LESINDO.COM – Di sebuah kota yang tak pernah benar-benar tidur, hidup berjalan seperti etalase yang selalu menyala. Kafe-kafe penuh, pusat belanja tak kehilangan pengunjung, dan layar-layar ponsel memamerkan hidangan yang ditata seindah lukisan. Tubuh dimanjakan, selera dirayakan, dan keinginan dipenuhi hampir tanpa jeda. Kita seperti sedang memainkan peran dalam sebuah teater besar bernama pemuasan.
Namun di balik riuh itu, ada yang kerap tercecer: jiwa.
Ia tak bersuara keras. Ia tidak menuntut diskon, tidak meminta tambahan topping, tidak pula berteriak minta diunggah ke media sosial. Ia hanya duduk di pinggir kesadaran, menunggu diberi ruang—sekadar untuk bernapas.
Ketika Lapar Menjadi Guru
Bagi banyak orang, lapar adalah gangguan. Ia mengacaukan konsentrasi, membuat emosi mudah tersulut, dan memaksa langkah mencari makanan. Tetapi di situlah, justru, pelajaran paling jujur tentang diri kita dimulai.
Saat perut kosong dan tenaga menyusut, topeng kemandirian perlahan luruh. Kita diingatkan bahwa tubuh ini rapuh, bergantung pada sebutir nasi dan seteguk air. Dalam kondisi paling sederhana itu, manusia kembali pada fitrahnya: makhluk yang membutuhkan.
Lapar bukan sekadar kosongnya lambung. Ia adalah ruang yang terbuka di dalam diri—ruang untuk menyadari bahwa napas ini bukan milik mutlak kita. Bahwa setiap remah makanan yang masuk ke mulut adalah hasil dari rangkaian panjang kebaikan: tanah yang subur, hujan yang turun tepat waktu, tangan-tangan petani yang bekerja dalam senyap.
Dalam lapar, kesombongan retak. Kita tak lagi berdiri sebagai penguasa, melainkan sebagai penerima. Ada kerendahan hati yang tumbuh pelan-pelan, seperti tunas yang muncul setelah hujan pertama.
Kenyang dan Ilusi Kendali
Sebaliknya, di meja-meja yang penuh hidangan, ada bahaya yang sering tak disadari. Ketika semua tersedia dan keinginan terpenuhi seketika, muncul perasaan halus yang menipu: seolah-olah semua ini terjadi karena kendali kita.
Kenyang yang berlebihan bisa membuat hati tumpul. Kita lupa bagaimana rasanya menahan perih. Empati pun memudar, karena tak ada lagi pengalaman kekurangan yang bisa dijadikan jembatan memahami orang lain.
Syukur berubah menjadi rutinitas lisan. Ucapan terima kasih atau pujian kepada Yang Maha Kuasa meluncur tanpa getar. Ia hanya bunyi, bukan kesadaran. Kita terlalu sibuk bertanya, “Apa lagi yang bisa kunikmati?” hingga lupa bertanya, “Untuk apa aku hidup?”
Dalam kepenuhan yang tak terkendali, pintu perenungan sering tertutup rapat. Mata batin menjadi rabun. Kita berjalan jauh, tetapi tak pernah benar-benar tahu ke mana arah pulang.
Menjaga Ruang Lapar
Maka, keseimbangan menjadi kunci. Bukan dengan memusuhi kenikmatan, bukan pula dengan menyiksa diri dalam asketisme yang kaku. Keseimbangan adalah seni mengetahui batas—kapan cukup, kapan berhenti, kapan menahan.
Sesekali menahan diri, entah melalui puasa, kesederhanaan, atau keheningan, adalah bentuk ziarah sunyi. Kita menarik diri dari hiruk-pikuk pemuasan untuk menengok ke dalam. Seperti membersihkan kaca jendela yang berdebu, kita memberi kesempatan pada cahaya untuk kembali masuk.
Dengan memberi jarak pada keinginan fisik, kita belajar membedakan antara kebutuhan dan nafsu. Kita menyadari bahwa yang benar-benar kita perlukan sering kali jauh lebih sedikit daripada yang selama ini kita kejar.
Pada akhirnya, hidup bukanlah estafet dari satu kepuasan ke kepuasan lain. Ia adalah perjalanan pengenalan diri—tentang siapa kita ketika lapar, dan siapa kita ketika kenyang.
Barangkali, justru dengan menjaga sedikit “ruang lapar” di dalam jiwa, kita menyediakan tempat bagi Yang Maha Ada untuk hadir. Di sanalah, dalam sunyi yang sederhana, manusia menemukan kembali arah—dan belajar pulang dengan lebih sadar. (Nel)

