LESINDO.COM – Pagi selalu datang membawa harapan baru. Matahari terbit tanpa pernah memilih siapa yang akan disinarinya. Ia menyapa rumah-rumah mewah yang menjulang tinggi, tetapi juga singgah di gubuk-gubuk sederhana di sudut desa. Cahaya yang sama menerangi semua manusia, seolah mengingatkan bahwa kehidupan tidak pernah membedakan siapa yang pantas menerima kesempatan untuk memulai hari.
Namun, manusialah yang sering kali membedakan makna kebahagiaan.
Ada yang mengukur hidup dari angka di rekening. Ada yang menilainya dari luas tanah, megahnya rumah, mahalnya kendaraan, atau tingginya jabatan. Seakan-akan semakin banyak yang dimiliki, semakin sempurna pula hidup seseorang.
Padahal kenyataan tidak selalu demikian.
Di balik pagar-pagar tinggi dan gedung-gedung megah, tidak sedikit orang yang kehilangan ketenangan. Senyum mereka tampak utuh di depan kamera, tetapi hati mereka dipenuhi kecemasan. Mereka memiliki hampir segala yang bisa dibeli uang, tetapi kehilangan sesuatu yang justru tak pernah dijual di mana pun: rasa damai.
Mungkin karena sejak awal kita diajarkan untuk mengejar keberhasilan, tetapi tidak cukup diajarkan bagaimana menikmati apa yang telah dimiliki.
Akibatnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang tak mengenal garis akhir. Ketika satu keinginan tercapai, lahirlah keinginan berikutnya. Saat satu impian terwujud, muncul impian yang lebih besar. Manusia terus berlari, tetapi lupa bertanya untuk apa ia berlari.
Setiap pagi pikirannya dipenuhi urusan dunia. Target demi target menunggu untuk ditaklukkan. Keuntungan harus bertambah. Jabatan harus naik. Pengaruh harus meluas. Kesibukan menjadi identitas baru, sementara hati perlahan kehilangan ruang untuk sekadar bersyukur.
Dunia memang penting. Kita membutuhkannya untuk hidup. Namun ketika dunia menjadi satu-satunya tujuan, ia berubah menjadi penjara yang tidak memiliki pintu keluar.
Kita menyaksikan ironi itu hampir setiap hari.
Layar televisi, portal berita, dan media sosial silih berganti menampilkan wajah-wajah yang dahulu dielu-elukan karena kekuasaan dan kekayaannya. Ada pejabat yang menyembunyikan uang dalam koper, emas dalam brankas, hingga aset yang nilainya sulit dibayangkan oleh rakyat kecil yang setiap hari bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup.
Mereka mengumpulkan harta seolah hidup akan berlangsung selamanya.
Padahal, semakin banyak yang dikumpulkan dengan cara yang keliru, semakin berat pula beban yang harus dipikul. Harta yang lahir dari pengkhianatan terhadap amanah tidak pernah benar-benar menghadirkan ketenteraman. Ia mungkin memberikan kemewahan, tetapi belum tentu menghadirkan kebahagiaan. Ia mungkin membeli kemegahan, tetapi tidak mampu membeli tidur yang nyenyak.
Sebab hati memiliki hukumnya sendiri.
Ia tidak bisa dibohongi oleh angka-angka.
Ia tidak tunduk pada kekuasaan.
Ia hanya akan tenang ketika pemiliknya berjalan di jalan yang benar.
Di sisi lain, kita sering menjumpai orang-orang sederhana yang hidup jauh dari kemewahan. Rumahnya biasa saja. Kendaraannya mungkin sudah tua. Pakaiannya tidak bermerek. Namun wajah mereka memancarkan keteduhan yang sulit dijelaskan dengan logika.
Mereka makan dengan sederhana, tetapi penuh syukur.
Mereka bekerja dengan jujur, meski hasilnya tidak berlimpah.
Mereka tidur tanpa dihantui rasa takut karena tidak ada hak orang lain yang mereka rampas.
Barangkali di situlah letak kekayaan yang sesungguhnya.
Bukan pada banyaknya yang dimiliki, melainkan pada sedikitnya keinginan yang harus dipenuhi agar hati merasa cukup.
Rasa cukup bukan berarti berhenti berusaha. Rasa cukup adalah kemampuan menikmati hasil usaha tanpa diperbudak oleh ambisi yang tak pernah selesai. Ia mengajarkan bahwa bekerja adalah ibadah, sedangkan keserakahan adalah awal dari banyak penderitaan.
Sesungguhnya, hidup yang sedang kita jalani hari ini bukanlah sebuah kebetulan. Setiap orang berjalan pada jalan yang telah dipilihnya, lalu menuai konsekuensi dari setiap keputusan. Ada jalan yang dipenuhi kemudahan, ada pula yang sarat ujian. Namun semuanya menyimpan pelajaran yang sama: bahwa kehidupan bukan tentang siapa yang paling banyak mengumpulkan, melainkan siapa yang paling mampu menjaga hati tetap jernih.
Pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang karena saldo rekeningnya, melainkan karena jejak kebaikan yang ditinggalkannya.
Rumah megah akan ditinggalkan.
Jabatan akan berganti pemilik.
Kekayaan akan berpindah tangan.
Tubuh yang hari ini begitu dibanggakan pun suatu saat akan kembali menjadi tanah.
Yang tetap hidup hanyalah doa anak-anak yang saleh, kejujuran yang pernah dijaga, kasih sayang yang pernah dibagikan, dan manfaat yang pernah diberikan kepada sesama.
Mungkin itulah sebabnya kebahagiaan sejati selalu memilih singgah di hati orang-orang yang pandai bersyukur.
Sebab syukur membuat yang sedikit terasa lapang.
Kejujuran membuat yang sederhana terasa mulia.
Dan rasa cukup menjadikan hidup, apa adanya, tetap indah untuk dijalani.
Di dunia yang terus mengajarkan kita untuk memiliki lebih banyak, barangkali keberanian terbesar adalah berhenti sejenak, menatap langit, lalu berkata dengan tulus, “Apa yang Tuhan titipkan hari ini telah lebih dari cukup. Tugas saya hanyalah menjaganya dengan syukur dan menggunakannya dengan amanah.”

