LESINDO.COM – Kabut tipis sering turun lebih dulu di Telaga Sarangan sebelum matahari benar-benar naik. Dari kejauhan, permukaan airnya tampak tenang, nyaris jinak. Namun masyarakat lereng Lawu tahu, ketenangan itu bukan sekadar bentang alam—ia adalah warisan cerita, doa, dan ketakutan yang dirawat turun-temurun.
Telaga Sarangan, atau yang oleh orang tua-tua disebut Telaga Pasir, bukan hanya destinasi wisata. Ia adalah penanda ingatan kolektif masyarakat Plaosan, Magetan, tentang asal-usul, kesetiaan, dan konsekuensi dari keinginan manusia.
Di sanalah, menurut cerita rakyat, hidup sepasang suami istri sepuh: Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Mereka bukan bangsawan, bukan pula tokoh sakti. Hanya petani hutan yang menggantungkan hidup pada tanah dan cuaca. Bertahun-tahun hidup bersama tanpa dikaruniai anak, mereka memilih jalan sunyi: bersemedi, memohon kepada Yang Maha Kuasa dengan laku prihatin.
Doa itu terkabul. Seorang anak lahir dan diberi nama Jaka Lelung. Namun, seperti banyak legenda Jawa, kebahagiaan tak selalu datang tanpa ujian.
Suatu hari, Kyai Pasir menemukan telur raksasa di hutan. Bukan emas, bukan pusaka—hanya telur. Karena lapar dan tak tahu asal-usulnya, telur itu dimasak dan dimakan bersama Nyai Pasir. Dari sinilah kisah berubah menjadi petaka.
Panas menyengat tubuh mereka. Gatal tak tertahankan. Mereka berguling di tanah, mengerang, hingga perlahan tubuh manusia itu berubah menjadi dua naga raksasa. Tanah yang mereka gulingi ambles, membentuk cekungan besar. Dari perut bumi, air menyembur deras, memenuhi lubang raksasa itu.
Di situlah Kyai Pasir dan Nyai Pasir menghilang—larut bersama air, dipercaya menjelma menjadi penunggu telaga. Cekungan itu kemudian dikenal sebagai Telaga Sarangan.
Bagi masyarakat setempat, legenda ini bukan dongeng pengantar tidur. Ia hidup dalam ritual, terutama Larung Sesaji yang digelar setiap bulan Ruwah. Kepala kerbau, hasil bumi, dan doa-doa dilarung ke telaga sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan kepada leluhur.
Larung sesaji bukan tentang menyembah telaga, melainkan menjaga keseimbangan: antara manusia dan alam, antara masa kini dan masa lalu. Sebuah cara Jawa untuk berkata bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dengan logika, dan tidak semua warisan boleh dilupakan.
Hari ini, perahu wisata hilir mudik di atas air Telaga Sarangan. Tawa pengunjung bercampur dengan deru angin pegunungan. Namun bagi warga setempat, telaga ini tetap memiliki batas tak kasatmata—batas sopan santun, batas percaya, batas hormat.
Karena di balik air yang tenang, Telaga Sarangan menyimpan kisah tentang doa yang dikabulkan, kesalahan yang tak disadari, dan alam yang selalu punya cara mengingatkan manusia:
bahwa tidak semua anugerah datang tanpa konsekuensi. (Urg)

