Oleh : R. Arunika
LESINDO.COM – Di tengah riuhnya kehidupan modern, tidak semua senyum lahir dari hati yang tenang. Ada senyum yang dirawat seperti properti panggung—dipoles, diatur sudutnya, disesuaikan dengan penonton. Namun ketika lampu meredup dan keramaian pulang, yang tersisa adalah sunyi yang tak selalu ramah. Di sanalah kemunafikan pelan-pelan memperlihatkan wajah aslinya: melelahkan.
Kemunafikan bukan sekadar persoalan moral, melainkan juga beban psikologis. Ia menuntut seseorang hidup dalam dua dunia—yang tampak dan yang disembunyikan. Dan seperti rumah dengan dua pintu rahasia, semakin banyak lorong yang dibuat, semakin rumit pula menjaganya.
Hidup dalam Dua Wajah
Orang yang terbiasa memainkan dua peran sering kali kehilangan jeda untuk menjadi dirinya sendiri. Di satu tempat ia berkata A, di tempat lain ia menyanggahnya dengan B. Ucapannya lentur mengikuti situasi, tetapi batinnya kaku menanggung ketegangan. Energi habis bukan untuk berkarya atau mencintai, melainkan untuk menjaga citra.
Pada titik tertentu, kelelahan itu tidak lagi terasa sebagai letih fisik, melainkan kegersangan jiwa. Sebab hati dan lisan yang tak sejalan adalah sumber kegaduhan yang tak terdengar.
Takut Terbongkar Setiap Saat
Di balik kepura-puraan, selalu ada kecemasan. Seperti seseorang yang menyimpan retak pada dinding rumahnya, ia khawatir suatu hari hujan akan memperjelas garis-garis rapuh itu. Ketakutan terbongkar membuatnya waspada berlebihan—memilih kata dengan cemas, mengukur langkah dengan curiga.
Hidup pun berubah menjadi ruang pengamanan, bukan ruang pertumbuhan. Alih-alih menikmati hari, ia sibuk memastikan kebohongan tetap utuh. Padahal kebohongan, sehalus apa pun, menyimpan waktu kedaluwarsa.
Kehilangan Koneksi yang Autentik
Hubungan sejati tumbuh dari keberanian untuk dikenal apa adanya. Namun bagi mereka yang terbiasa memakai topeng, kedekatan terasa berisiko. Mereka mungkin dikelilingi banyak orang, disapa dengan hangat, bahkan dipuji. Tetapi pujian itu tak pernah benar-benar menyentuh inti dirinya, sebab yang dipuji hanyalah peran.
Kesepian paling sunyi bukanlah ketika tak ada siapa-siapa, melainkan ketika tak seorang pun mengenal diri kita yang sebenarnya. Di situlah kemunafikan menciptakan jarak—bukan hanya dengan orang lain, tetapi juga dengan diri sendiri.
Konflik Batin yang Tak Pernah Usai
Ada pertentangan halus ketika nilai hati tidak selaras dengan tindakan. Hati mungkin tahu mana yang jujur, tetapi lidah memilih yang aman. Nurani mungkin ingin lurus, tetapi kepentingan memintanya berbelok. Konflik semacam ini jarang terlihat, namun perlahan menggerogoti ketenangan.
Ia seperti air yang menetes terus-menerus pada batu: tak terdengar keras, tetapi pasti mengikis. Tanpa keselarasan, jiwa sulit merasa utuh. Dan tanpa keutuhan, kebahagiaan hanya menjadi fragmen.
Sulit Mensyukuri dan Menerima Diri
Kebahagiaan berakar pada penerimaan. Namun bagaimana mungkin seseorang menerima dirinya jika ia sendiri menjauh dari jati dirinya? Kepura-puraan membuatnya lebih akrab dengan citra dibandingkan dengan diri sejati. Ia sibuk menjadi “yang diharapkan”, bukan “yang sebenarnya”.
Tanpa kejujuran pada diri sendiri, rasa syukur pun kehilangan tanah pijaknya. Yang tersisa hanyalah ilusi kebahagiaan—tampak dari luar, kosong di dalam.
Pada akhirnya, kemunafikan bukan hanya merugikan orang lain, tetapi juga menyandera pelakunya. Ia mengikat batin dalam kecemasan, memisahkan diri dari keaslian, dan menjauhkan jiwa dari damai yang sederhana.
Barangkali bahagia tidak selalu berarti memiliki segalanya. Kadang ia hadir justru ketika seseorang berani menanggalkan topeng, menerima retaknya, dan memilih hidup dalam satu wajah saja—wajah yang jujur, meski tak selalu sempurna.

