hanya karena memang harus sekolah. Ada pula yang benar-benar menemukan minat dan kemampuannya melalui pendidikan.

Keduanya tentu berbeda.

Sekolah yang hanya mengejar ijazah berisiko melahirkan manusia yang sibuk mengumpulkan sertifikat, tetapi belum tentu memahami apa yang ingin dilakukan dengan pengetahuannya.

Sebaliknya, pendidikan yang memberi ruang bagi minat, keterampilan, kreativitas dan pengalaman akan membuat seseorang memiliki bekal yang lebih lentur menghadapi perubahan.

Dunia kerja sendiri sudah berubah.

Pekerjaan yang dahulu dianggap tidak ada kini menjadi profesi. Sementara pekerjaan yang dahulu menjanjikan masa depan bisa saja perlahan menghilang.

Karena itu, mungkin sudah waktunya pendidikan tidak hanya mengajarkan anak untuk mencari pekerjaan, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan untuk menciptakan nilai.

Bukan semata-mata menjadi pencari kerja, melainkan memiliki kemampuan membaca kebutuhan, menyelesaikan masalah dan menciptakan kesempatan.

Tidak Semua Jalan Harus Lurus

Kehidupan juga tidak pernah menjanjikan jalan yang lurus.

Ada orang yang setelah lulus langsung bekerja sesuai jurusan. Ada yang harus menunggu bertahun-tahun. Ada yang berpindah pekerjaan berkali-kali. Ada yang akhirnya menemukan dirinya justru setelah meninggalkan bidang yang dahulu dipelajarinya.

Tidak semuanya gagal.

Tidak semuanya pula berhasil dalam ukuran yang sama.

Kadang seseorang memang harus berjalan memutar sebelum menemukan jalan yang paling sesuai.

Lulusan fisioterapi yang bekerja di konter komputer tadi, misalnya, mungkin sedang berada di sebuah persimpangan. Kita tidak pernah tahu ke mana perjalanan berikutnya akan membawanya.

Bisa saja suatu hari ia kembali ke dunia fisioterapi.

Bisa pula ia justru menemukan masa depan di dunia teknologi.

Bukankah manusia memang sering menemukan dirinya bukan di tempat yang pertama kali ia bayangkan?

Maka jangan terlalu cepat mengatakan bahwa pendidikan seseorang sia-sia hanya karena pekerjaan yang dijalaninya berbeda dengan ijazahnya.

Yang sia-sia barangkali bukan pendidikannya, melainkan jika setelah berpendidikan seseorang berhenti belajar.

Ijazah Boleh Berhenti di Laci, Ilmu Jangan

Saya teringat generasi orang tua kita.

Mereka mungkin hanya memiliki ijazah sekolah dasar, bahkan ada yang tidak sempat menyelesaikan sekolah. Tetapi mereka mengajarkan sesuatu yang sering kali tidak tertulis dalam buku pelajaran: ketekunan, tanggung jawab, kejujuran dan kemampuan bertahan dalam keterbatasan.

Generasi hari ini memperoleh kesempatan pendidikan yang jauh lebih luas.

Karena itu, barangkali yang perlu kita wariskan bukan hanya ambisi agar anak memiliki gelar lebih tinggi, tetapi juga kesadaran bahwa belajar tidak pernah berhenti ketika wisuda selesai.

Ijazah mungkin hanya selembar kertas.

Ia dapat membuka pintu pertama.

Tetapi setelah pintu terbuka, seseorang tetap harus berjalan dengan kakinya sendiri.

Ia harus memiliki keterampilan, kemauan, daya juang, kemampuan beradaptasi dan kesediaan untuk terus belajar.

Sebab dunia kerja tidak pernah bertanya hanya tentang apa yang tertulis di ijazah. Ia juga bertanya tentang apa yang bisa kita lakukan dengan pengetahuan yang pernah kita dapatkan.

Dan mungkin di situlah makna pendidikan yang paling sederhana sekaligus paling dalam:

Sekolah boleh mengantarkan seseorang pada sebuah pekerjaan, tetapi pendidikan seharusnya mengantarkan manusia pada kemampuan untuk menjalani kehidupan.

Karena itu, ketika seseorang bekerja tidak sesuai dengan jurusannya, jangan buru-buru menyebut pendidikannya gagal.

Bisa jadi ia sedang belajar pada sekolah kehidupan yang lain.

Sebab pada akhirnya, tidak ada ilmu yang benar-benar hilang. Ada ilmu yang digunakan langsung, ada yang tersimpan sebagai cara berpikir, dan ada yang baru menemukan manfaatnya bertahun-tahun kemudian.

Pendidikan barangkali tidak selalu membawa kita ke tempat yang kita bayangkan.

Tetapi ia seharusnya membuat kita lebih siap ketika kehidupan membawa kita ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments