spot_img
BerandaJelajahPart 1: Aja Dumeh, Aja Rumangsa Menang Dhewe

Part 1: Aja Dumeh, Aja Rumangsa Menang Dhewe

Mengalah tidak selalu berarti kalah. Terkadang, seseorang memilih menahan perkataan karena menyadari bahwa menjaga martabat pasangan lebih penting daripada memenangkan perdebatan.

Oleh : KRT. M. Rahardjo

LESINDO.COM – Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua hati, melainkan laku panjang untuk memahami perbedaan, merawat kesabaran, dan menemukan ketenteraman melalui kedewasaan jiwa.

Malam itu, sepiring nasi di meja makan mulai dingin. Sang istri duduk dengan wajah lelah, sementara suaminya baru saja pulang kerja. Di hadapan mereka, tagihan listrik, uang sekolah anak, dan cicilan kendaraan menumpuk. Ketika sang istri bertanya tentang uang belanja yang belum diberikan, suami menjawab dengan nada tinggi bahwa penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan.

Percakapan yang semula membahas keuangan perlahan berubah menjadi saling menyalahkan. Istri merasa menanggung beban rumah tangga sendirian. Suami merasa kerja kerasnya tidak pernah dihargai. Di kamar sebelah, anak mereka masih mengerjakan tugas sekolah, sesekali mendengar suara orang tuanya yang semakin meninggi.

Tidak ada piring yang pecah atau pintu yang dibanting. Namun, malam itu meninggalkan sesuatu yang lebih sulit diperbaiki: perasaan tidak dipahami.

Konflik seperti ini bukan perkara asing dalam kehidupan rumah tangga. Persoalan uang, pengasuhan anak, pekerjaan domestik, hingga komunikasi yang tersendat sering kali menjadi sumber ketegangan. Masalah yang tampak sederhana dapat membesar ketika masing-masing merasa paling lelah, paling berkorban, dan paling benar.

Di balik pertengkaran itu, ada dua manusia yang membawa sejarah hidup berbeda. Mereka dipertemukan oleh cinta, tetapi harus belajar hidup bersama melalui kesediaan memahami.

Dua watak, satu perjalanan

Dalam kebudayaan Jawa, terdapat ungkapan witing tresna jalaran saka kulina—cinta dapat tumbuh karena kebiasaan dan kedekatan. Namun, kedekatan saja tidak cukup untuk menjaga cinta tetap bersemi. Ia membutuhkan kesadaran, penghormatan, dan kesediaan untuk terus belajar.

Setiap orang tumbuh dalam lingkungan yang berbeda. Pola asuh, pengalaman masa kecil, keadaan keluarga, dan perjalanan hidup membentuk watak yang tidak selalu mudah dipahami oleh orang lain, bahkan oleh pasangan sendiri.

Seorang suami yang dibesarkan dalam keluarga yang mengutamakan disiplin keuangan mungkin merasa bahwa membatasi pengeluaran adalah bentuk tanggung jawab. Sebaliknya, istri yang tumbuh dalam keluarga yang mengutamakan kebersamaan mungkin merasa bahwa perhatian dan keterbukaan lebih penting daripada sekadar menghitung pengeluaran.

Perbedaan itu dapat muncul pula dalam pengasuhan. Ketika anak memperoleh nilai buruk, ayah mungkin menganggap ketegasan sebagai cara mendidik, sementara ibu merasa anak perlu didengarkan terlebih dahulu. Keduanya sama-sama ingin anak berhasil, tetapi berbeda dalam memahami jalan menuju keberhasilan.

Dalam falsafah Jawa, tepa slira mengajarkan kemampuan menempatkan diri pada perasaan dan keadaan orang lain. Bukan sekadar membayangkan apa yang dirasakan pasangan, melainkan berusaha memahami sebelum menghakimi.

Sementara itu, andhap asor mengingatkan bahwa seseorang tidak harus meninggikan dirinya untuk mempertahankan martabat. Ada kalanya kebesaran hati justru terlihat ketika seseorang bersedia mendengarkan, mengakui kesalahan, dan meminta maaf.

Ketika ego mengambil alih

Persoalan rumah tangga sering kali tidak berhenti pada masalah awal. Uang belanja yang kurang dapat berubah menjadi tuduhan bahwa pasangan tidak bertanggung jawab. Pekerjaan rumah yang tidak selesai dapat berkembang menjadi anggapan bahwa salah satu pihak tidak peduli.

Kalimat seperti “Kamu memang selalu begitu” atau “Kamu tidak pernah mengerti” perlahan menggantikan pembicaraan tentang persoalan yang sebenarnya.

Ketika kata-kata mulai menyerang pribadi, pasangan tidak lagi berusaha menyelesaikan masalah. Mereka sibuk mempertahankan diri.

Dalam pernikahan, ego sering bekerja dengan cara yang halus. Seseorang merasa harus menang dalam perdebatan agar tidak dianggap lemah. Meminta maaf terasa seperti mengakui kekalahan. Mengalah dianggap sebagai kehilangan harga diri.

Padahal, aja dumeh mengajarkan agar manusia tidak merasa lebih tinggi hanya karena memiliki kelebihan tertentu. Penghasilan, pendidikan, atau kedudukan bukan alasan untuk merendahkan pasangan.

Mengalah tidak selalu berarti kalah. Terkadang, seseorang memilih menahan perkataan karena menyadari bahwa menjaga martabat pasangan lebih penting daripada memenangkan perdebatan.

Namun, diam pun bukan jawaban untuk setiap persoalan. Ada masalah yang perlu dibicarakan, ada luka yang harus diakui, dan ada perilaku yang perlu diperbaiki. Kesabaran bukan berarti membiarkan ketidakadilan atau kekerasan terus berlangsung.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments