Oleh: Arunika
LESINDO.COM – Pagi itu, seekor rusa menatap kosong dari balik pagar besi. Tulang-tulang rusuknya tampak menonjol. Beberapa meter dari sana, seekor orangutan menggenggam erat jeruji kandang, seolah menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Di sudut lain, harimau berjalan lesu mengitari kandangnya. Bukan karena usia, melainkan karena tenaga yang perlahan habis.
Kebun binatang seharusnya menjadi tempat perlindungan terakhir bagi satwa yang tak lagi mampu bertahan di alam liar. Namun ketika makanan mereka justru dijadikan ladang korupsi, yang mati bukan hanya tubuh-tubuh satwa, melainkan juga rasa kemanusiaan.
Dugaan korupsi dana operasional di Kebun Binatang Surabaya (KBS) menjadi tamparan keras bagi akal sehat. Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan mantan Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya sebagai tersangka atas dugaan penyimpangan anggaran selama periode 2016–2024. Kerugian negara ditaksir mencapai Rp10,2 miliar.
Namun angka hanyalah sebagian kecil dari cerita.
Yang jauh lebih memilukan adalah akibatnya. Hewan-hewan yang sepenuhnya bergantung pada manusia diduga mengalami pengurangan pakan, perawatan yang buruk, kandang yang kotor, hingga akhirnya jatuh sakit, kurus, bahkan mati.
Menurut penyidik, salah satu modus yang digunakan ialah pengurangan pakan satwa disertai laporan pertanggungjawaban yang dimanipulasi melalui mark-up. Di atas kertas, makanan tersedia. Di dalam kandang, yang tersisa hanya rasa lapar.
Korupsi kali ini bukan sekadar menggerogoti uang negara.
Ia merampas hak makhluk hidup yang bahkan tak mampu bersuara.
Kasus ini sesungguhnya hanyalah potret kecil dari penyakit besar yang telah lama menggerogoti negeri.
Korupsi selalu menghasilkan korban yang tak terlihat.
Ketika anggaran jalan dicuri, masyarakat harus bertaruh nyawa melewati jalan berlubang. Distribusi hasil panen menjadi mahal, biaya logistik meningkat, dan roda ekonomi desa melambat.
Ketika dana irigasi dikorupsi, sawah kehilangan air. Petani gagal panen. Produksi pangan menurun. Harga kebutuhan pokok naik. Yang paling menderita adalah rakyat kecil yang penghasilannya pas-pasan.
Ketika anggaran pendidikan dipermainkan, ruang kelas rusak dibiarkan bertahun-tahun. Anak-anak belajar di bangunan yang rapuh. Masa depan mereka ikut tergerus.
Ketika anggaran kesehatan diselewengkan, obat-obatan berkurang, alat medis tak tersedia, pelayanan memburuk, dan nyawa menjadi taruhannya.
Korupsi selalu tampak sebagai angka dalam laporan audit.
Padahal di balik setiap angka terdapat penderitaan yang nyata.
Ada anak yang gagal sekolah.
Ada petani yang kehilangan panen.
Ada pasien yang tak tertolong.
Ada pedagang kecil yang kehilangan pelanggan karena jalan rusak.
Dan kini, ada satwa yang mati kelaparan.
Ironisnya, satwa-satwa itu tidak pernah memilih tinggal di kebun binatang. Mereka dipindahkan dari habitatnya agar manusia dapat belajar mencintai alam.
Namun justru manusia yang dipercaya mengelolanya diduga mengkhianati amanah itu.
Seekor harimau tidak memahami istilah mark-up.
Seekor gajah tidak mengenal laporan keuangan.
Seekor rusa tidak mengerti apa itu penyalahgunaan anggaran.
Yang mereka tahu hanyalah rasa lapar.
Dan rasa lapar itu, menurut dugaan penyidik, lahir dari keserakahan manusia.
Korupsi sering dianggap sebagai kejahatan tanpa darah.
Padahal kenyataannya, korupsi selalu menumpahkan penderitaan.
Ia membunuh secara perlahan.
Membunuh harapan.
Membunuh kesejahteraan.
Membunuh kesempatan.
Bahkan membunuh makhluk hidup yang tak pernah memiliki kesempatan membela dirinya.
Karena itu, keberhasilan mengungkap kasus korupsi tidak boleh berhenti pada penetapan tersangka. Yang jauh lebih penting ialah mengembalikan kepercayaan publik melalui proses hukum yang transparan, mengusut seluruh pihak yang terlibat apabila terbukti, memulihkan kerugian negara, serta memastikan tata kelola lembaga publik benar-benar dibenahi.
Negeri ini sesungguhnya tidak miskin.
Tanahnya subur.
Lautnya luas.
Hutannya kaya.
Sumber dayanya melimpah.
Yang sering kali membuat rakyat merasa miskin adalah ketika kekayaan itu bocor oleh tangan-tangan yang menyalahgunakan amanah.
Andai setiap rupiah anggaran benar-benar sampai kepada tujuannya, jalan-jalan desa mungkin telah mulus, irigasi mengalir tanpa hambatan, sekolah-sekolah lebih layak, rumah sakit lebih siap melayani, dan kebun binatang mampu merawat satwa dengan baik.
Korupsi tidak hanya mengambil uang.
Ia mengambil masa depan.
Dan ketika bahkan jatah makan satwa pun diduga ikut dikorupsi, pertanyaan yang tersisa bukan lagi seberapa besar kerugian negara.
Melainkan, seberapa jauh nurani kita telah kehilangan arah.

