spot_img
BerandaJelajahjelajahTenang Tanpa Pengakuan: Jalan Sunyi Orang-Orang Berkualitas

Tenang Tanpa Pengakuan: Jalan Sunyi Orang-Orang Berkualitas

Menjadi orang berkualitas bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang bertumbuh tanpa perlu tepuk tangan. Ia tentang memilih jalan yang benar meski sepi, tentang terus melangkah meski tak selalu dipuji.

LESINDO.COM – Di sebuah ruang kerja yang sederhana, tanpa sorot lampu dan tanpa tepuk tangan, ada sosok-sosok yang bekerja dalam diam. Mereka datang lebih awal, pulang paling akhir, dan nyaris tak pernah terdengar membicarakan diri sendiri. Tak ada unggahan panjang tentang pencapaian, tak ada kalimat samar yang sengaja dilempar agar dipuji. Mereka berjalan tenang—seolah hidup bukan panggung, melainkan ladang pengabdian.

Orang-orang seperti inilah yang sering kita sebut “berkualitas”. Bukan karena mereka tanpa cela, melainkan karena mereka tidak sibuk meminta dunia menilai siapa dirinya.

Di zaman ketika validasi dapat dihitung dengan angka—jumlah suka, komentar, dan tepuk tangan digital—mereka memilih ukuran yang berbeda. Ukuran yang tak kasatmata: konsistensi, integritas, dan kesetiaan pada nilai. Mereka tidak alergi terhadap apresiasi, tetapi juga tidak menggantungkan harga diri pada pengakuan.

Kepercayaan diri mereka tidak berisik. Ia seperti akar pohon beringin yang menancap jauh ke dalam tanah—tak terlihat, tetapi menopang seluruh batang agar tetap tegak meski diterpa angin. Mereka tahu siapa dirinya, apa kekuatannya, dan di mana batasnya. Kesadaran diri itulah yang membuat mereka tak perlu membuktikan diri kepada siapa pun.

Ada semacam ketenangan yang lahir dari pengenalan diri. Ketika seseorang sungguh memahami siapa dirinya dan apa yang hendak ia tuju, ia tidak mudah goyah oleh bisik-bisik penilaian. Kritik tidak langsung dianggap serangan, pujian tidak membuatnya mabuk kepayang. Ia memandang keduanya sebagai bagian dari perjalanan, bukan penentu nilai dirinya.

Dalam budaya Jawa, ada ungkapan yang lirih namun dalam: ajining diri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana. Harga diri bukan semata pada penampilan atau suara keras yang menggelegar, melainkan pada keluhuran sikap. Orang berkualitas memahami bahwa martabat tidak dibangun dari sorak-sorai, tetapi dari keteguhan memegang prinsip, bahkan saat tak ada yang menonton.

Mental yang kuat bukan berarti kebal kritik. Mereka tetap mendengar, menimbang, bahkan belajar dari masukan. Namun mereka tidak membiarkan pendapat negatif mengendalikan arah hidupnya. Mereka tahu, jika setiap suara luar dijadikan kompas, maka perjalanan akan tersesat sebelum sampai tujuan.

Fokus mereka sederhana: tujuan dan nilai. Mereka bekerja karena panggilan tanggung jawab, bukan demi citra. Mereka memperbaiki diri karena sadar akan kekurangan, bukan karena takut dianggap gagal. Di situlah letak kualitas: pada proses yang jujur, bukan pada pengakuan yang riuh.

Menjadi orang berkualitas bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang bertumbuh tanpa perlu tepuk tangan. Ia tentang memilih jalan yang benar meski sepi, tentang terus melangkah meski tak selalu dipuji.

Maka jika ingin menapaki jalan itu, mungkin yang perlu kita kurangi bukan usaha, melainkan kebutuhan untuk diakui. Sebab ketika seseorang telah berdamai dengan dirinya sendiri, dunia tak lagi menjadi hakim yang menakutkan—ia hanya menjadi ruang tempat kita menjalani nilai yang kita yakini.

Dan di sanalah kualitas sejati menemukan rumahnya: dalam diam yang teguh, dalam langkah yang mantap, dalam hati yang tidak lagi sibuk meminta validasi. (Nel)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments