Oleh : Mad Mac
LESINDO.COM – Barangkali salah satu kesalahan manusia adalah merasa terlalu cepat mengenal seseorang. Kita melihat seseorang hari ini, lalu membuat kesimpulan tentang siapa dirinya. Anak yang nakal kita sebut akan menjadi orang bermasalah. Anak yang biasa-biasa saja kita anggap tidak akan banyak berubah. Mereka yang prestasinya tidak menonjol sering kali luput dari perhatian.
Padahal manusia bukan sebuah kesimpulan.
Ia adalah perjalanan.
Dan perjalanan selalu menyimpan kemungkinan.
Saya kembali mengingat hal itu dalam sebuah perjalanan ke Lombok, beberapa tahun lalu.
Perjalanan itu saya persiapkan seperti perjalanan pada umumnya. Peralatan hunting saya siapkan untuk kebutuhan sekitar satu minggu. Dari Jawa, perjalanan dimulai melalui Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, menyeberang ke Gilimanuk, Bali.
Seharian berada di Bali, kemudian sore bergerak menuju Padangbai untuk menyeberang ke Pelabuhan Lembar, Lombok.
Dua malam di Lombok berlalu bersama berbagai cerita.
Tetapi seperti sering terjadi dalam perjalanan, cerita yang paling membekas justru bukan yang direncanakan.
Ia datang ketika perjalanan hampir selesai.
Dalam perjalanan pulang dari Bali menuju Banyuwangi, tubuh sudah terasa lelah. Beberapa teman mengajak singgah di kafe kapal, sekadar minum kopi.
Di salah satu sudut terdapat bangku panjang.
Saya hanya ingin duduk sebentar, mungkin merebahkan tubuh yang sejak pagi diajak berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Sebelum sempat menyandarkan tubuh, seorang teman mengatakan ada seseorang yang mencari saya.
Saya heran.
Siapa yang mengenal saya di kapal ini?
Tidak lama kemudian seseorang datang menghampiri.
Saya menatap wajahnya beberapa saat.
Ternyata ia mantan murid.
Yang membuat saya terdiam bukan hanya pertemuan itu, tetapi perubahan yang berdiri di hadapan saya.
Ia kini seorang perwira kapal, bertugas di kamar mesin.
Saya hampir tidak mengenalinya sebagai anak yang dahulu pernah berada di ruang kelas.
Ingatan saya kemudian kembali pada masa ketika ia masih menjadi siswa.
Ia bukan anak yang luar biasa.
Bahkan, pernah berada dalam situasi yang membuat sekolah mempertimbangkan untuk mengeluarkannya karena persoalan norma.
Prestasinya biasa saja.
Tidak terlalu menonjol di antara teman-temannya.
Kalau saat itu seseorang bertanya kepada saya bagaimana masa depannya, mungkin saya pun tidak akan mampu menjawab dengan pasti.
Namun waktu mempunyai cara sendiri untuk membantah penilaian manusia.
Setelah lulus dari SMK Pelayaran, ia mendapat kesempatan menjadi anak asuh. Ia disekolahkan, diarahkan, dan diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya.
Satu demi satu langkah dijalani.
Dan hari itu, saya bertemu dengannya bukan sebagai seorang siswa yang dahulu pernah membuat masalah.
Saya bertemu seorang perwira.
Di situlah saya seperti sedang berhadapan dengan sebuah cermin.
Cermin yang mengingatkan bahwa manusia sering kali terlalu percaya diri ketika menilai manusia lainnya.
Kita sering mengira tahu masa depan hanya karena pernah melihat masa lalunya.
Padahal masa lalu seseorang hanyalah satu halaman.
Bukan seluruh buku.
Seorang anak yang hari ini gagal belum tentu menjadi manusia gagal.
Seseorang yang hari ini tersesat belum tentu selamanya kehilangan jalan.
Dan seseorang yang hari ini belum terlihat memiliki apa-apa, bukan berarti hidupnya tidak akan membawa sesuatu yang berarti.
Barangkali yang membedakan manusia bukan semata-mata dari mana ia memulai, tetapi apakah ia masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
Kesempatan kadang datang dalam bentuk yang sederhana.
Seorang guru yang tidak menyerah.
Seseorang yang bersedia membimbing.
Lingkungan yang memberi ruang untuk berubah.
Atau mungkin sebuah peristiwa yang membuat seseorang sadar bahwa hidupnya harus diarahkan kembali.
Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam diri seseorang setelah ia meninggalkan pandangan kita.
Anak yang dahulu duduk di bangku sekolah telah pergi menjalani kehidupannya sendiri.
Kita tidak tahu berapa kali ia gagal.
Tidak tahu berapa kali ia hampir menyerah.
Tidak tahu siapa yang menolongnya.
Tidak tahu berapa panjang jalan yang harus ditempuhnya hingga akhirnya berdiri sebagai seorang perwira.
Yang kita lihat hanyalah hasil akhirnya.
Padahal di balik setiap perubahan selalu ada perjalanan yang panjang dan sering kali sunyi.
Mungkin demikian pula dengan kehidupan kita.
Ada masa ketika kita merasa sudah memilih jalan yang benar, tetapi ternyata kehidupan membawa kita ke arah yang sama sekali berbeda.
Kita ingin menuju A, tetapi justru sampai di B.
Kita menganggapnya sebagai kegagalan.
Padahal bisa jadi, kita hanya belum sampai pada bagian cerita yang menjelaskan mengapa kita harus berada di sana.
Kehidupan memang memiliki semacam plot twist yang tidak pernah memberi tahu kita sebelumnya.
Ia tidak selalu berjalan lurus.
Ada belokan.
Ada tanjakan.
Ada jalan yang terjal.
Ada persimpangan yang membuat kita ragu.
Kadang kita berjalan dengan keyakinan penuh, tetapi ternyata harus berbalik.
Kadang kita kehilangan arah justru ketika merasa sudah mengetahui tujuan.
Dan mungkin memang seperti itulah hukum alam bekerja.
Ia tidak menjanjikan hidup akan selalu sesuai dengan keinginan manusia.
Bahagia berdampingan dengan sedih.
Suka berdampingan dengan duka.
Datang berdampingan dengan kehilangan.
Pertemuan berdampingan dengan perpisahan.
Tidak ada yang benar-benar berdiri sendirian.
Karena itu, saya semakin percaya bahwa perjalanan bukan semata-mata tentang sampai di tujuan.
Perjalanan adalah tentang siapa yang kita temui, apa yang kita pelajari, dan bagaimana peristiwa-peristiwa kecil perlahan mengubah cara kita memandang kehidupan.
Termasuk pertemuan singkat di sebuah kafe kapal.
Pertemuan yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa.
Tetapi bagi saya, ia seperti pesan kecil dari kehidupan:
Jangan terlalu cepat memberi vonis kepada seseorang.
Sebab manusia masih mungkin berubah.
Dan hidup masih mungkin berubah.
Selama napas belum berhenti, cerita belum selesai.
Barangkali hari ini kita sedang berada di halaman yang tidak kita sukai.
Tetapi siapa yang tahu halaman berikutnya?
Mungkin justru di sanalah kehidupan mulai menunjukkan maknanya.
Maka berjalanlah.
Tidak harus selalu dengan kepastian.
Sebab manusia memang tidak dibekali kemampuan untuk mengetahui seluruh jalan di hadapannya.
Cukup satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Jika lelah, beristirahatlah.
Jika salah arah, carilah jalan kembali.
Jika jatuh, bangunlah.
Jika gagal, belajar lagi.
Dan jangan pernah malu memulai kembali.
Sebab tidak semua orang yang terlambat berarti kalah.
Tidak semua orang yang pernah jatuh berarti gagal.
Dan tidak semua orang yang dahulu dipandang sebelah mata akan selamanya berada di tempat yang sama.
Saya belajar itu dari seorang mantan murid.
Dulu saya mengenalnya sebagai seorang siswa yang biasa saja, bahkan pernah hampir kehilangan tempatnya di sekolah.
Bertahun-tahun kemudian, saya justru bertemu dengannya di sebuah kapal.
Ia telah menemukan jalannya.
Saya mungkin pernah menjadi gurunya di ruang kelas.
Tetapi malam itu, di tengah perjalanan laut menuju Banyuwangi, tanpa banyak kata, ia justru kembali menjadi guru bagi saya.
Ia mengajarkan sesuatu yang barangkali sering kita lupakan:
Kita hanya mengenal seseorang dari satu halaman hidupnya. Jangan merasa sudah membaca seluruh bukunya.
Dan mungkin, kita pun sedang berada dalam halaman yang sama.
Belum selesai ditulis.
Belum selesai dimengerti.
Masih mungkin berubah.
Masih mungkin menemukan arah.
Sebab selama Tuhan masih memberikan napas, selalu ada kemungkinan yang belum kita ketahui.
Maka teruslah berjalan.
Bukan karena kita tahu persis ke mana kehidupan akan membawa kita.
Tetapi karena kita percaya, setiap langkah yang dijalani dengan kesungguhan, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar, pada akhirnya akan menjadi bagian dari cerita yang suatu hari mungkin baru kita pahami.
Di jalan, kita tidak selalu menemukan tujuan.
Kadang kita justru menemukan diri sendiri.

