spot_img
BerandaJelajahKemuning Sky Hills, Dari Bukit Persinggahan Menjadi Ikon Wisata Lereng Lawu

Kemuning Sky Hills, Dari Bukit Persinggahan Menjadi Ikon Wisata Lereng Lawu

Di kawasan inilah, pada ketinggian sekitar 800 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), berdiri hamparan Kebun Teh Kemuning, salah satu lanskap paling memikat di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah

LESINDO.COM – Kabut tipis masih menggantung di lereng barat Gunung Lawu ketika matahari perlahan menyibak ufuk timur. Embun menempel di pucuk-pucuk daun teh yang tersusun rapi mengikuti lekuk perbukitan. Udara pegunungan yang sejuk membawa aroma tanah basah, sementara deru kendaraan terdengar pelan menaklukkan tanjakan berliku menuju Tawangmangu.

Di kawasan inilah, pada ketinggian sekitar 800 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), berdiri hamparan Kebun Teh Kemuning, salah satu lanskap paling memikat di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Adapun kawasan Kemuning Sky Hills berada di kisaran 950 mdpl, menghadirkan suhu sejuk antara 18–25 derajat Celsius yang ideal bagi pertumbuhan tanaman teh sekaligus menjadi tempat berlibur yang menyegarkan.

Kemuning bukan sekadar kawasan perkebunan teh. Selama puluhan tahun, kawasan ini telah menjadi “beranda” pegunungan Karanganyar. Jalur berkelok yang menghubungkan Karanganyar, Ngargoyoso, hingga Tawangmangu membuat Bukit Kemuning menjadi tempat persinggahan favorit bagi para pelintas. Di sini, orang berhenti bukan karena ada wahana wisata, melainkan karena ingin menikmati udara segar, memandangi hamparan hijau, atau sekadar menyeruput teh hangat di warung sederhana di tepi jalan.

Kini, wajah Kemuning berubah. Di atas hamparan hijau itu membentang Kemuning Sky Hills, sebuah jembatan kaca sepanjang sekitar 120 meter yang menjadi ikon baru wisata Karanganyar. Berdiri pada ketinggian antara 15 hingga 38 meter dari permukaan tanah, jembatan itu menawarkan sensasi berjalan di atas kaca transparan dengan panorama perkebunan teh yang membentang luas.

Dari titik tertinggi jembatan, mata dapat menyapu hamparan kebun teh yang mengikuti kontur bukit layaknya permadani hijau tanpa ujung. Saat cuaca cerah, Gunung Lawu berdiri gagah di kejauhan. Sesekali, parasut layang berputar mengikuti hembusan angin di langit Kemuning, menghadirkan pemandangan yang membuat pengunjung spontan mengabadikan momen melalui kamera maupun telepon genggam.

Namun, pesona Bukit Kemuning sejatinya telah dikenal jauh sebelum jembatan kaca dibangun.

Dulu, kawasan ini hanyalah hamparan perkebunan teh milik PT Rumpun Sari Kemuning yang menjadi tempat beristirahat para pengendara. Jalur Solo–Tawangmangu dikenal memiliki tanjakan panjang dan tikungan tajam. Banyak sopir bus, pengemudi truk, pesepeda, hingga wisatawan sengaja berhenti sejenak untuk mengistirahatkan mesin kendaraan sekaligus melepas lelah sambil menikmati panorama lereng Lawu.

Kala itu belum ada loket tiket, pagar pembatas, maupun bangunan megah. Pengunjung cukup membayar tarif parkir kepada warga sekitar, lalu bebas berjalan menyusuri jalan setapak di antara tanaman teh. Warung-warung sederhana mulai bermunculan mengikuti ramainya pengunjung yang datang menikmati suasana pegunungan.

Udara pegunungan yang sejuk dan segar menjadi daya tarik pertama Kemuning Sky Hills. Di kanan dan kiri, hamparan kebun teh menghijau membentuk lanskap yang memikat. (mc)

Bagi para fotografer, Kemuning merupakan surga cahaya pagi. Saat matahari baru muncul, kabut perlahan terangkat dan sinarnya membentuk gradasi keemasan di atas hamparan daun teh. Pemandangan seperti itu menjadi buruan para pemburu lanskap. Sementara bagi komunitas pesepeda, tanjakan Kemuning merupakan salah satu rute favorit yang menguji ketahanan fisik sekaligus menyuguhkan panorama alam yang memanjakan mata.

Keindahan alamnya juga menarik perhatian para pencinta olahraga paralayang. Dari langit Kemuning, mereka melayang mengikuti arus angin lereng Lawu, menambah hidup panorama yang sudah indah dengan warna-warni parasut yang bergerak perlahan di angkasa.

Melihat potensi wisata yang terus berkembang, Pemerintah Kabupaten Karanganyar bersama PT Rumpun Sari Kemuning dan The Lawu Group mulai menata kawasan tersebut. Tonggak awal pembangunan ditandai dengan ground breaking jembatan kaca pada 17 Agustus 2017.

Pengerjaan dilakukan secara bertahap. Saat resmi dibuka pada 1 Januari 2023, panjang jembatan kaca baru sekitar 30 meter. Penyempurnaan terus dilakukan hingga akhirnya mencapai sekitar 120 meter, menjadikannya salah satu jembatan kaca terpanjang di kawasan wisata Jawa Tengah.

Jembatan tersebut menggunakan tempered laminated glass dengan ketebalan sekitar tiga sentimeter, dirancang mampu menahan beban pengunjung sehingga aman dilalui. Sensasi berjalan di atas lantai kaca dengan pemandangan langsung ke hamparan kebun teh menjadi pengalaman yang tidak ditemukan ketika kawasan ini masih sekadar menjadi tempat singgah.

Transformasi tidak hanya terjadi pada jembatan. Penataan kawasan juga membuat Kemuning Sky Hills tampil lebih rapi. Area parkir kendaraan roda empat ditempatkan di luar kawasan utama sehingga areal perkebunan tetap terjaga. Jalur pedestrian diperbaiki, musala, toilet, area kuliner, hingga berbagai spot swafoto dibangun untuk menunjang kenyamanan wisatawan. Kendaraan roda dua masih dapat melaju hingga mendekati ujung kawasan.

Biaya berkunjung pun relatif ramah di kantong. Pengunjung cukup membayar tarif parkir sepeda motor sekitar Rp3.000, tiket masuk kawasan Rp10.000, sedangkan untuk menikmati sensasi berjalan di atas jembatan kaca dikenakan tarif sekitar Rp30.000 per orang.

Kini, setiap akhir pekan, arus kendaraan menuju Ngargoyoso dan Tawangmangu hampir tak pernah sepi. Jalur wisata ini berkembang menjadi koridor destinasi yang saling terhubung. Di sepanjang jalan bermunculan berbagai objek wisata, kafe, restoran, penginapan, hingga tempat rekreasi keluarga yang membuat kawasan lereng Lawu semakin hidup. Bahkan perjalanan dapat diteruskan menuju Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Meski telah bertransformasi menjadi destinasi wisata modern, satu hal yang tetap dipertahankan adalah pesona alamnya. Hamparan teh yang menghijau dari pagi hingga senja masih menjadi pemeran utama. Kabut yang datang berganti sinar mentari, desir angin pegunungan, serta aroma khas daun teh tetap menjadi daya tarik yang tak lekang oleh waktu.

Kemuning Sky Hills pada akhirnya bukan sekadar menawarkan sensasi berjalan di atas jembatan kaca. Ia menjadi simbol bagaimana sebuah kawasan yang dahulu hanya dikenal sebagai tempat singgah di lereng Gunung Lawu mampu bertransformasi menjadi destinasi wisata unggulan tanpa kehilangan identitasnya.

Di ujung jembatan kaca itu, orang-orang memang datang untuk berburu foto. Namun ketika mereka berhenti sejenak memandang hamparan hijau yang membentang hingga kaki Gunung Lawu, sesungguhnya yang mereka bawa pulang bukan hanya gambar yang indah, melainkan kenangan tentang sebuah bukit yang tetap setia menjaga pesonanya, meski zaman terus berubah. (Mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments