Ketika Hati Belajar Memulangkan Sandarannya ke Langit
LESINDO.COM – Pagi selalu datang dengan cara yang sama. Matahari menyibak gelap tanpa suara, embun menggantung di ujung daun, dan burung-burung memulai nyanyiannya seolah dunia tidak pernah menyimpan luka.
Namun manusia tidak selalu menyambut pagi dengan hati yang tenang.
Ada yang bangun dengan dada sesak, bukan karena kehilangan harta, melainkan karena kehilangan seseorang yang dulu begitu dipercaya. Ada yang memulai hari dengan wajah muram karena pesan yang tak kunjung dibalas, janji yang tak ditepati, perhatian yang perlahan memudar, atau kebaikan yang berakhir dengan pengkhianatan.
Barangkali begitulah kehidupan. Luka paling dalam sering kali bukan ditorehkan oleh musuh, melainkan oleh harapan yang kita titipkan kepada orang-orang yang kita cintai.
Kita berharap dipahami tanpa banyak kata. Berharap kesetiaan tak berubah oleh waktu. Berharap kebaikan yang kita tanam tumbuh menjadi balasan yang sama. Berharap seseorang tetap tinggal ketika musim kehidupan berganti.
Padahal, sejak awal, manusia diciptakan dengan satu sifat yang tak mungkin dihapuskan: keterbatasan.
Ia bisa berubah karena keadaan. Bisa lelah oleh perjalanan. Bisa lupa karena kesibukan. Bisa pergi karena takdir. Bahkan orang yang paling tulus sekalipun tidak selalu mampu memenuhi seluruh harapan yang kita letakkan di pundaknya.
Sayangnya, hati sering kali lupa membedakan antara mencintai dan menggantungkan diri.
Ketika cinta berubah menjadi ketergantungan, setiap perubahan sikap manusia terasa seperti gempa yang meruntuhkan seluruh isi dada. Kita menjadi mudah kecewa bukan semata karena mereka berubah, tetapi karena kita menaruh terlalu banyak harapan pada sesuatu yang memang tidak pernah dijanjikan akan tetap sama.
Bukankah bahkan pohon yang paling kokoh pun suatu hari akan menggugurkan daunnya?
Lalu mengapa kita menuntut manusia untuk selalu menjadi tempat bersandar yang tak pernah goyah?
Hidup perlahan mengajarkan bahwa ada perbedaan besar antara menjadikan manusia sebagai teman perjalanan dan menjadikannya tujuan perjalanan.
Manusia hanyalah jembatan. Ia bukan dermaga terakhir.
Ia hanyalah sebab yang Allah hadirkan, bukan sumber dari segala pertolongan.
Maka memutus harapan kepada makhluk bukan berarti berhenti mencintai. Bukan pula menutup diri dari persahabatan atau enggan menerima pertolongan. Justru kita tetap hadir untuk saling menguatkan, tetap menggenggam tangan orang-orang yang kita sayangi, tetap bekerja sama dalam kebaikan.
Yang berubah hanyalah arah sandaran hati.
Kita tidak lagi berharap berlebihan kepada manusia, sebab kita tahu bahwa mereka pun sedang berjuang menghadapi keterbatasannya sendiri.
Sandaran itu perlahan dipulangkan kepada Allah.
Dan ketika hati mulai bersandar kepada-Nya, kehidupan menghadirkan rasa yang berbeda.
Kekecewaan masih datang, tetapi tidak lagi merobohkan seluruh harapan. Kehilangan masih menyapa, tetapi tidak membuat hidup kehilangan makna. Penolakan tetap ada, tetapi tidak menjadikan diri merasa tak berharga.
Ada keyakinan yang diam-diam tumbuh di dalam dada: bahwa setiap pintu yang tertutup hanyalah isyarat agar kita menemukan pintu lain yang telah Allah siapkan.
Barangkali memang demikian cara Tuhan mendidik hati.
Sesekali manusia mengecewakan agar kita tidak lupa bahwa tempat bergantung yang sejati bukan berada di bumi.
Sesekali harapan dipatahkan agar kita belajar mengangkat pandangan lebih tinggi daripada sekadar wajah-wajah yang silih berganti.
Sebab jika semua keinginan selalu dipenuhi manusia, mungkin kita akan lupa mengetuk pintu langit.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang menemukan seseorang yang mampu memenuhi seluruh harapan kita. Tidak ada manusia yang memiliki kemampuan sebesar itu.
Hidup adalah perjalanan untuk menemukan bahwa ada Zat Yang tidak pernah berubah meski dunia terus berganti.
Manusia dapat datang dan pergi.
Musim dapat berganti.
Waktu dapat memisahkan.
Usia dapat mengurangi kekuatan.
Namun kasih sayang Allah tidak pernah mengenal kata selesai.
Maka, ketika harapan terasa terlalu berat dipikul oleh manusia, pulangkanlah ia kepada langit.
Di sanalah hati menemukan rumahnya.
Sebab hanya kepada Allah harapan tidak pernah kehilangan tempat untuk kembali.(Dre)

