LESINDOD.COM – Di sebuah pagi yang tampak biasa, rezeki sering kali lewat tanpa suara. Ia tidak selalu datang dalam bentuk amplop tebal atau angka yang bertambah di layar gawai. Kadang ia hadir sebagai ketenangan, sebagai pintu yang tiba-tiba terbuka, atau sebagai orang baik yang datang tepat ketika kita hampir menyerah. Dalam pandangan batin, semua itu bergerak pada satu hukum yang sunyi namun pasti: vibrasi.
Rezeki, dalam makna yang lebih dalam, tidak semata-mata soal usaha dan perhitungan rasional. Ia adalah pertemuan antara ikhtiar manusia dan keselarasan batin. Seperti gelombang radio, rezeki hanya bisa diterima oleh jiwa yang memancarkan frekuensi sepadan.
Nada Batin yang Mengundang Datang
Setiap manusia, sadar atau tidak, memancarkan getaran. Pikiran yang jernih, hati yang lapang, dan niat yang bersih membentuk vibrasi tinggi—tenang, stabil, dan mengundang. Sebaliknya, keluhan yang terus diulang, iri yang dipelihara, serta ketakutan akan kekurangan menciptakan frekuensi rendah—resah, sempit, dan saling bertabrakan.
Di sinilah banyak orang keliru membaca rezeki. Mereka bekerja keras, namun batinnya sibuk menolak. Mulut berdoa meminta kelapangan, sementara hati terus mengutuk nasib. Getaran yang dipancarkan pun menjadi tak selaras: ingin cukup, tapi merasa selalu kurang.
Orang Jawa menyebut kondisi ini sebagai ora mathuk—tidak pas. Tidak pas antara apa yang diminta dan apa yang dirasakan.
Rezeki yang Tak Betah Singgah
Ada orang yang mudah mendapat uang, namun uang itu tak pernah betah tinggal lama. Datang cepat, pergi pun tergesa. Dalam kacamata vibrasi, ini bukan soal pintar atau bodoh mengelola keuangan semata, melainkan soal wadah batin.
Hati yang penuh prasangka, jiwa yang menyimpan dengki, dan pikiran yang kerap merasa dizalimi menciptakan ruang yang panas. Rezeki, sebagaimana air, enggan tinggal di bejana yang bocor dan bergetar tak menentu. Ia akan mengalir, tapi hanya untuk lewat.
Tak heran jika sebagian rezeki habis bukan untuk kebahagiaan, melainkan untuk menutup lubang-lubang yang tak terlihat: konflik, penyakit, kegagalan berulang, atau rasa lelah yang tak terdefinisi.
Syukur sebagai Penyetel Frekuensi
Syukur sering disalahpahami sebagai sikap pasrah yang melemahkan daya juang. Padahal, syukur justru adalah alat penyetel vibrasi paling presisi. Ia menenangkan gelombang batin, menstabilkan emosi, dan membuka ruang penerimaan.
Orang yang bersyukur tidak berhenti berusaha. Ia hanya berhenti mengeluh. Dari sanalah energi hidupnya berubah. Ia bekerja dengan ringan, memberi tanpa takut kurang, dan menerima tanpa merasa paling berhak. Vibrasinya menjadi jernih—dan rezeki mengenali jalannya pulang.
Sedekah, dalam konteks ini, bukan sekadar transaksi sosial, melainkan tindakan metafisik: menutup retakan batin dengan keikhlasan. Setiap memberi adalah pesan sunyi kepada semesta bahwa kita percaya pada kecukupan.
Lingkungan sebagai Cermin Getaran
Vibrasi rezeki juga tercermin dari cara seseorang memperlakukan ruang hidupnya. Rumah yang bersih, rapi, dan terawat bukan sekadar estetika, melainkan pernyataan batin bahwa penghuninya siap menerima. Ruang yang lapang melatih jiwa untuk tidak menumpuk—baik barang maupun luka lama.
Dalam kebudayaan Jawa, rumah dipercaya memiliki roso. Ia menyerap emosi penghuninya. Ketika rumah dirawat dengan niat baik, ia memantulkan ketenteraman. Dan ketenteraman adalah magnet rezeki yang paling sering diabaikan.
Memantaskan Diri, Bukan Mengejar Mati-matian
Pada akhirnya, vibrasi rezeki mengajarkan satu pelajaran penting: rezeki tidak selalu dikejar, tapi dijemput dengan kepantasan. Kepantasan batin, kepantasan niat, dan kepantasan sikap terhadap sesama.
Ketika hidup berbunyi selaras—pikiran tenang, hati bersih, dan tindakan lurus—rezeki menemukan jalannya sendiri. Ia datang tidak selalu sesuai keinginan, tetapi hampir selalu tepat sesuai kebutuhan.
Dan barangkali, di situlah letak rahasia terdalam rezeki: ia bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa selaras kita hidup dengan getaran kehidupan itu sendiri.(Fai)

