Oleh : Lembah Manah
LESINDO.COM – Ada uang yang kita keluarkan dengan harapan akan kembali. Ada pula uang yang kita berikan dengan kesadaran bahwa suatu hari mungkin tak akan pernah kita jumpai lagi. Di antara keduanya, ada pelajaran tentang kemanusiaan, kepercayaan, dan rezeki yang tak sepenuhnya menjadi milik kita sendiri.
Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk kehilangan kabar seorang teman. Wajahnya mungkin masih sama, tetapi kehidupan telah membawa masing-masing orang ke jalan yang berbeda. Karena itu, ketika seorang kawan SMA tiba-tiba datang setelah belasan tahun tak berjumpa, pertemuan itu semestinya menjadi ruang untuk menyambung kenangan yang pernah terputus.
Namun, pertemuan itu justru membawa cerita lain.
Ia datang bukan sekadar untuk bertanya kabar atau mengenang masa-masa sekolah. Ada keperluan yang ingin disampaikan: meminjam uang untuk biaya pendidikan adiknya yang sedang menyelesaikan kuliah.
Jumlahnya tidak seberapa. Alasannya pun terdengar masuk akal. Pendidikan, bagi siapa pun yang pernah merasakan sulitnya hidup, adalah urusan yang mudah mengetuk pintu belas kasihan. Tanpa banyak bertanya, uang itu pun berpindah tangan.
Saat itu, tak ada kecurigaan. Yang terlintas justru ingatan tentang bagaimana rasanya berada dalam keadaan sulit, ketika kebutuhan datang bersamaan sementara isi dompet tak cukup untuk menjawab semuanya.
Belakangan, barulah diketahui bahwa kedatangan teman lama itu bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Sudah ada sejumlah orang yang lebih dahulu meminjamkan uang kepadanya. Pinjaman lama belum kembali, tetapi permintaan baru terus berdatangan.
Belum lama berselang, ia kembali datang. Kali ini dengan alasan tambahan untuk keperluan persiapan skripsi. Bahasa yang digunakan tetap sama: memelas, seolah tak ada lagi pintu yang bisa diketuk selain pintu orang-orang yang mengenalnya.
Sekali lagi, pinjaman diberikan.
Bukan karena memiliki uang berlebih. Saat itu, usaha yang dirintis sendiri bahkan masih dalam tahap merangkak. Ada beberapa orang yang ikut bekerja, ada kebutuhan yang mesti dipenuhi, dan ada tanggung jawab yang harus dijaga agar usaha kecil itu tetap berjalan.
Namun, kesulitan orang lain kadang membuat seseorang lupa menghitung kesulitannya sendiri.
Barangkali karena pernah berada dalam keadaan serupa, tangan terasa lebih mudah terulur daripada mulut mengucapkan penolakan.
Menolong bukan selalu karena seseorang memiliki kelebihan. Terkadang, seseorang membantu justru karena ia tahu betul bagaimana rasanya kekurangan.
Ketika pinjaman tak kunjung menemukan jalan pulang
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tahun berlalu. Kesibukan dan urusan kehidupan perlahan menenggelamkan ingatan tentang pinjaman itu.
Sampai suatu ketika, saya membutuhkan uang untuk keperluan aqiqah anak, termasuk membeli kambing. Saya pun teringat pada uang yang pernah dipinjamkan kepada teman lama tersebut.
Rumahnya berjarak sekitar satu jam perjalanan. Saya berangkat dengan maksud sederhana: menanyakan kabar sekaligus mengingatkan hak yang belum kembali.
Pertemuan itu berlangsung biasa saja. Tak tampak kecanggungan yang berarti. Ia berbicara seolah tak ada persoalan yang menggantung di antara kami. Tak ada pula pembicaraan tentang kapan pinjaman itu akan dikembalikan, apalagi inisiatif untuk menjelaskan keadaannya.
Saya pulang tanpa kepastian.
Dalam perjalanan, saya sempat mampir ke rumah seorang teman yang tinggal bertetangga dengannya. Dari percakapan itulah, saya memperoleh gambaran lebih jauh tentang kehidupan teman lama tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja, ternyata ia mengalami kesulitan. Alasan biaya pendidikan adiknya yang selama ini disampaikan rupanya tidak menggambarkan keadaan sebenarnya. Uang yang dipinjam lebih banyak digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri.
Di titik itu, persoalannya tidak lagi sesederhana uang yang belum dikembalikan. Ada kehidupan yang sedang kusut, ada kebutuhan yang tak terpenuhi, dan ada cara yang keliru dalam meminta pertolongan.
Saya mendatanginya hingga tiga kali. Bukan semata-mata karena ingin menagih uang, melainkan karena saya juga tahu rasanya tidak memiliki uang ketika kebutuhan keluarga tak bisa ditunda.
Saya memahami bagaimana gelisahnya seseorang saat harus mencari jalan keluar, sementara keadaan seolah menutup semua pintu.
Tetapi memahami kesulitan seseorang tidak berarti membenarkan caranya.
Pada akhirnya, saya memutuskan untuk berhenti datang. Tidak ada lagi penagihan, tidak ada lagi upaya mencari kepastian. Uang itu saya relakan, meskipun saya sendiri sedang membutuhkannya.
Bukan berarti persoalannya selesai dengan mudah. Ada hak yang tak kembali, ada harapan yang tak terjawab. Namun, saya tak ingin terus-menerus menghabiskan waktu dan pikiran untuk sesuatu yang tak kunjung menemukan ujungnya.

