spot_img
BerandaBudayaWeton: Membaca Takdir dengan Kesadaran, Menyelaraskan Hidup dengan Alam

Weton: Membaca Takdir dengan Kesadaran, Menyelaraskan Hidup dengan Alam

Keselarasan adalah kata kunci dalam kebudayaan Jawa. Hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Yang Maha Kuasa dijaga melalui keseimbangan. Karena itu, weton kerap hadir dalam keputusan-keputusan penting: pernikahan, membangun rumah, hingga memulai usaha.

Oleh : Dhen Ba Gus e Ngarso

LESINDO.COM- Bagi orang Jawa, hidup bukanlah perjalanan yang berjalan tanpa pola. Ia berdenyut, berirama, dan bergerak mengikuti hukum alam yang halus namun pasti. Di sanalah weton mengambil peran—bukan sekadar penanda hari lahir, melainkan kompas batin yang menuntun manusia agar tidak kehilangan arah di tengah pusaran kehidupan.

Weton adalah pertemuan dua siklus waktu: tujuh hari Masehi (Senin hingga Minggu) dan lima hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Dua poros ini membentuk satu titik lahir—sebuah simpul energi yang diyakini membawa watak, kecenderungan, sekaligus pelajaran hidup seseorang. Maka, bagi orang Jawa, mengetahui weton bukan soal meramal nasib, melainkan memahami diri.

Watak sebagai Bekal, Bukan Vonis

Dalam khazanah pawukon, setiap weton memuat gambaran karakter. Ada yang dipercaya berjiwa pemimpin, ada yang berhati lembut, ada pula yang dianugerahi ketajaman intuisi. Namun orang Jawa tidak berhenti pada pujian semata. Justru yang lebih penting adalah mengenali sisi rapuh dalam diri.

Mengetahui kelemahan sejak awal dipandang sebagai laku eling lan waspada—sadar dan berjaga. Bukan untuk menghakimi diri, melainkan agar seseorang tidak dikuasai ego. Dalam pandangan ini, watak bukanlah takdir yang membelenggu, tetapi bekal untuk mengolah diri. Hidup yang baik bukan hidup tanpa cacat, melainkan hidup yang tahu di mana harus menahan diri.

Hitungan sebagai Ikhtiar Harmoni

Keselarasan adalah kata kunci dalam kebudayaan Jawa. Hubungan manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Yang Maha Kuasa dijaga melalui keseimbangan. Karena itu, weton kerap hadir dalam keputusan-keputusan penting: pernikahan, membangun rumah, hingga memulai usaha.

Hitungan petungan—seperti Pegat, Ratu, Jodoh, atau Topo—sering disalahpahami sebagai ramalan buruk. Padahal, ia lebih menyerupai peta risiko. Jika jalannya berat, orang Jawa tidak lantas menyerah, tetapi mencari cara untuk menetralisirnya melalui doa, sedekah, atau ritual simbolik. Yang dikejar bukan kesempurnaan, melainkan ayem dan tentrem—ketenangan lahir dan batin.

Waktu yang Berputar, Bukan Berlari

Berbeda dengan cara pandang modern yang memaknai waktu sebagai garis lurus, orang Jawa melihat waktu sebagai putaran—cakra manggilingan. Ada saat untuk bergerak, ada masa untuk menepi. Konsep ini tercermin dalam pencarian hari baik.

Memilih hari baik bukan berarti hari lain membawa sial. Ia adalah upaya menyelaraskan momentum pribadi dengan irama semesta, agar langkah tidak tersandung oleh hal-hal yang sebetulnya bisa dihindari. Dalam bahasa Jawa, harapannya adalah nir sambikala—terhindar dari halangan yang tidak perlu.

Ilmu Titen: Kebijaksanaan yang Teruji Zaman

Weton tidak lahir dari ruang hampa. Ia berakar pada ilmu titen—kebiasaan mencermati peristiwa, mengingat pola, dan menarik kesimpulan dari pengalaman kolektif selama ratusan tahun. Dalam pengertian modern, ini menyerupai statistik tradisional: bukan angka-angka kaku, melainkan pengetahuan yang hidup dari ingatan bersama.

Ilmu titen mengajarkan bahwa hidup selalu meninggalkan jejak, dan jejak itu bisa dibaca bila manusia mau menaruh perhatian.

Berjalan Searah dengan Alam

Pada akhirnya, filosofi weton bermuara pada satu tujuan besar: manunggaling kawula Gusti. Kesatuan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Mengikuti hitungan weton bukan bentuk kepasrahan buta, melainkan ikhtiar agar hidup tidak melawan arus kodrat.

Orang Jawa meyakini, kebahagiaan bukan diperoleh dengan menaklukkan alam, tetapi dengan menyelaraskan diri dengannya. Sebab hidup yang selaras akan terasa lebih ringan, meski jalannya tetap menanjak.

Seperti petuah lama yang masih bergema hingga kini:
“Wong Jawa iku nggandeli lakune alam.”
Orang Jawa memegang teguh jalan alam—dan di sanalah kebijaksanaan hidup perlahan menemukan bentuknya.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments