LESINDO.COM- Dalam falsafah Jawa, kekuatan tidak pernah dipamerkan. Ia disimpan rapi, dibungkus kesantunan, dan disampaikan lewat simbol—agar tidak melukai, agar tidak memalukan. Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti: sekeras apa pun kuasa dan keberanian, ia akhirnya luruh oleh welas asih. Bukan oleh teriakan, bukan oleh paksaan.
Peradaban Jawa tumbuh dari kesadaran bahwa kata adalah senjata paling tajam. Karena itu ia diasah dengan rasa, diikat oleh tata krama. Petuah tidak diteriakkan di alun-alun, melainkan dibisikkan di pendapa batin. Kritik disampaikan lewat sindiran halus, bukan tudingan telanjang.
Namun zaman telah berubah. Simbol dianggap bertele-tele. Kesantunan dicurigai sebagai kelemahan. Yang fulgar justru dipuja sebagai keberanian. Kata-kata tak lagi dibungkus pangastuti, melainkan dilontarkan mentah—atas nama rakyat, atas nama kebenaran—untuk menyerang, bahkan membunuh karakter.
Di titik inilah kisah Sabdo Palon terasa seperti gema lama yang kembali menggema. Dalam Serat Darmagandhul, ia berpisah dengan Prabu Brawijaya V tanpa air mata. Bukan karena tak ada cinta, melainkan karena jalan telah berbeda. Janji lima abad bukan ancaman, melainkan penanda: suatu saat nilai akan diuji oleh zaman.
Kini, peperangan tak lagi menggunakan keris atau tombak. Ia berlangsung di ruang kata: potongan kalimat, ujaran berputar, tuduhan tanpa arah. Ngluruk tanpa bala dipahami sebatas nekat sendirian; menang tanpa ngasorake kehilangan maknanya, sebab kemenangan hari ini justru diukur dari seberapa dalam lawan direndahkan.
Padahal falsafah Jawa mengingatkan: keberanian sejati bukan memaksakan diri saat hawa nafsu berteriak, melainkan menahan langkah ketika batin telah memberi tanda. Orang yang kehilangan akal budi—kata para sepuh—ialah yang ciloloko di dunia dan akhirat. Ia tampak lantang, namun sejatinya kosong; terlihat menang, tapi sesungguhnya kalah.
Ranggawarsita telah lama menulis peringatan itu: amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi. Zaman gila membuat orang serba sulit bersikap. Ikut gila tak sanggup, tak ikut gila tak kebagian. Di tengah himpitan itu, penyair menutup dengan pilihan sunyi: eling lan waspada. Bukan lari, bukan melawan dengan kebisingan serupa.
Satir zaman ini barangkali terletak di sana: ketika yang paling beruntung bukan mereka yang paling keras bersuara, melainkan yang masih mampu menahan lidahnya. Di saat kata dipakai untuk melukai, orang Jawa lama justru mengajarkan seni diam yang bernilai.
Di tengah hiruk-pikuk ucapan dan tindakan yang menjauh dari nilai-nilai Jawa, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling berani bicara, melainkan siapa yang masih setia menjaga rasa. Sebab peradaban tak runtuh oleh serangan luar, melainkan oleh hilangnya pangastuti dari dalam bahasa kita sendiri. (mac)

