LESINDO.COM – Setiap pagi, dunia datang dengan caranya sendiri: bunyi klakson, pesan tak terbalas, tagihan yang menunggu, dan ingatan-ingatan yang diam-diam mengetuk batin. Tak semuanya berat, tapi sering kali terasa melelahkan. Bukan karena kenyataan terlalu kejam, melainkan karena pikiran kita tak berhenti mengulang hal-hal yang seharusnya bisa dilepaskan.
Di sebuah bangku taman kota, seorang lelaki paruh baya duduk memandangi lalu-lalang orang. Ia tak sedang menunggu siapa pun. Hanya menghela napas, seolah ingin mengendapkan sesuatu yang tak kasatmata. “Yang paling capek itu bukan kerja,” katanya pelan, “tapi pikiran yang tidak mau berhenti.”
Penderitaan, rupanya, tak selalu lahir dari peristiwa. Ia sering tumbuh dari pikiran yang berputar tanpa arah—mengulang rasa bersalah, memelihara ketakutan, dan membayangkan kemungkinan terburuk yang belum tentu terjadi. Akal yang seharusnya menjadi alat memahami hidup justru menjelma penjara yang membelenggu diri sendiri.
Filsafat sejak lama mengingatkan: manusia memiliki kebebasan batin. Kita mungkin tak bisa memilih apa yang terjadi, tetapi selalu bisa memilih bagaimana memaknainya. Di sanalah letak ruang sunyi yang memberi jeda—antara fakta dan tafsir, antara kenyataan dan kecemasan yang kita pelihara.
Kesadaran itu perlahan mengajarkan satu hal sederhana: tidak semua pikiran layak dipercaya. Ada yang perlu dirawat, ada pula yang mesti dilepaskan. Seperti taman, batin membutuhkan penyiangan. Gulma ketakutan harus dicabut, agar benih harapan tetap punya ruang tumbuh.
Maka kebijaksanaan bukan soal menghapus masalah, melainkan menata cara kita menatapnya. Saat pikiran menjadi lebih jujur dan tenang, jiwa pun menemukan ringannya. Dari sanalah manusia belajar berdamai—bukan karena dunia berubah, tetapi karena ia memilih tidak lagi memikul beban yang tak perlu.
Dan di tengah bising kehidupan, mungkin itulah bentuk kebahagiaan paling sunyi: merawat pikiran, agar hati tetap punya tempat untuk pulang. (Bah)

