spot_img
BerandaJelajahPart 1 : Ketika Kebencian Menolak Kebenaran, dan Kesukaan Membutakan Nalar

Part 1 : Ketika Kebencian Menolak Kebenaran, dan Kesukaan Membutakan Nalar

Yang diperlukan adalah kesediaan untuk melihat persoalan secara lebih utuh, tanpa kehilangan ketegasan dalam membedakan yang benar dan yang keliru.

Oleh : Arunika M

LESINDO.COM – Hidup mengajarkan bahwa tidak semua orang memandang kenyataan dengan cara yang sama. Ada yang melihat kebaikan di tengah kekurangan, tetapi ada pula yang menemukan kesalahan di antara sekian banyak kelebihan. Satu peristiwa dapat melahirkan pujian dari sebagian orang, sekaligus caci maki dari orang lain. Fakta yang sama bisa menjadi alasan untuk membela, tetapi juga dijadikan amunisi untuk menyerang.

Di situlah kehidupan manusia memperlihatkan kerumitannya. Kita hidup di antara siang dan malam, pagi dan petang, baik dan buruk, benar dan salah. Segala sesuatu seolah memiliki pasangan yang membuat manusia belajar mengenali perbedaan. Namun, persoalannya bukan semata-mata karena perbedaan itu ada, melainkan bagaimana manusia menyikapinya.

Dalam kehidupan sosial hari ini, perbedaan pendapat sering kali tidak lagi berhenti sebagai ruang pertukaran pikiran. Ia menjelma menjadi pertarungan harga diri, perebutan pengaruh, bahkan permusuhan yang dipelihara. Orang tidak selalu ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sebagian justru sibuk mencari alasan untuk membenarkan apa yang sejak awal telah mereka percayai.

Ketika kebencian lebih dahulu menguasai hati, kebenaran bisa kehilangan tempat untuk berbicara.

Seseorang yang telanjur tidak menyukai orang lain dapat menemukan seribu alasan untuk menolak segala sesuatu yang datang darinya. Kebaikan dianggap pencitraan, keberhasilan dicurigai sebagai hasil kepentingan tersembunyi, sementara kesalahan kecil dibesarkan seolah mewakili seluruh kepribadiannya. Bahkan ketika fakta, data, dan penjelasan telah disampaikan, pintu penerimaan belum tentu terbuka.

Bukan karena kenyataan tidak cukup terang, melainkan karena ada hati yang telanjur memutuskan sebelum bersedia mendengarkan.

Sebaliknya, orang yang terlalu mengagumi seseorang juga dapat terperangkap dalam kebutaan yang berbeda. Kesalahan orang yang disukai terasa mudah dimaafkan, kritik dianggap sebagai serangan, dan fakta yang tidak menyenangkan buru-buru disingkirkan. Apa pun yang dilakukan pujaannya selalu memiliki alasan untuk dibela.

Di titik ini, kebencian dan kekaguman yang berlebihan ternyata memiliki kemiripan. Keduanya dapat menggeser akal sehat dari tempatnya semula. Yang satu sibuk mencari kesalahan, yang lain berusaha menutupi kekurangan. Keduanya sama-sama berisiko kehilangan kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

Padahal, tidak ada manusia yang sepenuhnya bersih dari kekurangan. Seseorang bisa melakukan kebaikan hari ini dan membuat kesalahan esok hari. Orang yang pernah keliru masih mungkin memperbaiki diri, sementara orang yang selama ini dipuji pun tetap perlu dikritik ketika tindakannya menyimpang.

Kebenaran tidak semestinya berubah hanya karena siapa yang mengucapkannya.

Di ruang-ruang percakapan publik, termasuk media sosial, gejala semacam ini semakin mudah dijumpai. Orang berdebat dengan membawa potongan informasi, tangkapan layar, rekaman, angka, bahkan dokumen yang dianggap paling meyakinkan. Kalimat disusun dengan rapi, argumentasi dibangun berlapis-lapis, dan setiap pihak merasa memiliki cukup alasan untuk berdiri di pihaknya sendiri.

Namun, banyaknya data tidak selalu menjamin kejernihan berpikir. Fakta dapat dipilih secara selektif, konteks bisa dihilangkan, dan informasi yang tidak sesuai dengan keyakinan seseorang dapat diabaikan begitu saja.

Perdebatan pun berubah menjadi semacam perlombaan. Siapa yang paling lantang dianggap paling benar. Siapa yang mampu mempermalukan lawan merasa telah memenangkan pertarungan. Sementara itu, tujuan awal untuk memahami persoalan perlahan menghilang di balik keinginan untuk mempertahankan pendapat.

Masing-masing berbicara, tetapi tidak benar-benar mendengarkan.

Masing-masing membawa bukti, tetapi tidak sungguh-sungguh bersedia menguji keyakinannya sendiri.

Dalam keadaan demikian, dialog kehilangan maknanya. Sebab, dialog membutuhkan kesediaan untuk menerima kemungkinan bahwa diri sendiri belum tentu sepenuhnya benar. Tanpa kesediaan itu, percakapan hanya menjadi dua monolog yang kebetulan berlangsung pada waktu bersamaan.

Ada perbedaan mendasar antara mencari kebenaran dan mencari pembenaran. Orang yang mencari kebenaran bersedia mengoreksi dirinya ketika menemukan fakta baru. Sebaliknya, orang yang mencari pembenaran akan terus mengumpulkan alasan agar keyakinannya tetap tampak benar, sekalipun kenyataan mulai menunjukkan sebaliknya.

Barangkali, untuk memahami persoalan ini, kita bisa belajar dari alam.

Lalat dan lebah, misalnya, memiliki cara hidup yang berbeda. Lalat kerap hinggap pada sampah dan bahan yang membusuk, sedangkan lebah mendatangi bunga, membantu penyerbukan, dan menghasilkan madu. Perbedaan itu dapat menjadi pengingat sederhana bahwa apa yang didekati setiap makhluk berkaitan dengan cara hidup dan perannya masing-masing.

Namun, manusia memiliki sesuatu yang tidak bisa disederhanakan seperti naluri seekor serangga: kemampuan untuk berpikir, mempertimbangkan, dan mengoreksi diri.

Kita dapat memilih untuk terus hinggap pada prasangka, atau belajar mendekati kenyataan dengan pikiran yang lebih jernih. Kita dapat memelihara kebencian sampai setiap tindakan orang lain terlihat salah, atau memberi jarak bagi diri sendiri agar mampu menilai tanpa harus dikuasai emosi.

Tentu saja, manusia tidak selalu berhasil melakukannya. Ada luka yang membuat seseorang sulit percaya. Ada pengalaman buruk yang membentuk prasangka. Ada pula kepentingan yang membuat orang sengaja memelintir kenyataan. Karena itu, memahami kebencian bukan berarti membenarkan perilakunya. Memahami kesukaan seseorang juga bukan berarti harus menyetujui segala sesuatu yang dibelanya.

Yang diperlukan adalah kesediaan untuk melihat persoalan secara lebih utuh, tanpa kehilangan ketegasan dalam membedakan yang benar dan yang keliru.

Sebab, hati yang bersih bukanlah hati yang tidak pernah memiliki rasa suka atau tidak suka. Hati yang bersih adalah hati yang tidak membiarkan keduanya menguasai penilaian.

Ada kalanya, orang yang berusaha menjelaskan kebenaran justru kehabisan tenaga karena terus-menerus berhadapan dengan mereka yang tidak ingin memahami. Setiap penjelasan melahirkan bantahan baru. Setiap bukti dibalas dengan tuduhan lain. Bahkan niat baik dapat dicurigai sebagai siasat untuk memperoleh keuntungan.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments