spot_img
BerandaJelajahDi Barisan yang Salah: Ketika Orang-Orang Baik Memilih Diam

Di Barisan yang Salah: Ketika Orang-Orang Baik Memilih Diam

Orang-orang baik tidak selalu jatuh karena mereka mencintai kejahatan. Sering kali mereka terseret karena loyalitas, rasa sungkan, utang budi, jabatan, kenyamanan, atau sumpah yang mereka pegang terlalu kaku.

LESINDO.COM – Perang Kurukshetra bukan hanya mempertemukan dua kubu yang saling berhadapan. Lebih dari itu, perang besar dalam Mahabharata memperlihatkan sebuah kenyataan yang terus berulang dalam sejarah manusia: tidak semua orang yang berada di pihak yang salah adalah orang jahat.

Di balik panji-panji Kurawa berdiri nama-nama besar yang justru dikenang sebagai pribadi luhur. Ada Bisma, kesatria agung yang tak tertandingi. Ada Drona, guru para pangeran yang disegani. Ada Kripa, resi yang bijaksana. Ada pula Karna, sosok yang masyhur karena kemurahan hati dan kesetiaannya.

Mereka bukan orang bodoh. Mereka juga bukan orang yang tidak memahami mana yang benar dan mana yang keliru.

Mereka tahu Duryodana digerakkan oleh iri hati, keserakahan, dan ambisi kekuasaan. Mereka menyaksikan bagaimana Pandawa berkali-kali diperlakukan tidak adil. Mereka hadir ketika permainan dadu yang penuh tipu daya merampas hak kerajaan Yudhistira. Mereka juga melihat Drupadi dipermalukan di hadapan para tetua kerajaan.

Namun sejarah mencatat, mereka tetap berdiri di belakang Kurawa.

Mengapa?

Jawaban Mahabharata tidak sesederhana hitam dan putih.

Bisma terikat oleh sumpah yang pernah diucapkannya untuk setia menjaga takhta Hastinapura, siapa pun yang mendudukinya. Sumpah yang dahulu lahir dari pengorbanan besar, pada akhirnya berubah menjadi belenggu moral yang membuatnya tidak lagi bebas memilih.

Drona memiliki utang budi kepada kerajaan yang telah mengangkat harkat hidupnya. Kesetiaan sebagai abdi negara membuatnya tetap mengangkat senjata, meski murid kesayangannya sendiri, Arjuna, berdiri di pihak lawan.

Karna lebih rumit lagi. Saat seluruh dunia merendahkan dirinya karena dianggap bukan keturunan bangsawan, hanya Duryodana yang mengulurkan tangan. Persahabatan itu dibalas Karna dengan kesetiaan tanpa syarat. Bahkan setelah mengetahui dirinya sebenarnya adalah saudara kandung Pandawa, ia tetap memilih bersama sahabat yang telah memuliakannya.

Di sinilah Mahabharata menjadi sangat manusiawi.

Orang-orang baik tidak selalu jatuh karena mereka mencintai kejahatan. Sering kali mereka terseret karena loyalitas, rasa sungkan, utang budi, jabatan, kenyamanan, atau sumpah yang mereka pegang terlalu kaku.

Mereka tidak menjadi pelaku utama kejahatan, tetapi juga tidak cukup berani menghentikannya.

Dalam kehidupan modern, kisah itu terasa begitu dekat.

Di banyak lembaga, perusahaan, organisasi, bahkan pemerintahan, hampir selalu ada orang-orang yang sebenarnya mengetahui adanya penyimpangan. Mereka tahu ada kebohongan yang sedang dipelihara. Mereka paham ada hak yang dirampas. Mereka menyaksikan aturan dipermainkan demi kepentingan segelintir orang.

Namun mereka memilih diam.

Alasannya hampir sama seperti para tetua Kurawa.

Ada yang takut kehilangan jabatan. Ada yang merasa berutang budi kepada pemimpin. Ada yang khawatir dikucilkan. Ada pula yang beranggapan bahwa diam adalah pilihan paling aman.

Padahal, diam sering kali bukan sikap netral.

Diam dapat menjadi ruang yang membuat ketidakadilan tumbuh semakin besar.

Martin Luther King Jr. pernah mengingatkan bahwa pada akhirnya manusia tidak hanya mengingat kata-kata musuhnya, tetapi juga keheningan sahabatnya. Kalimat itu seolah menjadi cermin bagi kisah Kurukshetra. Drupadi mungkin dapat memahami kebencian Duryodana, tetapi yang paling menyakitkan justru keheningan orang-orang bijaksana yang duduk di sekelilingnya.

Mahabharata tidak sedang menghakimi Bisma, Drona, atau Karna sebagai manusia jahat. Sebaliknya, epos itu menunjukkan betapa rumitnya pertarungan dalam hati manusia. Bahwa menjadi pribadi baik ternyata belum cukup apabila keberanian moral tidak ikut menyertainya.

Kebaikan yang tidak berani bersuara dapat berubah menjadi pelindung kejahatan.

Integritas tidak hanya diukur dari seberapa baik seseorang menjalani hidupnya, tetapi juga dari keberaniannya berpihak ketika kebenaran sedang dipertaruhkan.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari Kurukshetra.

Bukan hanya tentang bagaimana melawan orang jahat, melainkan juga tentang bagaimana agar orang-orang baik tidak kehilangan keberanian untuk berdiri di barisan yang benar.

Sebab sejarah sering kali tidak berubah karena kejahatan menjadi semakin kuat, melainkan karena terlalu banyak orang baik yang memilih tetap berada di barisan yang salah.(Fai)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments