spot_img
BerandaJelajahjelajahDua Cangkir Kopi dan Jalan Panjang Seorang Kuli Tinta

Dua Cangkir Kopi dan Jalan Panjang Seorang Kuli Tinta

Kepahitan tidak selalu datang untuk membuat seseorang menyerah. Kadang ia hanya sedang mengajarkan cara menikmati perjalanan.

LESINDO.COM – Ia memulai jurnalistik tanpa kamera, tanpa alat perekam, bahkan tanpa sepeda motor. Hanya kertas, tinta, dan keberanian untuk terus berjalan. Puluhan tahun kemudian, ia masih berada di jalan yang sama, meski dunia jurnalistik telah berubah berkali-kali.

Secangkir kopi yang tidak terlalu manis membuka percakapan malam itu.

Uapnya perlahan menghilang di antara kepulan udara dan obrolan tentang waktu yang telah berjalan terlalu jauh. Kopi pertama terasa pahit. Namun ia menikmatinya seperti menikmati perjalanan hidup yang tak selalu sesuai dengan harapan.

“Dulu saya ingin menjadi kuli tinta,” katanya.

Keinginan itu muncul sejak duduk di bangku SMA. Sederhana saja. Ia menganggap profesi wartawan keren: pergi ke berbagai tempat, bertemu banyak orang, menulis berita, lalu melihat namanya tercetak di koran.

Ada satu hal yang tidak pernah ia bayangkan ketika itu: wartawan bisa menulis hampir semua berita, kecuali berita tentang hidupnya sendiri.

Padahal, hidupnya justru seperti berita panjang yang belum selesai ditulis.

Ia memulainya dari hampir tidak memiliki apa-apa.

Tidak ada kamera. Tidak ada recorder. Sepeda motor pun bukan miliknya. Untuk mengejar berita, ia mengandalkan angkutan kota dan bus. Jalan yang tidak dikenalnya sering membawanya ke arah yang salah. Pernah pula ia tersesat karena salah jurusan.

Tetapi pekerjaan harus tetap selesai.

Di situlah romantika jurnalistik pada masa awalnya bermula.

Kertas, tinta, dan jalan yang panjang

Pada masa ketika peralatan jurnalistik identik dengan kamera, tape recorder, sepeda motor dan akses komunikasi yang cepat, ia justru berjalan dengan keterbatasan.

Prinsipnya sederhana: selesaikan tugas yang ada di depan mata.

Tak punya kamera bukan berarti berita berhenti.

Tak punya recorder bukan berarti wawancara batal.

Ada kertas dan tinta, maka berita masih bisa ditulis.

Ia seperti orang yang mengayuh sepeda. Tidak perlu terburu-buru. Yang penting terus bergerak.

“Jalani saja apa yang ada. Jangan terlalu banyak meminta fasilitas. Tuhan tahu apa yang kita mau. Hanya saja Tuhan belum memberikan apa yang kita inginkan,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan seorang pekerja yang terlalu lama berdamai dengan keterbatasan.

Namun jika ditelusuri lebih jauh, di dalamnya ada persoalan yang lebih besar: seberapa jauh idealisme dapat bertahan ketika profesi tidak menyediakan perangkat untuk mempertahankan hidup?

Ia pernah mendapatkan peluang menjadi kontributor sebuah televisi nasional.

Kesempatan itu seharusnya menjadi lompatan karier.

Tetapi lagi-lagi peralatan menjadi persoalan.

Dunia televisi membutuhkan kamera, perangkat perekam dan kemampuan produksi yang tidak murah. Ia tidak memilikinya.

Kesempatan itu pun lewat.

“Ah, belum rezeki menjadi kontributor daerah,” katanya pelan.

Tidak ada kemarahan dalam kalimat itu. Hanya semacam penerimaan terhadap nasib.

Dari koran kecil menuju senja media cetak

Perjalanannya kemudian membawa dia dari satu media ke media lain.

Ia pernah bekerja di media kecil yang baru memulai penerbitan. Ia juga pernah merasakan bekerja untuk media cetak nasional berbasis di Jawa Timur. Media-media kecil lainnya turut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.

Namun dunia pers yang ia masuki perlahan berubah.

Ada masa ketika media cetak berada di puncak kejayaan. Berita yang ditulis hari ini masih memiliki ruang untuk dibaca esok pagi. Teknologi cetak jarak jauh membuat koran dapat diproduksi lebih dekat dengan wilayah pembacanya.

Berita tidak lagi harus menempuh perjalanan panjang dari satu kota ke kota lain.

Tetapi kejayaan itu tidak berlangsung selamanya.

Satu demi satu media cetak mulai kehilangan pembaca. Beberapa perusahaan media mengecil. Sebagian berhenti terbit. Ada tulisan wartawan yang bahkan berbulan-bulan tidak dapat diambil karena perusahaan medianya berada di ambang keruntuhan.

Ia mengalami masa itu dari dekat.

Bukan dari laporan tahunan perusahaan.

Bukan dari seminar industri media.

Melainkan dari honor tulisan yang tidak kunjung diterima.

Di titik inilah romantisme menjadi lebih mahal daripada sekadar secangkir kopi.

Menjadi wartawan bukan hanya soal mencari berita. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: bagaimana seorang jurnalis bertahan hidup ketika medianya sendiri tidak mampu bertahan?

Teknologi mengubah cara berita dilahirkan

Kemudian datang internet.

Media online tumbuh seperti jamur setelah hujan. Kecepatan menjadi ukuran baru. Berita tidak lagi menunggu halaman koran dicetak.

Kamera ponsel menggantikan sebagian fungsi kamera profesional. Recorder berpindah ke dalam telepon genggam. Naskah dapat dikirim dalam hitungan detik.

Dunia jurnalistik menjadi lebih cepat.

Tetapi cepat tidak selalu berarti sejahtera.

Ia menyadari bahwa perubahan teknologi telah menggeser fondasi profesi. Keterampilan menulis saja tidak lagi cukup untuk menjamin kehidupan.

Seorang jurnalis harus mampu memahami teknologi, fotografi, video, media sosial, pengelolaan platform digital, bahkan membaca perubahan perilaku pembaca.

“Menjadi kuli tinta itu tidak akan memberikan sumber finansial yang cukup kalau tidak punya kemampuan di bidang lain,” katanya.

Profesi itu, baginya, akhirnya menjadi jembatan.

Jembatan untuk bertemu banyak orang.

Jembatan untuk membangun jaringan.

Jembatan untuk belajar.

Dan, bagi sebagian orang, jembatan menuju profesi lain yang memberikan penghasilan lebih layak.

Ironisnya, profesi yang dahulu terlihat begitu keren justru sering berdiri di atas fondasi ekonomi yang rapuh.

Idealisme yang terjebak di zona nyaman

Ia melihat sejumlah kawan seperjalanan yang masih bertahan di jalan jurnalistik.

Sebagian medianya sudah tidak terbit.

Tetapi mereka masih berada di jalan.

Ada yang bertahan karena idealisme. Ada yang bertahan karena tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ada pula yang tidak memiliki keterampilan lain untuk berpindah.

Menurutnya, persoalannya bukan semata-mata medianya.

Ada masalah yang lebih personal: kemauan untuk belajar.

Dunia tidak pernah berhenti berubah.

Jika seseorang hanya mengandalkan keterampilan yang dimilikinya dua puluh atau tiga puluh tahun lalu, maka perubahan zaman perlahan akan meninggalkannya.

Ia mengambil contoh Nokia.

Dahulu, Nokia seperti penguasa telepon seluler. Namanya identik dengan telepon genggam. Kompetitor tampak kesulitan mengejar.

Namun teknologi berubah.

Kebutuhan manusia berubah.

Android berkembang.

Pasar bergerak.

Nokia akhirnya mencoba masuk ke dunia Android, tetapi langkah itu datang ketika kompetitor sudah lebih dahulu membaca arah perubahan.

“Apakah Nokia salah?” ia bertanya.

Menurutnya, tidak.

Nokia hanya terlalu lama berada di zona nyaman.

Dan itulah pelajaran yang menurutnya berlaku bagi siapa pun, termasuk wartawan.

Jangan merasa aman hanya karena hari ini masih dibutuhkan.

Sebab kebutuhan manusia berubah.

Teknologi berubah.

Media berubah.

Dan profesi pun berubah.

Jurnalis yang belajar dari kekurangan

Perjalanan panjang itu akhirnya memperlihatkan satu paradoks.

Ia memulai jurnalistik karena menganggap profesi itu keren. Kemudian ia menjalani kenyataan bahwa profesi tersebut tidak selalu mampu menghidupi dirinya.

Namun ia tidak benar-benar meninggalkannya.

Mengapa?

Mungkin karena ada pekerjaan yang tidak sepenuhnya dapat diukur dengan uang.

Menulis membuatnya bertemu manusia.

Berita membawanya ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah ia kenal.

Keterbatasan memaksanya belajar.

Kesulitan membuatnya memahami bahwa hidup tidak selalu memberikan fasilitas sebelum seseorang mulai bekerja.

Kadang justru seseorang harus bekerja lebih dahulu dengan apa yang dimilikinya, lalu fasilitas datang belakangan.

Ia tidak memiliki kamera ketika memulai.

Tidak memiliki recorder.

Tidak memiliki sepeda motor.

Tidak memiliki banyak fasilitas.

Tetapi ia memiliki satu hal yang sulit dibeli: kemauan untuk tetap berjalan.

Mungkin itulah modal paling awal seorang jurnalis.

Bukan kamera.

Bukan recorder.

Bukan kendaraan.

Melainkan rasa ingin tahu dan keberanian mengetuk pintu kehidupan orang lain.

Dua cangkir sebelum pulang

Percakapan itu akhirnya mendekati ujung.

Dua cangkir kopi telah habis.

Kopi kedua terasa berbeda dari kopi pertama. Mungkin karena percakapan membuat kepahitan menjadi lebih mudah dinikmati.

Tidak ada kesimpulan besar malam itu.

Hanya cerita seorang manusia yang selama puluhan tahun berjalan dari satu jalan ke jalan lain, dari satu media ke media berikutnya, mengikuti perubahan zaman dengan segala keterbatasannya.

Ia bukan tokoh terkenal.

Namanya mungkin tidak terpampang di halaman depan koran.

Tidak ada penghargaan besar yang menjadi penanda perjalanan.

Namun ada sesuatu yang lebih sunyi: ketekunan untuk tetap melangkah ketika hampir semua fasilitas tidak tersedia.

Pada akhirnya, setiap orang memang harus berjuang sendiri sampai batas kemampuannya.

Ada yang berjalan dengan kendaraan mewah.

Ada yang naik bus.

Ada yang mengendarai sepeda.

Ada pula yang berjalan kaki.

Tujuannya mungkin berbeda, tetapi hukum perjalanan tetap sama: siapa yang berhenti, akan tertinggal.

Secangkir kopi yang semula terasa pahit akhirnya meninggalkan rasa manis.

Barangkali demikian pula hidup.

Kepahitan tidak selalu datang untuk membuat seseorang menyerah. Kadang ia hanya sedang mengajarkan cara menikmati perjalanan.

Dan malam itu, setelah dua cangkir kopi, seorang lelaki yang merasa dirinya bukan siapa-siapa kembali mengingat satu hal:

Ia memang tidak memulai dengan apa-apa. Tetapi ia selalu memilih untuk melangkah.

Sebab dalam dunia yang terus berubah, mungkin bukan mereka yang memiliki paling banyak fasilitas yang akan bertahan.

Melainkan mereka yang bersedia terus belajar, terus bergerak, dan tidak pernah menganggap dirinya sudah selesai.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments