LESINDO.COM – Di tengah hiruk-pikuk berita tentang kekerasan, korupsi, dan perebutan kepentingan, ada orang-orang sederhana yang diam-diam merawat kehidupan. Mereka tidak memiliki jabatan tinggi, tidak berlimpah harta, tetapi memilih menggunakan apa yang dimiliki untuk menolong sesama.
Ada ironi yang kerap hadir dalam kehidupan kita.
Televisi setiap hari menayangkan kabar tentang manusia yang tega menghilangkan nyawa hanya karena persoalan sepele. Sebuah pertengkaran kecil dapat berubah menjadi tragedi. Sebuah persoalan pribadi bisa berakhir menjadi berita besar dan viral.
Di sisi lain, ada kebaikan yang berlangsung dalam kesunyian.
Seorang guru honorer mengajar anak-anak tanpa meminta bayaran. Seorang ibu menyisihkan waktu untuk mengurus anak yatim. Ada orang sederhana yang sebagian penghasilannya digunakan untuk membantu tetangga yang kesulitan. Mereka bekerja tanpa kamera, tanpa panggung, dan tanpa berharap namanya disebut.
Kebaikan semacam itu sering kali justru luput dari pemberitaan.
Padahal, dari sanalah kita bisa melihat wajah manusia yang sesungguhnya.
Hati yang Menentukan Ke Mana Langkah Pergi
Kehidupan pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, jabatan apa yang berhasil diraih, atau seberapa tinggi seseorang ditempatkan dalam struktur sosial.
Ada sesuatu yang jauh lebih menentukan: hati.
Seseorang boleh memiliki kekuasaan, pendidikan tinggi, rumah megah, kendaraan mahal, dan rekening yang berlimpah. Namun semua itu tidak otomatis menjadikannya manusia yang mulia.
Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana, dengan penghasilan terbatas, belum tentu miskin dalam arti yang sesungguhnya. Bisa jadi hatinya jauh lebih kaya karena masih memiliki kepedulian, empati, dan keinginan untuk berbagi.
Karena itu, ukuran kemuliaan manusia tidak selalu terlihat dari apa yang melekat pada tubuhnya. Kadang ia justru terlihat dari apa yang dilakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Ada orang yang memiliki jabatan tetapi masih tergoda memperkaya diri melalui korupsi. Ada pula orang yang penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi masih berpikir bagaimana membantu orang lain.
Yang membedakan bukan semata-mata jumlah harta.
Melainkan ke mana hati diarahkan.
Belajar dari Lebah dan Lalat
Ada sebuah perumpamaan sederhana tentang lebah dan lalat.
Lebah akan mencari bunga. Ia mendatangi tempat-tempat yang menghasilkan sesuatu yang bersih dan bermanfaat. Sementara lalat, meskipun berada di tengah lingkungan yang penuh dengan makanan bersih, tetap akan mencari sesuatu yang kotor.
Bukan karena dunia hanya menyediakan bunga bagi lebah dan sampah bagi lalat.
Keduanya hidup di dunia yang sama.
Yang berbeda adalah apa yang dicari.
Begitu pula manusia.
Orang yang membiasakan hatinya mencari kebaikan akan lebih mudah melihat peluang untuk berbuat baik. Sebaliknya, hati yang terbiasa dipenuhi iri, keserakahan, kebencian, dan kepentingan diri sendiri akan cenderung mencari celah untuk mengambil keuntungan.
Di sinilah hati menjadi semacam “sensor” kehidupan.
Apa yang sering kita cari, itulah yang perlahan membentuk diri kita.
Dari Rumah Sederhana, Tumbuh Kepedulian
Di Kampung Salimah, Desa Gintung, Cilejet, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, seorang guru honorer bernama Ayya Susi Damayanti memilih jalan yang berbeda.
Perempuan yang akrab disapa Aya itu bukan seorang pejabat. Ia bukan orang kaya dengan sumber daya berlimpah.
Ia adalah seorang guru honorer dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan.
Namun keterbatasan ekonomi tidak membuat langkahnya berhenti.
Bersama suaminya, Aya berusaha membantu anak-anak yatim, keluarga kurang mampu, dan anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah karena persoalan ekonomi. Dari kepedulian itu kemudian lahirlah sebuah tempat yang diberi nama Istana Yatim Piatu dan Duafa Baitul Qurro.
Tempat itu menjadi ruang belajar sekaligus rumah bagi mereka yang membutuhkan perhatian.
Saat ini, menurut Aya, terdapat sekitar 125 anak yatim yang berada dalam pendampingannya. Sebagian di antaranya bahkan mengalami putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.
“Anak yatim yang putus sekolah karena persoalan ekonomi harus kita bantu agar bisa kembali belajar,” ujar Aya.
Bagi Aya, pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena seseorang lahir dari keluarga yang tidak mampu.
Mengubah Bambu Menjadi Harapan
Namun Aya memahami bahwa membantu tidak cukup hanya dengan memberikan sesuatu.
Orang-orang yang dibantu juga perlu diberi kesempatan untuk memiliki kemampuan dan penghasilan.
Karena itu, para ibu dari keluarga kurang mampu diajak membuat berbagai kerajinan tangan. Bambu dan kain bekas yang selama ini dianggap tidak bernilai diubah menjadi barang yang memiliki nilai jual.
Bakul, kipas, tas selempang hingga tas gantungan telepon seluler menjadi bagian dari hasil kreativitas mereka.
Hasil penjualan kerajinan tersebut kemudian digunakan untuk membantu membiayai kebutuhan anak-anak yatim.
Di tangan mereka, bambu bukan sekadar bambu.
Ia berubah menjadi harapan.
Kain bekas bukan lagi barang yang tidak berguna. Ia menjadi sumber penghasilan kecil yang membantu sebuah keluarga bertahan.
Di sinilah pendidikan bertemu dengan pemberdayaan.
Aya tidak sekadar mengajarkan mata pelajaran kepada anak-anak. Ia juga berusaha mengajarkan keterampilan hidup kepada keluarga mereka.
Mengajar Tanpa Papan Tulis
Bagi anak-anak yang putus sekolah, Aya memberikan pelajaran secara gratis.
Tidak selalu ada ruang kelas yang ideal. Tidak selalu tersedia fasilitas pendidikan yang lengkap.
Namun proses belajar tetap berjalan.
Sebab pendidikan pada hakikatnya tidak hanya berlangsung di gedung sekolah. Pendidikan dapat tumbuh di rumah sederhana, di ruang yang terbatas, bahkan dari percakapan seorang guru dengan anak yang hampir kehilangan harapan.
Aya seolah ingin mengatakan bahwa kemiskinan seharusnya tidak menjadi alasan bagi seorang anak untuk kehilangan masa depan.
Ia sendiri merasakan bagaimana beratnya hidup dengan penghasilan terbatas. Tetapi justru dari keterbatasan itu muncul keberanian untuk berbagi.
Barangkali inilah bentuk kekayaan yang lain.
Bukan kekayaan yang tersimpan di rekening, melainkan kekayaan hati.
Tidak Menunggu Menjadi Kaya untuk Berbuat Baik
Ada pelajaran penting dari perjalanan Aya.
Kebaikan tidak selalu harus menunggu seseorang menjadi kaya.
Kita sering berpikir akan membantu orang lain ketika sudah memiliki banyak uang. Akan bersedekah ketika penghasilan sudah besar. Akan berbagi ketika kehidupan sudah mapan.
Padahal, kehidupan tidak pernah menjanjikan kapan seseorang akan menjadi kaya.
Jika kebaikan selalu menunggu kekayaan, mungkin terlalu banyak kesempatan untuk menolong yang akan terlewatkan.
Aya justru memulai dari apa yang ia punya.
Ia memiliki kemampuan mengajar, maka ia mengajar.
Ia memiliki waktu, maka ia meluangkan waktu.
Ia memiliki keterampilan dan jaringan sosial, maka ia menggunakannya.
Ia tidak menunggu menjadi orang kaya untuk berbuat baik.
Ketika Kebaikan Tidak Membutuhkan Panggung
Yang menarik dari kisah Aya adalah cara ia menjalankan perjuangannya.
Ia tidak memiliki mesin besar untuk menggerakkan kegiatan sosial. Ia tidak menunggu bantuan dari banyak pihak. Bahkan, ia pernah menjalankan tempat tersebut dengan segala keterbatasan yang ada.
Hasil kerajinan dipasarkan melalui media sosial.
Sedikit demi sedikit.
Dari satu pembeli ke pembeli berikutnya.
Dari satu kerajinan ke kerajinan berikutnya.
Dari sana, sebuah gerakan kecil terus tumbuh.
Anak-anak yang awalnya hanya menerima bantuan kemudian melihat orang tua mereka ikut bekerja. Para ibu belajar membuat kerajinan. Hasilnya digunakan untuk membantu pendidikan anak-anak yatim.
Lingkaran kebaikan pun terbentuk.
Satu orang membantu orang lain. Orang yang dibantu kemudian memperoleh kemampuan untuk membantu keluarganya. Dari sana tumbuh kembali harapan bagi anak-anak mereka.
Yang Viral Belum Tentu yang Paling Berharga
Kita hidup di zaman ketika sesuatu yang buruk dapat menyebar dalam hitungan menit.
Kekerasan direkam.
Pertengkaran disebarkan.
Kemudian jutaan orang menonton.
Sementara seseorang yang setiap hari mengajar anak-anak tanpa bayaran mungkin tidak pernah masuk halaman utama media sosial.
Padahal, jika berita tentang kebaikan juga mendapat ruang yang sama, masyarakat akan memiliki lebih banyak contoh tentang bagaimana menjadi manusia.
Barangkali kita terlalu sering mengukur sesuatu berdasarkan jumlah penonton.
Sesuatu dianggap penting karena viral.
Padahal, nilai sebuah perbuatan tidak ditentukan oleh berapa banyak orang yang melihatnya.
Seorang guru yang mengajar satu anak hingga kembali sekolah mungkin tidak menjadi viral. Tetapi bagi anak tersebut, perbuatan itu bisa mengubah seluruh hidupnya.
Seorang ibu yang membuat satu tas dari bambu mungkin tidak dikenal banyak orang. Tetapi hasil penjualan tas itu bisa membantu seorang anak tetap bersekolah.
Kebaikan tidak selalu membutuhkan tepuk tangan.
Memilih Menjadi Lebah
Kita mungkin tidak bisa mengubah seluruh dunia.
Tetapi kita selalu bisa memilih apa yang akan dicari oleh hati kita.
Apakah kita akan menjadi seperti lalat yang selalu menemukan sesuatu yang kotor untuk dipersoalkan?
Ataukah seperti lebah yang terus mencari bunga, mengambil sesuatu yang baik, lalu menghasilkan sesuatu yang juga bermanfaat bagi kehidupan?
Pilihan itu berada dalam diri masing-masing.
Kisah Aya mengingatkan bahwa kemuliaan tidak selalu tumbuh dari gedung megah dan jabatan tinggi. Ia bisa tumbuh dari rumah sederhana, dari tangan seorang ibu yang menganyam bambu, dari suara seorang guru yang mengajar anak-anak secara cuma-cuma, dan dari hati seseorang yang memilih berbagi meskipun dirinya sendiri masih memiliki banyak keterbatasan.
Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya dinilai dari apa yang dimilikinya.
Manusia juga dikenang dari apa yang dilakukannya untuk kehidupan orang lain.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh berita tentang keserakahan dan kekerasan, kita justru membutuhkan lebih banyak cerita tentang orang-orang sederhana seperti Aya.
Orang-orang yang tidak banyak bicara tentang kebaikan.
Tetapi diam-diam mengerjakannya.
Sebab dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang sukses.
Dunia membutuhkan manusia yang hatinya tetap bersih ketika memiliki kesempatan untuk ber

