spot_img
BerandaJelajahJejak Kerinduan di Lorong Waktu

Jejak Kerinduan di Lorong Waktu

Masa tua sering kali digambarkan sebagai masa ketika manusia menikmati hasil perjalanan hidup. Tetapi bagi sebagian orang, usia senja justru menjadi waktu untuk memungut kembali serpihan masa lalu.

Oleh : R. Hibban M

LESINDO.COM – Pada usia 62 tahun, langkahnya tak lagi tergesa seperti dahulu. Ia berjalan lebih pelan, seolah setiap langkah perlu diberi waktu untuk mengingat ke mana hendak menuju. Rambut yang memutih dan garis-garis di wajahnya menjadi semacam arsip kehidupan—menyimpan cerita tentang kehilangan, ketabahan, dan hari-hari panjang yang harus dilalui tanpa seseorang yang dahulu begitu dekat di hati.

Sore itu, ia duduk di teras rumah. Angin bergerak perlahan. Di hadapannya, sang cucu sesekali bermain, tertawa, lalu kembali mendekat kepadanya. Perempuan itu memandangnya lama. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dalam tatapan seorang nenek kepada cucunya: antara rasa sayang, kekhawatiran, sekaligus kerinduan kepada seseorang yang tidak mungkin lagi kembali.

Ia kemudian bercerita tentang putrinya.

Dulu, putrinya adalah seorang gadis yang manis, penurut, dan menjadi kebanggaan keluarga. Seperti ibu pada umumnya, ia pernah menyimpan banyak harapan untuk anak perempuannya. Membayangkan kehidupan yang baik, keluarga yang bahagia, dan hari tua yang kelak diisi percakapan sederhana bersama anak-anak dan cucu.

Namun kehidupan tidak selalu berjalan mengikuti rancangan manusia.

Setelah melahirkan, perubahan terjadi pada diri sang putri. Pergulatan batin yang berat membuat kehidupannya semakin sulit. Hari-hari yang semestinya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi masa yang penuh tekanan. Hingga pada sebuah titik, ia memilih mengakhiri hidupnya.

Bagi seorang ibu, kehilangan anak bukan perkara yang selesai hanya karena waktu berjalan.

Ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya belajar tinggal lebih dalam, bersembunyi di balik kesibukan, di antara doa-doa yang dipanjatkan dalam kesunyian, atau tiba-tiba muncul ketika sebuah lagu, aroma, tempat, atau suara memanggil kembali kenangan.

Barangkali begitulah duka bekerja.

Ia tidak selalu datang sebagai tangisan. Kadang ia hadir sebagai diam yang panjang.

Kadang sebagai tatapan kosong ke sebuah pintu yang tidak lagi akan terbuka.

Dan kadang sebagai kerinduan kepada seseorang yang hanya bisa ditemui dalam ingatan.

Merelakan Bukan Berarti Melupakan

Perempuan itu akhirnya memahami bahwa ada hal-hal dalam kehidupan yang tidak dapat diperbaiki. Masa lalu tidak mungkin diputar kembali. Putrinya tidak mungkin dipanggil pulang. Apa yang telah terjadi tidak dapat dinegosiasikan dengan takdir.

Yang tersisa hanyalah kemampuan untuk menerima.

Tetapi menerima bukan berarti melupakan.

Merelakan bukan berarti berhenti mencintai.

Justru karena cinta masih ada, kenangan itu tetap hidup.

Kini, sang cucu menjadi bagian paling penting dari kehidupannya. Anak kecil itu bukan sekadar cucu. Ia seperti jejak terakhir dari putri yang telah pergi. Pada wajahnya, mungkin ada sedikit kemiripan yang membuat hati kembali bergetar. Pada tawanya, ada suara masa lalu yang seakan datang sebentar lalu menghilang.

Bagi sang nenek, merawat cucu adalah cara lain untuk menjaga cinta.

Ia tahu, dirinya tidak lagi muda. Tenaga tidak seperti dahulu. Ada hari-hari ketika tubuh terasa lebih mudah lelah. Ada keterbatasan yang mulai datang bersama usia. Tetapi selama masih mampu, ia ingin memastikan cucunya tumbuh dengan kasih sayang.

Bukan untuk menggantikan sosok ibunya.

Tak ada seorang pun yang dapat menggantikan seorang ibu.

Ia hanya ingin menjadi tempat pulang bagi seorang anak yang sejak kecil harus mengenal kehilangan dengan cara yang mungkin belum sepenuhnya ia mengerti.

Merangkai Hari yang Tersisa

Masa tua sering kali digambarkan sebagai masa ketika manusia menikmati hasil perjalanan hidup. Tetapi bagi sebagian orang, usia senja justru menjadi waktu untuk memungut kembali serpihan masa lalu.

Ada yang kehilangan pasangan.

Ada yang kehilangan sahabat.

Ada yang harus hidup jauh dari anak-anaknya.

Dan ada pula yang seperti perempuan itu: kehilangan seorang anak, lalu harus belajar menjalani hari bersama cucu yang menjadi peninggalan paling berharga dari kehidupan yang telah pergi.

Ia tidak lagi membuat rencana terlalu jauh.

Hari ini cukup dilalui dengan baik.

Esok, jika Tuhan masih memberi umur, dijalani kembali.

Begitulah kehidupan kemudian menjadi sederhana: menyiapkan makanan, memastikan cucu sekolah, mendengarkan ceritanya, menemaninya ketika sakit, atau sekadar duduk bersama ketika sore mulai turun.

Hal-hal kecil yang dahulu mungkin dianggap biasa, kini justru menjadi alasan untuk bersyukur.

Ia mulai menyadari, kehidupan tidak selalu meminta manusia untuk menjadi kuat sepanjang waktu. Kadang kehidupan hanya meminta seseorang bertahan satu hari lagi.

Kemudian satu hari lagi.

Dan satu hari lagi.

Sampai tanpa terasa, hari-hari itu menjadi tahun.

Di usia yang telah melewati enam dekade, ia mungkin tidak lagi memiliki banyak keinginan. Ia hanya berharap cucunya tumbuh menjadi manusia baik. Memiliki kehidupan yang lebih panjang dan lebih bahagia. Tidak perlu mengalami luka yang sama seperti ibunya.

Itulah bentuk cinta yang telah berubah menjadi doa.

Di Antara Rindu dan Ikhlas

Sesekali, ketika cucunya tertidur, perempuan itu mungkin kembali mengingat putrinya.

Ia membayangkan wajah yang dahulu begitu akrab. Mengingat masa kecilnya. Mengingat suara ketika memanggilnya “Ibu”. Mengingat pertengkaran kecil, tawa, dan berbagai peristiwa yang kini terasa jauh.

Barangkali ada pertanyaan yang sesekali masih berputar di dalam pikirannya.

Mengapa harus berakhir seperti itu?

Mengapa seorang anak yang pernah dibesarkan dengan penuh cinta harus pergi mendahului ibunya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu mungkin tidak pernah memiliki jawaban yang benar-benar memuaskan.

Maka ia memilih berhenti mencari jawaban.

Ia memilih berdoa.

Sebab ada saatnya manusia harus menerima bahwa tidak semua misteri kehidupan dapat diselesaikan dengan logika. Ada bagian-bagian kehidupan yang hanya dapat diserahkan kepada Tuhan.

Rindu tetap ada.

Luka mungkin tetap berbekas.

Tetapi kehidupan harus diteruskan.

Di situlah kedewasaan sering kali menemukan maknanya: bukan ketika seseorang tidak lagi merasakan kehilangan, melainkan ketika ia mampu membawa kehilangan itu tanpa membiarkannya menghentikan langkah.

Sisa Usia, Sebuah Amanah

Kini, ketika matahari mulai condong ke barat dan bayangan pepohonan memanjang di halaman, perempuan itu mungkin kembali memandang cucunya.

Anak itu adalah masa depan.

Sementara dirinya adalah masa lalu yang masih diberi kesempatan untuk menemani masa depan itu tumbuh.

Ada kesadaran bahwa waktu tidak pernah berhenti. Suatu hari nanti, dirinya pun akan meninggalkan dunia ini. Karena itu, ia ingin menggunakan sisa usia bukan untuk terus bertanya mengapa putrinya pergi, melainkan untuk memastikan bahwa cinta yang pernah ia berikan kepada putrinya tidak berhenti begitu saja.

Cinta itu diteruskan kepada cucunya.

Dari seorang ibu kepada anak.

Dari anak kepada anaknya.

Dari masa lalu kepada masa depan.

Barangkali demikian cara cinta melawan kematian.

Bukan dengan membuat seseorang yang telah pergi kembali, melainkan dengan membuat kebaikan dan kasih sayangnya tetap hidup pada mereka yang ditinggalkan.

Perempuan itu telah kehilangan seorang putri.

Namun ia masih memiliki seorang cucu untuk dipeluk.

Masih memiliki pagi untuk disambut.

Masih memiliki sore untuk direnungkan.

Masih memiliki doa untuk dipanjatkan.

Dan masih memiliki langkah-langkah kecil yang, meski tak lagi sekuat masa muda, tetap membawanya menuju hari berikutnya.

Pada akhirnya, kehidupan masa tua bukan semata tentang berapa panjang waktu yang tersisa. Ia tentang bagaimana seseorang menggunakan sisa waktu itu untuk berdamai dengan apa yang tidak bisa diubah.

Putrinya telah pergi.

Kerinduannya mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai.

Tetapi ia memilih tetap hidup.

Bukan karena dukanya telah hilang, melainkan karena di hadapannya masih ada seorang cucu yang membutuhkan kasih sayang.

Maka setiap pagi, ia kembali membuka pintu.

Setiap sore, ia kembali duduk menunggu matahari tenggelam.

Dan setiap malam, sebelum tidur, mungkin ia menitipkan satu doa kepada langit:

Jika rindu ini tak lagi sampai kepada anakku yang telah pergi, biarlah Tuhan yang menyampaikannya. Dan selama cucuku masih berada di sisiku, izinkan aku merangkai hari-hari yang tersisa dengan cinta.

Sebab pada usia senja, manusia barangkali tidak lagi mengejar banyak hal.

Ia hanya ingin pulang dengan hati yang lebih lapang.

Dan perempuan itu sedang belajar melakukannya—perlahan, bersama cucunya, sembari membawa kenangan seorang putri yang tidak pernah benar-benar pergi dari hatinya.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments