spot_img
BerandaKomunitasPart 1 : Sebatang Korek Api dan Kesombongan Manusia

Part 1 : Sebatang Korek Api dan Kesombongan Manusia

Waktu tidak pernah berhenti untuk menunggu kesiapan manusia. Ia berjalan tanpa peduli apakah kita sedang kaya atau miskin, sehat atau sakit, berkuasa atau tak memiliki apa-apa.

Oleh : Lembah Manah

Refleksi tentang amarah, kekuasaan, waktu, dan hukum sebab-akibat

LESINDO.COM – Ada sesuatu yang ganjil dalam diri manusia. Kita diberi kepala untuk berpikir, otak untuk menimbang, dan hati untuk memahami. Namun, tidak sedikit yang justru kehilangan akal hanya karena gesekan kecil. Sebuah perkataan menyulut amarah, perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan, dan persoalan sepele menjelma pertikaian panjang. Seolah-olah seluruh kebijaksanaan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun mendadak hangus oleh satu percikan emosi.

Kita bisa belajar dari sebatang korek api.

Satu pohon dapat menghasilkan jutaan batang korek api. Namun, satu batang korek api juga sanggup membakar jutaan pohon. Begitulah pikiran manusia. Satu pikiran negatif bisa merusak begitu banyak hal baik yang dibangun dengan susah payah. Satu kalimat kasar dapat meruntuhkan kepercayaan. Satu keputusan yang lahir dari kemarahan bisa menghancurkan hubungan yang dirawat bertahun-tahun.

Ironisnya, korek api memiliki kepala, tetapi tidak memiliki otak. Ia menyala begitu saja ketika terjadi gesekan. Manusia berbeda. Kita mempunyai akal untuk berpikir sebelum bereaksi. Sayangnya, tidak semua orang menggunakannya ketika harga diri merasa terusik.

Kita sering terlalu sibuk membela ego, sampai lupa bahwa tidak setiap gesekan harus berakhir dengan api. Tidak semua perkataan perlu dibalas, tidak semua penghinaan perlu diladeni, dan tidak setiap pertengkaran harus dimenangkan.

Sebab, ada kemenangan yang justru membuat kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga: ketenangan.

Kekuasaan tidak pernah benar-benar abadi

Lihatlah kehidupan di alam. Ketika burung masih hidup, ia memangsa semut. Namun, ketika burung mati, tubuhnya dapat menjadi sumber makanan bagi semut. Posisi yang dahulu tampak begitu kuat berubah dalam sekejap. Yang semula memangsa, pada akhirnya menjadi bagian dari rantai kehidupan yang sama.

Alam tidak sedang mengajarkan siapa yang paling berkuasa. Ia memperlihatkan bahwa kehidupan terus bergerak, dan tidak ada kedudukan yang sepenuhnya kebal terhadap perubahan.

Manusia sering lupa pada kenyataan sederhana itu. Ketika memiliki jabatan, uang, pengaruh, atau kekuasaan, sebagian orang merasa dirinya berada di atas segalanya. Mereka mulai mengukur manusia berdasarkan kedudukan, memandang rendah mereka yang tak memiliki apa-apa, bahkan memperlakukan orang lain seolah-olah martabat bisa dibeli dengan harta.

Padahal, kekuasaan hanyalah persinggahan. Jabatan memiliki masa akhir, kekayaan bisa menyusut, dan popularitas dapat menghilang lebih cepat daripada tepuk tangan yang mengiringinya.

Hari ini seseorang disambut dengan hormat. Besok, ketika kekuasaannya berakhir, belum tentu masih ada yang bersedia membuka pintu untuknya.

Karena itu, jangan pernah merendahkan orang lain hanya karena hari ini kita merasa lebih tinggi. Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan akan mempertemukan kembali orang-orang yang pernah saling berhadapan. Dunia terlalu dinamis untuk dijadikan panggung kesombongan yang permanen.

Jangan merasa menjadi matahari hanya karena hari ini banyak orang membutuhkan cahaya kita. Bahkan matahari pun memiliki waktu untuk tenggelam.

Ketika sehat, kita sibuk mengejar harta

Ada masa ketika kita merasa memiliki segalanya. Pekerjaan berjalan, penghasilan tersedia, teman datang silih berganti, dan hari-hari dipenuhi kesibukan. Kita mengira kehidupan akan terus berlangsung dalam pola yang sama.

Sampai tubuh mulai memberi tanda. Penyakit datang, tenaga berkurang, dan aktivitas yang dahulu terasa ringan mendadak membutuhkan perjuangan.

Di situlah kita mulai memahami bahwa sehat bukan sekadar urusan tubuh. Kesehatan adalah kesempatan untuk bekerja, berjalan, bertemu keluarga, menikmati makanan sederhana, dan menyelesaikan urusan yang belum tuntas.

Uang memang bisa membantu kita mendapatkan perawatan. Namun, uang tidak selalu mampu mengembalikan kondisi tubuh seperti semula. Ada hal-hal yang baru terasa mahal setelah kita kehilangannya, dan kesehatan termasuk di antaranya.

Begitu pula dengan pertemanan. Ketika sedang berjaya, kita mungkin merasa dikelilingi banyak orang. Telepon berdering, pesan berdatangan, dan undangan silih berganti. Akan tetapi, ketika keadaan berubah, lingkaran itu bisa menyempit dengan sendirinya.

Bukan berarti semua orang yang menjauh adalah pengkhianat. Ada yang memang hanya hadir untuk satu musim kehidupan. Ada pula yang tetap tinggal, meski tak selalu hadir dalam keramaian.

Pada akhirnya, kita belajar membedakan antara mereka yang menikmati keberhasilan kita dan mereka yang bersedia menemani ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Nilai seseorang tidak selalu terlihat dari berapa banyak orang yang berdiri di sekelilingnya, melainkan dari siapa yang masih bersedia duduk di sampingnya ketika tak ada lagi sesuatu yang bisa dibanggakan.

Waktu tidak pernah berutang kepada siapa pun

Kita sering memperlakukan waktu seolah-olah persediaannya tidak terbatas. Pekerjaan bisa ditunda, keluarga bisa menunggu, permintaan maaf bisa disampaikan nanti, dan kesempatan memperbaiki diri selalu dianggap akan datang kembali.

Kita begitu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki, sampai lupa menikmati apa yang sudah ada.

Ketika muda, kita merasa waktu berjalan lambat. Ketika memasuki usia senja, tahun-tahun seperti melesat tanpa sempat memberi aba-aba. Tiba-tiba rambut memutih, tenaga tak lagi sama, anak-anak tumbuh dewasa, dan orang-orang yang dahulu menemani perjalanan mulai satu per satu berpulang.

Lalu kita menoleh ke belakang.

Ternyata ada begitu banyak percakapan yang tak pernah diselesaikan, kunjungan yang selalu ditunda, kesempatan berbuat baik yang terlewat, dan waktu yang habis hanya untuk memikirkan perkataan orang lain.

Kita menghabiskan energi untuk memenangkan perdebatan yang tak lagi diingat siapa pun. Kita memelihara dendam kepada orang-orang yang mungkin sudah melanjutkan hidupnya. Kita sibuk membuktikan diri kepada dunia, tetapi lupa bertanya apakah hidup yang kita jalani benar-benar membuat kita bahagia.

Waktu tidak pernah berhenti untuk menunggu kesiapan manusia. Ia berjalan tanpa peduli apakah kita sedang kaya atau miskin, sehat atau sakit, berkuasa atau tak memiliki apa-apa.

Kita boleh merencanakan masa depan, tetapi tidak pernah benar-benar memiliki kepastian tentang berapa banyak waktu yang tersisa.

Karena itu, jangan menunggu kehilangan untuk memahami arti kehadiran. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu seseorang pergi untuk menyadari bahwa selama ini ia begitu berarti.

Dan jangan menunggu tua untuk mulai menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments