spot_img
BerandaJelajahSyukur: Menemukan Cukup di Tengah Dunia yang Tak Pernah Puas

Syukur: Menemukan Cukup di Tengah Dunia yang Tak Pernah Puas

“Jangan biarkan apa yang belum kamu miliki membuatmu lupa menghargai apa yang sudah kamu punya.” Kalimat itu terdengar sederhana, namun ia seperti jangkar di tengah arus dunia modern yang terus membisikkan bahwa kita belum cukup.

LESINDO.COM – Di sebuah pagi yang tampak biasa, aroma kopi mengepul pelan di sudut dapur. Cahaya matahari menembus celah jendela, jatuh di lantai yang mungkin tak pernah benar-benar kita perhatikan. Tidak ada yang spektakuler. Tidak ada perayaan. Namun justru di sanalah hidup berlangsung—hening, sederhana, dan sering kali luput dari kesadaran.

Kita hidup di zaman yang gemar menaruh kebahagiaan di kejauhan. Ia digantung di ujung promosi jabatan, di angka tabungan, di validasi yang berdenting di layar ponsel. Seakan-akan hati baru boleh merasa cukup setelah daftar panjang itu tercapai. Padahal, semakin panjang daftar itu, semakin jauh pula kebahagiaan terasa.

Filosofi syukur hadir seperti suara pelan yang mengingatkan: mungkin yang perlu diubah bukan keadaan, melainkan cara pandang.

Bayangkan hidup sebagai sebuah kamera. Ada yang memilih lensa zoom, mendekatkan fokus hanya pada retak kecil di dinding—kekurangan, kegagalan, hal-hal yang belum diraih. Setiap hari ia menghitung apa yang kurang, membandingkan apa yang belum dimiliki. Tanpa sadar, ia mengabaikan pemandangan luas yang sebenarnya terbentang indah di sekelilingnya.

Syukur adalah lensa lebar. Ia tidak menutup mata dari kesulitan, tetapi juga tidak membiarkan kesulitan menjadi seluruh cerita. Di tengah badai, ia masih melihat payung. Di tengah gelap, ia masih merasakan napas. Ia tahu, hidup tidak pernah sepenuhnya kosong.

Banyak dari kita terjebak dalam kalimat “jika dan maka”. Jika aku sukses, maka aku bahagia. Jika aku punya rumah itu, maka hidupku tenang. Masalahnya, “jika” selalu berpindah. Setelah satu tercapai, yang lain muncul. Keinginan bergerak lebih cepat dari rasa puas.

Syukur memutus rantai itu. Ia membawa kita kembali pada hari ini—pada detik yang sedang kita jalani. Ia berbisik, “Apa yang ada sekarang pun adalah anugerah.” Bukan berarti berhenti bermimpi, tetapi berhenti menunda rasa damai.

Dalam kesederhanaan, syukur menemukan kemewahan yang tak tercatat dalam laporan keuangan: tubuh yang masih sehat, percakapan hangat yang tulus, kesempatan memperbaiki diri setiap kali matahari terbit. Hal-hal kecil yang sering kita anggap biasa, padahal suatu hari bisa menjadi sesuatu yang sangat kita rindukan.

“Jangan biarkan apa yang belum kamu miliki membuatmu lupa menghargai apa yang sudah kamu punya.” Kalimat itu terdengar sederhana, namun ia seperti jangkar di tengah arus dunia modern yang terus membisikkan bahwa kita belum cukup.

Syukur bukan sikap pasrah tanpa usaha. Ia adalah fondasi yang kokoh sebelum melangkah lebih jauh. Orang yang bersyukur tetap bekerja keras, tetap bercita-cita tinggi, tetapi tidak menjadikan kekurangan sebagai identitas. Ia berusaha bukan karena merasa kosong, melainkan karena ingin memaksimalkan anugerah yang telah ada.

Di dalam syukur, hal kecil menjadi cukup. Di dalam syukur, hal biasa menjadi istimewa.

Dan mungkin, pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita kejar sampai letih, melainkan sesuatu yang tumbuh pelan ketika hati belajar berkata: hari ini pun sudah layak disyukuri.(Fai)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments