Suasana sepi di warung tengkleng bu Harsi Solo Baru saat melambaikan tangan. (mac-Lesindo)

LESINDO.COM-Cuaca pagi masih terselimuti mendung, setelah sarapan pagi dari Hotel yang cukup lumayan nyaman tetapi rasanya makan dijalanan lebih bersahabat terutama makanan diseputaran Solo Raya. Jalan Solo Baru mulai mengeliat kendaraan menyambut pagi menjemput rejeki. Rencananya hanya pingin mengambil beberapa foto sudut kota dan menikmati pagi di jantung kota Solo Baru, gerimis lembut mulai mengiringi langkah kaki beberapa tukang ojek line sudah berseliweran bahkan ada yang terasa kelelahan tertidur dengan bantal jok motornya di sudut utara bekas gedung film Atrium 21.

Siang setelah agenda dari hotel selesai, karena janjian dengan bu Harsi agar berkenan untuk singgah. (mac)

Satu blok jalan kaki dari Hotel Tosan, langkah kaki agak dipercepat tetesan air hujan menyapa dengan mesranya kamera masih dalam cangklongan ada keinginan peralatan tempur dimasukan dalam sarangnya keinginan itu aku abaikan terkadang foto yang bagus saat mendapatkan ilmu dari Media Indonesia berada di tempat yang benar, foto yang asik dan pada waktu yang tepat. Sudah membiasakan feeling  agar selalu terasah dilapangan, saat menyebrangi jalan dari sisi selatan melintas ke sisi utara tak berselang lama lambaian tangan seorang ibu paruh baya keluar dari tenda yang beratap  terpal dan diding dari MMT dengan tulisan warung tengkleng sapi dan kambing Bu Harsi, ya Allah tak terasa diketemukan warung tengkleng yang sempat viral menghiasi media cetak maupun online. “Mas mas tindak mriki (sini)”, lambaian tangan Bu Harsi berkali-kali dari jarak 10m

Di sebrang jalan aku juga balas dengan potretan kemera  yang selalu siap ketika ada momen yang mendadak beberapa jepretan, aku menolaknya dengan sedikit membungkukkan badan dan mengarahkan jempol pada bu Hari, yang ke sekian kalinya bu Harsi tidak menyerah untuk tetap mengajak mampir di warung pinggir jalan dan balasan jempol diarahkan pada kameraku sebagai tanda untuk singgah. Rasanya bu Harsi tidak menyerah untuk berusaha dibalik warungnya agar aku berkenan dan bersedia untuk singgah.

Aku putusan untuk singgah siapa tahu ada sesuatu yang akan diceritakan, dan aku pilih duduk di kursi yang memanjang sebelah utara dekat pintu masuk dan bu Harsi duduk dikursi sebelah selatan dan alat rekaman langsung aku siapkan untuk mendengarkan keluh kesahnya setelah kejadian yang membuat warga Solo Raya viral karena makanan tengkleng yang menjadi salah satu ciri khas makanan Solo. Viral karena tayangan youtube yang negative (ngeprok rego/harga yang tidak wajar).

Tak seberapa yang aku lakukan hanya bisa memberikan rasa semangat dan kejadian ini akan menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi kita semuanya. (mac)

Baru kali ini bu Harsi mengalami jualan tengkleng di buat viral hampir 47 tahun jualan di pinggir jalan, gara-gara HP peralatan komunikasi yang serba ada fasilitasnya di android membuat segala sesuatu lebih mudah. Bisa membuat orang menjadi hebat dalam hitungan tidak terlalu lama, bisa membuat berantakan dalam segala kehidupan. Saat ini hampir semua orang bisa menjadi reporter, menjadi wartawan menulis membuat video konten yang terkadang tanpa berfikir panjang, untung rugi aspek kemanusiaan ada etika dan  kode etik  dalam   menjalankan misi profesionalitas. Perkembangan teknologi tidak bisa di hindari Bu Harsi yang tidak bisa membaca pun akhirnya tergilas oleh teknologi dan tidak tahu harus berbuat apa. Setelah kejadi itu sempat sakit dan beberapa hari tidak jualan bahkan pas kejadian video viral dan mengegerkan tidak bisa tidur. Saya sempat mengikuti perkembangan kejadian itu hingga Polsek Grogol Solo Baru turun tangan memberikan uluran dan bantuan pasca insiden itu dan juga memberikan pengertian. Apa kata nasi sudah terlanjur menjadi bubur tidak akan bisa dikembalikan untuk menjadi nasi lagi. Selalu ada pro kontra dalam komentar para pembaca seringkali para pembaca juga tidak tahu kejadian yang sebenarnya ikut menghakimi ada juga yang tidak tahu kejadinya ikut mendukung bu Harsi.

Para pembaca memiliki sudut pandang masing-masing dari latar belakang mereka yang beraneka ragam. Pembaca tidak tahu kejadian yang sebenarnya ikut andil dalam memberikan respon, apapun responya itu menjadi hal yang tidak bisa di hindari  hampir semua orang memiliki kebebasan dalam berpendapat. Namun jadilah pembaca yang bijak kalau memang tidak tahu yang sebenarnya cukup menjadi informasi. Kalaupun pingin yang sebenarnya paling tidak jangan berat sebelah apa kata bu Harsi dan apa kata pembeli, namun sayangnya pembeli yang sempat membuat viral tidak tahu tempat dan alamatnya. Dari bincang-bincang pagi, bu Harsi pingin kembali seperti semula warungnya bisa berjalan dan tetap ramai, tetapi saat ini hanya satu kwali saja itupun terkadang tidak habis, yang sebelumnya dalam satu hari bisa mencapai tiga kwali tengkleng. (mac)