Menjaga Takhta, Merawat Zaman
LESINDO.COM – Pendhapa Ageng Pura Mangkunegaran pagi itu tak sekadar menjadi ruang upacara. Ia menjelma poros ingatan—tempat waktu seakan berjalan mundur, menyusuri jejak para leluhur, sekaligus menatap masa depan. Di sanalah Tingalan Jumenengan KGPAA Mangkunegara X digelar, sebuah peringatan naik takhta yang lebih dari sekadar ulang tahun jabatan. Ia adalah laku budaya, legitimasi spiritual, dan pernyataan sikap kepemimpinan di tengah zaman yang terus berubah.
Tingalan Jumenengan, dalam khazanah tradisi Jawa, berasal dari dua kata kunci: tingal (melihat atau memperingati) dan jumeneng (berdiri, naik takhta). Maka, prosesi ini bukan hanya mengenang hari penobatan, tetapi juga menjadi momentum refleksi: sejauh mana seorang penguasa berdiri tegak dalam amanahnya—kepada leluhur, rakyat, dan zamannya sendiri.
Takhta sebagai Amanah, Bukan Sekadar Warisan
Bagi masyarakat Mangkunegaran, jumenengan bukan peristiwa seremonial yang hampa makna. Ia adalah simbol perjanjian tak tertulis antara pemimpin dan yang dipimpin. Di dalamnya terkandung doa keselamatan—bagi Sang Adipati, kerabat, para abdi dalem, hingga rakyat yang berada di luar tembok keraton.
KGPAA Mangkunegara X, yang naik takhta pada Maret 2022 dengan nama kecil Gusti Bhre Sudjiwo, memaknai jumenengan sebagai proses merawat kesinambungan. Ia berdiri di antara dua dunia: dunia nilai-nilai adiluhung Jawa yang menekankan tata krama, harmoni, dan laku batin; serta dunia modern yang menuntut keterbukaan, efisiensi, dan relevansi sosial.
“Keraton bukan museum,” begitu pesan yang kerap tersirat dalam setiap kebijakan dan gesturnya. Ia hidup, bernapas, dan harus berdialog dengan masyarakatnya.
Bedhaya Anglir Mendhung: Ketika Tubuh Menjadi Doa
Puncak sakral Tingalan Jumenengan di Pura Mangkunegaran terletak pada pementasan Tari Bedhaya Anglir Mendhung. Tujuh penari perempuan memasuki ruang dengan langkah pelan, nyaris tanpa suara, seolah membawa kabut tipis dari masa lalu. Setiap gerak bukan sekadar estetika, melainkan simbol dan doa.
Tarian ini diciptakan oleh Mangkunegara I—Pangeran Sambernyawa—sebagai memorial atas perjuangan gerilya melawan kompeni Belanda di hutan Sitakepyak. “Anglir mendhung” dapat dimaknai sebagai bergeraknya awan gelap: simbol masa sulit, perlawanan, dan keteguhan hati. Dalam konteks jumenengan, tarian ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan lahir dari perjuangan, bukan kenyamanan.
Berbeda dengan Bedhaya di Kasunanan Surakarta atau Yogyakarta yang dibawakan sembilan penari, Bedhaya Anglir Mendhung hanya ditarikan oleh tujuh orang. Jumlah ini dipercaya memiliki makna kosmologis tersendiri dalam tradisi Mangkunegaran. Kesakralannya dijaga ketat—ia hanya dipentaskan pada momentum-momentum tertentu, terutama yang berkaitan langsung dengan takhta.
Prosesi yang Tertib, Makna yang Dalam
Rangkaian Tingalan Jumenengan berlangsung dengan tata urut yang nyaris tak berubah lintas generasi. Miyos Dalem, saat Mangkunegara X memasuki Pendhapa Ageng diiringi gamelan khusus, menjadi penanda awal bahwa ruang telah disucikan. Gending yang mengalun bukan sekadar musik, melainkan penanda transisi: dari ruang profan menuju ruang sakral.
Setelah pementasan tari, Sabda Dalem disampaikan. Inilah momen ketika Sang Adipati berbicara—bukan hanya sebagai simbol budaya, tetapi sebagai pemimpin institusional. Amanat yang disampaikan kerap menyinggung visi, keberlanjutan budaya, serta peran Mangkunegaran dalam kehidupan sosial Kota Surakarta.
Prosesi kemudian dilengkapi dengan penganugerahan gelar atau kenaikan pangkat bagi abdi dalem dan tokoh masyarakat yang dinilai berjasa. Di sini tampak jelas bahwa tradisi bukan hanya merawat masa lalu, tetapi juga memberi ruang penghargaan bagi kerja-kerja di masa kini.
Acara ditutup dengan kembul bujana—jamuan makan bersama. Dalam budaya Jawa, makan bersama adalah simbol egalitarianisme: penguasa dan tamu duduk dalam suasana kebersamaan, menegaskan bahwa harmoni sosial dibangun dari kedekatan, bukan jarak.
Kirab dan Rakyat: Tradisi yang Keluar dari Tembok

Salah satu ciri kuat kepemimpinan Mangkunegara X adalah keterbukaan. Setelah prosesi adat di dalam keraton, perayaan kerap dilanjutkan dengan kirab budaya mengelilingi kawasan Pura Mangkunegaran. Kereta kencana melaju perlahan, diikuti barisan prajurit, korps musik, dan elemen masyarakat.
Kirab ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah pernyataan simbolik bahwa Mangkunegaran tidak berdiri terpisah dari rakyatnya. Tradisi keluar dari tembok, menyapa jalanan, menyatu dengan denyut kota.
Generasi muda, yang selama ini mungkin merasa tradisi keraton terlalu jauh dan eksklusif, diajak untuk melihat, merekam, bahkan terlibat. Revitalisasi budaya dilakukan tanpa mencabut akar—pakem tetap dijaga, tetapi cara penyajiannya menyesuaikan zaman.
Merawat Tradisi, Menjawab Zaman
Tingalan Jumenengan Mangkunegara X memperlihatkan bahwa tradisi bukan beban masa lalu, melainkan sumber daya kultural untuk masa depan. Di tangan pemimpin yang memahami konteks zamannya, jumenengan menjadi ruang dialog: antara leluhur dan generasi kini, antara simbol dan praktik, antara sakralitas dan keterbukaan.
Dalam kalender Jawa, Tingalan Jumenengan tidak selalu jatuh pada tanggal yang sama setiap tahun. Ia mengikuti perhitungan wuku dan weton penobatan pertama—sebuah pengingat bahwa waktu, dalam pandangan Jawa, tidak linier, melainkan siklikal. Apa yang dirawat hari ini akan kembali, diuji, dan dimaknai ulang oleh generasi berikutnya.
Di Pendhapa Ageng itu, takhta tidak hanya dijaga. Ia dirawat—dengan laku, doa, dan keberanian membaca zaman. (Din)

