spot_img
BerandaBudayaZaman Ketika Kata Masih Ditakuti dan Menjadi Senjata Kutukan

Zaman Ketika Kata Masih Ditakuti dan Menjadi Senjata Kutukan

Kearifan Jawa lama mengajarkan bahwa ucapan adalah ujung dari niat. Jika niat kusut, kata pun keruh. Jika batin riuh, doa kehilangan arah. Karena itu, orang tua dulu menjaga lisannya seperti menjaga pusaka. Mereka tahu, sekali dilepas, kata tidak bisa ditarik pulang.

Oleh Tilotama

LESINDO.COM –  masa ketika kata belum menjadi sekadar bunyi, ucapan diperlakukan layaknya benih. Ia ditanam dengan kesadaran, disiram dengan laku batin, dan dibiarkan tumbuh mengikuti hukum semesta. Orang Jawa lama percaya, tidak semua mulut memiliki bobot yang sama. Ada ucapan yang ringan, melayang lalu hilang. Ada pula yang berat—jatuh ke tanah, menancap, dan kelak berbuah, entah berkah atau bencana.

Kisah Empu Gandring dan keris Ken Arok sering dijadikan contoh ekstrem tentang betapa dahsyatnya sebuah sumpah. Kutukan yang konon “memakan” tujuh turunan raja Singasari bukan sekadar cerita seram pengisi babad. Ia adalah cermin dari satu keyakinan tua: sabda yang lahir dari batin yang jernih dan luka yang dalam, tidak pernah benar-benar mati.

Empu Gandring bukan sekadar pandai besi. Ia adalah empu dalam pengertian utuh: seseorang yang menempa logam sekaligus menata batin. Hari-harinya diisi puasa, tapa, dan pengendalian diri. Dalam dunia seperti itu, kata bukan alat basa-basi, melainkan puncak dari proses panjang pengendapan jiwa. Maka ketika ia mengucapkan sumpah di detik-detik terakhir hidupnya—dalam keadaan marah, dikhianati, dan belum tuntas menutup laku—ucapan itu dipercaya mengandung daya yang melampaui nalar harian.

Orang dulu menyebutnya idhu geni—ludah yang menjadi api.

Namun, bila kita menyingkirkan sejenak lapisan gaib, kekuatan sumpah Empu Gandring tetap dapat dibaca secara lebih membumi. Sejarah Singasari mencatat, kekuasaan yang diraih Ken Arok berdiri di atas darah. Dari pembunuhan Tunggul Ametung, pengkhianatan, hingga perebutan takhta antarkerabat, semua bergerak dalam lingkaran dendam yang nyaris mekanis. Anusapati membunuh Ken Arok. Tohjaya membunuh Anusapati. Kekerasan melahirkan kekerasan berikutnya.

Di titik ini, kutukan tak lagi berdiri sebagai sebab tunggal, melainkan sebagai nama bagi pola yang berulang. Sumpah Empu Gandring menjadi semacam bingkai narasi yang memudahkan orang memahami kenyataan pahit: bahwa kekuasaan yang direbut tanpa keluhuran batin, hampir selalu berakhir tanpa ketenangan.

Di sinilah kekuatan ucapan orang dulu bekerja dengan cara yang halus. Ia bukan sihir yang turun dari langit, melainkan sugesti kolektif yang hidup dalam kesadaran sosial. Mereka yang percaya sedang berada dalam kutukan akan hidup dalam kecemasan. Keputusan diambil dengan rasa curiga, langkah dijalani dengan waswas. Dalam psikologi modern, ini dikenal sebagai self-fulfilling prophecy: ketakutan yang dipelihara perlahan mewujudkan dirinya sendiri.

Namun masyarakat Jawa tidak berhenti pada logika sebab-akibat semata. Mereka mengenal prinsip sabda pandhita ratu—ucapan orang yang telah menundukkan hawa nafsunya dianggap mengikat semesta. Bukan karena ia berkuasa secara politik, melainkan karena ia telah berdamai dengan dirinya sendiri. Ucapan lahir dari keheningan, bukan dari reaksi sesaat.

Bandingkan dengan hari ini.

Kata-kata berhamburan di ruang digital. Doa diucapkan sambil lalu, sumpah dilontarkan tanpa jeda batin, janji dibuat tanpa niat menepati. Ucapan kehilangan bobot karena tidak lagi didahului oleh pengendapan. Kita bicara lebih banyak, tetapi merasakan lebih sedikit. Kita bersumpah tanpa laku, berharap tanpa disiplin, berdoa tanpa keheningan.

Bukan berarti doa orang sekarang tidak didengar. Tetapi barangkali, jarak antara mulut dan hati kian melebar. Dulu, orang berpuasa sebelum berdoa. Kini, doa sering menjadi pelengkap kegaduhan.

Kearifan Jawa lama mengajarkan bahwa ucapan adalah ujung dari niat. Jika niat kusut, kata pun keruh. Jika batin riuh, doa kehilangan arah. Karena itu, orang tua dulu menjaga lisannya seperti menjaga pusaka. Mereka tahu, sekali dilepas, kata tidak bisa ditarik pulang.

Kisah Empu Gandring pada akhirnya bukan tentang keris terkutuk. Ia adalah sanepa—perumpamaan sunyi—tentang bahaya tergesa-gesa, tentang luka batin yang diabaikan, dan tentang kekuasaan yang tidak disertai keluhuran jiwa. Ia mengingatkan bahwa yang paling tajam bukanlah bilah logam, melainkan ucapan yang lahir dari amarah dan pengkhianatan.

Di dunia yang serba cepat ini, mungkin yang perlu kita warisi dari orang-orang dulu bukan ketakutan pada kutukan, melainkan kesungguhan dalam berkata dan berdoa. Belajar kembali menata batin sebelum berbicara. Menimbang kata sebelum diucap. Karena bisa jadi, kekuatan terbesar bukan terletak pada apa yang kita katakan, melainkan pada sejauh mana kita hidup selaras dengan kata-kata itu sendiri.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments