Oleh : KRT. M. Rahardjo
Sabar bukan berarti membiarkan
LESINDO.COM – Pernikahan kerap disebut sebagai ibadah terpanjang. Dalam perjalanan itu, kesabaran bukan hanya kemampuan menahan amarah, melainkan kesanggupan menjaga akhlak ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan.
Bayangkan seorang ibu yang seharian bekerja, kemudian pulang untuk memasak, mencuci, dan mendampingi anak belajar. Sementara itu, suaminya merasa telah memenuhi tanggung jawab karena membawa pulang penghasilan. Keduanya sama-sama lelah, tetapi tidak saling melihat beban yang dipikul masing-masing.
Persoalan semacam ini membutuhkan lebih dari sekadar nasihat agar istri bersabar atau suami lebih memahami. Dibutuhkan pembicaraan nyata tentang pembagian tanggung jawab, waktu istirahat, dan kebutuhan masing-masing.
Kerukunan tidak tumbuh dari pengorbanan sepihak. Ia tumbuh ketika kedua pihak bersedia memperbaiki keadaan.
Dalam falsafah Jawa dikenal ungkapan rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Kerukunan menguatkan, sedangkan perselisihan yang tidak dikelola dapat merusak. Namun, rukun bukan berarti semua orang harus selalu sepakat atau menyembunyikan persoalan demi menjaga penampilan.
Kerukunan sejati membutuhkan kejujuran, penghormatan, dan keberanian menyampaikan perbedaan dengan santun.
Menepi sejenak, merawat kejernihan
Ketika pertengkaran mulai memanas, ada kalanya percakapan perlu dihentikan sementara. Bukan untuk menghukum pasangan dengan diam, melainkan untuk memberi kesempatan kepada hati agar kembali jernih.
Dalam tradisi spiritual, manusia diajak mengenali dirinya sebelum sibuk menilai orang lain. Sebab, tidak semua kegelisahan berasal dari keadaan di luar diri. Sebagian tumbuh dari ego, keinginan untuk selalu benar, dan harapan agar orang lain memenuhi ukuran kebahagiaan kita.
Kesadaran diri mengajarkan seseorang untuk mengenali gejolak batinnya, memahami sumber kemarahan, dan tidak serta-merta melampiaskan perasaan kepada pasangan.
Dalam khazanah tasawuf, upaya membersihkan hati dari kesombongan, iri, dan keinginan menguasai dikenal sebagai tazkiyatun nafs. Proses ini tidak selesai dalam sehari. Ia membutuhkan latihan, kesungguhan, dan kerendahan hati.
Seseorang yang terus belajar membersihkan batinnya akan lebih mudah menyadari bahwa pasangan bukanlah manusia sempurna. Dirinya pun demikian.
Mengambil jeda, kemudian kembali berbicara dengan tenang, dapat menjadi bentuk ikhtiar menjaga hubungan. Persoalan tetap perlu diselesaikan, tetapi tidak harus melalui kata-kata yang melukai.
Memberi ruang, menjaga ikatan
Dalam kehidupan rumah tangga, kedekatan tidak harus berarti meleburkan seluruh perbedaan. Dua orang tetap membutuhkan ruang untuk berpikir, beristirahat, dan bertumbuh sebagai pribadi.
Ada kalanya suami membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran setelah bekerja. Ada kalanya istri membutuhkan ruang untuk menjalani minatnya sendiri tanpa merasa bersalah. Kebutuhan itu tidak semestinya dibaca sebagai tanda berkurangnya cinta.
Memberi ruang bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Sebaliknya, ruang yang sehat memungkinkan pasangan kembali menjalani kebersamaan dengan pikiran yang lebih jernih.
Ada batas yang perlu dihormati agar kasih sayang tidak berubah menjadi penguasaan. Ada kebebasan yang perlu dijaga agar kebersamaan tidak mematikan karakter. Dan ada tanggung jawab yang harus dipikul bersama agar rumah tangga tidak menjadi beban sepihak.
Sangkan paraning dumadi
Pada akhirnya, pernikahan bukan hanya perjalanan menuju kebahagiaan duniawi. Ia juga dapat menjadi jalan untuk mengenali diri, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Falsafah Jawa sangkan paraning dumadi mengajak manusia merenungkan asal-usul dan tujuan keberadaannya. Dalam kehidupan rumah tangga, perenungan itu dapat menjadi pengingat bahwa pasangan bukan milik yang harus dikuasai, melainkan amanah yang perlu dijaga.
Cinta yang dewasa tidak selalu hadir dalam kata-kata manis atau kesepakatan tanpa cela. Ia dapat ditemukan dalam kesediaan membicarakan keuangan dengan jujur, berbagi pekerjaan rumah tanpa menunggu diminta, mendengarkan keluh kesah pasangan, atau meminta maaf setelah menyadari telah melukai.
Pernikahan yang matang bukanlah hubungan tanpa badai. Ia adalah perjalanan dua manusia yang belajar menjaga adab ketika badai datang, merawat kasih ketika keadaan berubah, dan kembali menemukan arah ketika ego membuat mereka tersesat.
Sebab, pada akhirnya, mencintai bukan berarti menjadikan pasangan seperti diri kita. Mencintai adalah belajar memahami tanpa harus selalu menyetujui, menjaga tanpa menguasai, dan berjalan bersama tanpa mematikan langkah masing-masing.
Di sanalah rumah tangga menemukan ketenteramannya: ketika cinta tidak hanya menjadi perasaan, tetapi menjelma laku—laku sabar, laku syukur, laku menghormati, dan laku melapangkan hati.

