Oleh: Dhen Bagus e Ngarso
Dari Wong Pintar Penjaga Desa, Menjadi Tokoh Gelap di Layar Kaca
LESINDO.COM –.Di banyak kampung di Jawa tempo dulu, sebelum ambulans meraung di jalan raya, sebelum klinik buka dua puluh empat jam, sebelum aplikasi kesehatan hadir di genggaman, ada satu pintu yang selalu diketuk ketika hidup sedang genting. Bukan rumah lurah. Bukan pula kantor mantri. Melainkan rumah seorang dukun.
Rumah itu biasanya sederhana. Di halaman tumbuh sirih, kelor, atau kunyit. Di terasnya tersandar tikar pandan. Orang datang silih berganti—ibu hamil, petani yang keseleo, anak kecil yang demam, pasangan yang hendak menikah, hingga warga yang merasa hidupnya sedang “tidak seimbang.”
Mereka datang bukan karena takut. Mereka datang karena percaya.
Hari ini, kata dukun justru sering memunculkan gambaran berbeda: asap kemenyan, mantra-mantra gelap, praktik santet, atau sosok misterius dalam film horor. Sebuah istilah yang dulu begitu terhormat perlahan berubah menjadi kata yang diucapkan dengan nada curiga.
Bagaimana sebuah profesi yang dahulu menjadi penyangga kehidupan sosial bisa mengalami pergeseran makna sedemikian drastis?
Wong Pintar dalam Struktur Desa
Dalam kosmologi masyarakat Jawa lama, dukun bukan sekadar penyembuh. Ia adalah wong pinter—orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih, bukan hanya tentang tubuh manusia, tetapi juga tentang musim, tanaman, perilaku sosial, hingga ritme kehidupan.
Ia memahami kapan padi sebaiknya ditanam berdasarkan pranata mangsa. Ia tahu daun apa yang meredakan panas, akar mana yang menghentikan pendarahan, dan doa apa yang menenangkan batin orang yang sedang kehilangan.
Dalam struktur sosial desa, dukun adalah perpustakaan berjalan.
Perannya pun sangat spesifik:
- Dukun Bayi, penjaga kelahiran dan keselamatan ibu.
- Dukun Pijat, pembaca anatomi tubuh lewat sentuhan.
- Dukun Suwuk, peramu doa, air, dan herbal.
- Dukun Manten, pengawal adat sekaligus estetika pernikahan.
Mereka bukan figur pinggiran. Mereka bagian dari sistem sosial yang bekerja jauh sebelum istilah “pelayanan publik” dikenal.
Ketika Kolonialisme Membawa Definisi Baru tentang Ilmu
Perubahan mulai terasa ketika kolonialisme membawa sistem medis Barat ke Hindia Belanda, termasuk ke Indonesia.
Rumah sakit, sekolah kedokteran, standar laboratorium, dan metode diagnosis modern perlahan membentuk definisi baru tentang apa yang disebut “ilmiah.”
Apa yang tidak bisa diukur, dianggap tidak valid.
Apa yang tidak tercatat, dianggap tidak dapat dipercaya.
Di titik itulah pengetahuan lokal mulai tersingkir.
Praktik penyembuhan yang selama berabad-abad hidup di desa-desa mendadak diberi label: tradisional, primitif, bahkan takhayul.
Dukun, yang semula penjaga hidup, mulai diposisikan sebagai kebalikan dari modernitas.
Agama, Pemurnian, dan Batas Baru
Memasuki abad ke-19 hingga ke-20, gelombang pemurnian ajaran agama ikut membentuk persepsi baru.
Ritual-ritual lokal yang memadukan doa, simbol alam, sesaji, atau komunikasi spiritual mulai dipertanyakan. Sebagian dianggap tidak lagi sejalan dengan ajaran yang dimurnikan.
Di sinilah istilah dukun mulai menyempit.
Ia tak lagi dipahami sebagai penyembuh atau penjaga adat, melainkan semakin sering dikaitkan dengan dunia gaib, mantra, dan praktik yang dianggap menyimpang.
Batas antara “kearifan lokal” dan “klenik” mulai kabur.
Layar Kaca Menyelesaikan Stigma
Jika kolonialisme menggeser otoritas, dan agama mempersempit makna, maka budaya pop menyempurnakan stigma.
Sejak era film horor Indonesia, terutama pada dekade 1970-an hingga kini, sosok dukun hampir selalu hadir dengan formula yang sama: wajah muram, ruangan remang, asap dupa, suara tertawa berat, dan kemampuan memanggil roh.
Film-film dari Rapi Films hingga gelombang horor modern memperkuat citra itu di benak publik.
Dukun tidak lagi hadir sebagai penolong.
Ia hadir sebagai ancaman.
Dan generasi yang tumbuh bersama layar kaca pun mewarisi definisi yang sudah berubah.
Ketika Penipu Ikut Memakai Nama yang Sama
Luka reputasi itu semakin dalam ketika muncul oknum yang menjual janji instan—pesugihan, penggandaan uang, pelet, hingga penyelesaian masalah hidup secara supranatural.
Media massa berkali-kali menampilkan kasus penipuan berkedok pengobatan spiritual.
Publik kemudian tidak lagi membedakan antara penjaga tradisi dan pelaku manipulasi.
Semuanya dilebur dalam satu kata: dukun.
Memayu Hayuning Bawana yang Terlupakan
Dalam filsafat Jawa, ada satu prinsip tua: Memayu Hayuning Bawana—merawat keselamatan dan keindahan dunia.
Di situlah sebenarnya posisi seorang dukun dahulu.
Ia bukan penguasa roh.
Ia bukan penjual ketakutan.
Ia adalah penjaga keseimbangan.
Menjembatani tubuh dan jiwa.
Menghubungkan manusia dengan alam.
Menjaga agar desa tetap hidup dalam harmoni.
Hari ini, ketika kata dukun lebih sering muncul di poster film horor ketimbang dalam ruang penghormatan budaya, pertanyaan besarnya bukan lagi siapa dukun sebenarnya.
Melainkan:
Sejak kapan kita membiarkan sebuah warisan pengetahuan kehilangan martabatnya hanya karena kita lupa membaca sejarah?

