spot_img
BerandaJelajahPart 1 : Asap yang Menahun: Ketika Hutan Terbakar dan Nurani Ikut...

Part 1 : Asap yang Menahun: Ketika Hutan Terbakar dan Nurani Ikut Padam

Oleh : Redaksi

“Jangankan manusia, tumbuhan dan hewan pun menderita hidup di Indonesia.”

LESINDO.COM – Kalimat itu terdengar seperti keluhan. Namun, jika dibaca di tengah musim kemarau, ketika langit perlahan berubah kelabu dan bau asap mulai menyusup ke rumah-rumah, ia menjelma menjadi sebuah dakwaan.

Dakwaan terhadap keserakahan.

Dakwaan terhadap pembiaran.

Dan, mungkin, dakwaan terhadap sebuah bangsa yang terlalu lama menganggap kebakaran hutan dan lahan sebagai peristiwa musiman.

Setiap tahun, cerita itu seperti diputar ulang. Api muncul dari hamparan lahan. Titik-titik panas bermunculan. Asap menebal. Anak-anak mulai batuk. Orang tua menutup jendela. Rumah sakit menerima pasien dengan gangguan pernapasan. Satwa liar kehilangan tempat berlindung.

Lalu negara mulai bergerak.

Pesawat dikerahkan. Aparat diturunkan. Teknologi pemantauan digunakan. Pernyataan resmi disampaikan. Setelah hujan turun dan api perlahan padam, perhatian publik pun kembali surut.

Sampai musim berikutnya.

Api kembali datang.

Seolah-olah bangsa ini sedang menjalani hukuman yang sama, berulang kali, karena tak pernah benar-benar menyelesaikan akar persoalannya.

Api yang Tidak Selalu Datang dari Alam

Kebakaran hutan dan lahan kerap disebut sebagai bencana. Namun, kata itu kadang terlalu sederhana untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Sebab api tidak selalu lahir dari sambaran petir.

Ia bisa dimulai dari sebuah korek.

Dari puntung rokok.

Dari pembakaran kecil yang sengaja dilakukan untuk membersihkan lahan.

Dari keputusan ekonomi yang menghitung biaya pembukaan tanah, tetapi tidak pernah memasukkan harga paru-paru manusia ke dalam neraca keuntungan.

Membakar lahan jauh lebih murah daripada menggunakan alat berat. Api bekerja tanpa meminta upah. Dalam hitungan jam, semak, pepohonan, dan tumbuhan yang telah hidup puluhan tahun dapat berubah menjadi hamparan hitam.

Setelah itu, tanah siap ditanami.

Keuntungan mulai dihitung.

Tetapi tidak ada kalkulator yang cukup besar untuk menghitung harga yang harus dibayar oleh kehidupan.

Seekor satwa yang kehilangan habitatnya tidak pernah tercatat dalam laporan keuntungan.

Pohon-pohon yang tumbuh puluhan tahun tidak memiliki pengacara untuk menuntut ganti rugi.

Sementara manusia yang menghirup asap hanya akan masuk sebagai angka statistik: jumlah penderita gangguan pernapasan, jumlah sekolah yang diliburkan, jumlah warga yang terdampak.

Di situlah ironi karhutla bermula.

Api mungkin hanya membakar satu kawasan.

Tetapi dampaknya membakar kehidupan jauh lebih luas.

Ketika Hutan Menjadi Rumah yang Terbakar

Bagi manusia, hutan sering dilihat sebagai hamparan lahan.

Bagi satwa, hutan adalah rumah.

Ketika api menjalar, tidak ada sirene yang memberi peringatan kepada orangutan. Tidak ada jalur evakuasi untuk harimau. Tidak ada kendaraan pemadam yang datang menyelamatkan sarang burung, tumbuhan langka, atau anak-anak satwa yang belum mampu melarikan diri.

Mereka hanya berlari.

Sebagian berhasil keluar.

Sebagian lainnya tidak.

Satwa yang selamat pun belum tentu benar-benar selamat. Habitatnya telah berubah menjadi abu. Sumber makanan hilang. Ruang hidup menyempit. Mereka kemudian bergerak mendekati permukiman manusia.

Konflik pun muncul.

Manusia menyebutnya gangguan satwa liar.

Padahal, barangkali manusialah yang lebih dahulu mengganggu.

Api telah mengusir mereka dari rumahnya.

Dan setelah itu, kita masih bertanya mengapa mereka datang.

Tumbuhan tidak bisa berlari. Mereka berdiri diam ketika api datang.

Pohon besar yang telah tumbuh selama puluhan tahun dapat tumbang dalam satu musim kebakaran. Bersamanya, hilang pula ruang hidup bagi makhluk-makhluk yang selama ini bergantung pada keberadaannya.

Maka kalimat “tumbuhan dan hewan pun menderita hidup di Indonesia” bukanlah sekadar ungkapan emosional.

Ia adalah potret tentang sebuah ekosistem yang terus-menerus dipaksa membayar harga pembangunan.

Asap yang Tak Mengenal Batas Negara

Api tidak membutuhkan paspor.

Asap tidak berhenti di pos perbatasan.

Ketika angin bergerak, kabut pekat itu ikut berlayar melintasi laut. Dari kawasan hutan dan lahan yang terbakar, asap dapat menuju negara-negara tetangga.

Di ruang diplomasi, persoalan ini berubah menjadi protes.

Di ruang publik, ia menjadi kemarahan.

Indonesia kembali berada dalam sorotan sebagai negara yang dianggap gagal mengendalikan kebakaran di wilayahnya.

Tetapi sesungguhnya, sebelum asap itu menjadi persoalan internasional, ia telah lebih dahulu menjadi tragedi bagi rakyat Indonesia sendiri.

Anak-anak menghirup udara yang tak lagi sehat.

Orang tua terpaksa membatasi aktivitas di luar rumah.

Pekerja tetap harus keluar untuk mencari nafkah.

Sekolah-sekolah bisa diliburkan.

Aktivitas ekonomi terganggu.

Namun, di tengah semua kerugian itu, ada satu pertanyaan yang jarang mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan: siapa yang sebenarnya paling diuntungkan dari tanah yang dibersihkan oleh api?

Pertanyaan itu seharusnya menjadi pusat penyelidikan.

Karena selama keuntungan dari pembukaan lahan tetap besar dan risiko hukuman terasa kecil, api akan selalu memiliki alasan untuk kembali.

 

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments