Laporan perjalanan dari ketinggian Dieng
Menuju Ketinggian yang Belum Sepenuhnya Terjaga
LESINDO.COM – Subuh di Dataran Tinggi Dieng selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Udara dingin merayap dari celah-celah ladang kentang, kabut menggantung rendah di antara perbukitan, dan jalan menuju Kejajar masih sunyi dari lalu lintas wisatawan. Di sinilah, sekitar 22 kilometer dari pusat Wonosobo, berdiri salah satu destinasi yang kini menjadi magnet baru para pemburu sunrise: Watu Angkruk.
Terletak di Desa Tieng, Kecamatan Kejajar, lokasi ini berada pada ketinggian sekitar 1.800–2.100 mdpl. Untuk menyaksikan matahari terbit, pengunjung biasanya sudah berdatangan sejak pukul 04.00–05.00 WIB, sebelum gerbang resmi dibuka. Tiket masuknya relatif terjangkau, sekitar Rp15.000 per orang.
Saat tiba lebih awal, suasana masih sangat lengang. Hanya terdengar suara angin yang menabrak rimbunan pepohonan dan sesekali langkah wisatawan yang baru datang. Pagi yang sepi inilah yang justru menjadi nilai tambah bagi Watu Angkruk: tempat yang lebih nyaman dinikmati sebelum keramaian datang mendominasi.
Spot Sunrise yang Menjadi Andalan
Ketika langit mulai memudar dari gelap ke semburat jingga, Watu Angkruk berubah menjadi panggung alam. Dari gardu pandang utama yang menghadap lembah luas, pengunjung dapat menyaksikan matahari terbit yang perlahan muncul di balik perbukitan.
Di waktu-waktu tertentu—terutama saat kemarau dan cuaca cerah—pengunjung bisa beruntung menyaksikan fenomena yang menjadi julukan tempat ini: “Negeri di Atas Awan”. Kabut tebal menyelimuti lembah di bawah, menciptakan ilusi seperti hamparan lautan putih, sementara bukit-bukit hijau tampak seperti pulau kecil yang timbul tenggelam di atasnya. Fenomena ini berlangsung cepat, sekitar 20–30 menit, sebelum kabut mulai terangkat oleh sinar matahari.
Bagi banyak wisatawan, momen ini menjadi alasan utama datang subuh-subuh ke Watu Angkruk.
Jembatan Kaca: Ikon yang Menantang Nyali
Salah satu daya tarik yang langsung menyita perhatian adalah Jembatan Kaca atau sky bridge. Struktur transparan ini menjorok ke tebing, memberi kesan seolah pengunjung sedang melayang di atas lanskap dataran tinggi. Ketika kabut tipis masih bergerak pelan di bawah, sensasinya semakin dramatis.
Walau sebagian orang sempat ragu melangkah karena melihat permukaan kaca, keamanan jembatan telah diuji oleh pengelola. Banyak pengunjung akhirnya memilih memberanikan diri, beberapa bahkan kembali untuk mengambil foto dari berbagai sudut.
Dari titik ini, panorama tampak lebih luas. Garis lembah, kebun-kebun sayur milik warga, serta rumah-rumah kecil di kejauhan terlihat seolah terpampang dalam bingkai kaca raksasa.
Panorama 360 Derajat dari Gardu Pandang

Selain sky bridge, Watu Angkruk menyediakan beberapa titik pandang lain yang menyuguhkan pemandangan 360 derajat. Dari ketinggian ini, dua gunung besar di Jawa Tengah—Sindoro dan Sumbing—terlihat berdampingan, seperti penjaga alam Dieng yang kokoh dan abadi. Di sisi lain, hamparan ladang warga terlihat teratur, mengikuti kontur bukit yang menanjak dan menurun.
Di pagi hari, warna hijau tanaman begitu kontras dengan kabut tipis. Ketika matahari mulai naik, warna emasnya memantul di pucuk-pucuk tanaman kentang, menciptakan pemandangan yang jarang ditemui di tempat lain.
Surga Baru Para Pemburu Foto
Pengelola Watu Angkruk tampaknya cukup memahami selera wisatawan kekinian. Selain jembatan kaca, terdapat sejumlah spot foto tematik seperti replika kereta kencana, ayunan tinggi, instalasi berbentuk hati, hingga sudut-sudut taman kecil dengan dekorasi estetik.
Jika pagi masih sepi, pengunjung bisa lebih leluasa mengambil foto tanpa antre panjang. Banyak keluarga memilih datang sebelum pukul enam pagi agar anak-anak dapat bermain dan berfoto tanpa berdesakan.
Lebih dari Sekadar Tempat Foto
Walau Instagramable menjadi kata yang sering disematkan, Watu Angkruk sebenarnya menawarkan lebih dari sekadar latar foto. Keheningan pagi, hembusan angin dataran tinggi, aroma tanah basah, serta bentang alam Dieng yang luas membuat tempat ini layak disebut sebagai ruang perhentian bagi siapa pun yang ingin jeda dari rutinitas.
Bagi sebagian pengunjung, momen menunggu matahari terbit sambil memegang secangkir kopi panas dari warung kecil di area atas terasa cukup untuk membuat perjalanan ke Wonosobo sepadan.
Watu Angkruk, dengan seluruh kesederhanaannya, berhasil memadukan panorama dataran tinggi, fasilitas modern, dan pengalaman visual yang kuat—sebuah kombinasi yang membuatnya semakin populer di kalangan wisatawan lokal maupun luar daerah. (mac)

