spot_img
BerandaBudayaSungkeman: Antara Cinta, Tunduk, dan Luka yang Tak Selesai

Sungkeman: Antara Cinta, Tunduk, dan Luka yang Tak Selesai

Pada momen halal bihalal, tubuh-tubuh itu bersimpuh. Lutut menyentuh lantai. Tangan terkatup dalam sembah. Lalu perlahan, ujung jari menyentuh lutut kanan orang yang dihormati. Di situlah kata-kata paling jujur biasanya keluar—permintaan maaf yang tidak selalu mampu diucapkan dalam posisi berdiri. Ada yang bergetar, ada yang tertahan, ada yang luruh menjadi tangis tanpa suara.

LESINDO.COM – Di tanah Jawa, ada satu gerak tubuh yang tak sekadar gerakan. Ia adalah bahasa. Ia adalah doa. Ia adalah penyerahan diri. Orang menyebutnya sungkeman—dari kata sungkem, bersimpuh dengan kepala menunduk, tangan menghatur sembah, lalu menyentuhkan hormat pada tubuh yang lebih tua, yang dimuliakan.

Bagi masyarakat Jawa, terutama dalam lingkar budaya Surakarta dan Yogyakarta, sungkeman bukan sekadar tradisi Lebaran. Ia adalah cara merawat relasi—antara anak dan orang tua, antara yang muda dan yang dituakan, antara manusia dan nilai-nilai yang tak kasat mata.

Pada momen halal bihalal, tubuh-tubuh itu bersimpuh. Lutut menyentuh lantai. Tangan terkatup dalam sembah. Lalu perlahan, ujung jari menyentuh lutut kanan orang yang dihormati. Di situlah kata-kata paling jujur biasanya keluar—permintaan maaf yang tidak selalu mampu diucapkan dalam posisi berdiri. Ada yang bergetar, ada yang tertahan, ada yang luruh menjadi tangis tanpa suara.

Setelahnya, sembah diulang. Sebuah penutup yang seperti mengatakan: aku kembali kecil di hadapanmu, dan itu tidak apa-apa.

Untuk keluarga dekat, ritual itu kadang berlanjut menjadi pelukan, cium pipi, atau kening. Tapi inti dari semuanya tetap sama—kerendahan hati yang diwujudkan dalam tubuh.

Namun sungkeman tidak berhenti pada yang hidup.

Di pemakaman, di bawah langit yang sering kali lebih sunyi, tradisi itu menemukan bentuk lain. Seseorang datang, duduk bersimpuh di hadapan nisan. Tangan kembali menyembah. Lalu perlahan, ujung nisan disentuh—dicium dengan cara yang sama seperti ketika orang tua masih ada.

Tak jarang, asap kemenyan tipis naik dari anglo tanah liat. Bukan sekadar aroma, tapi penanda bahwa ada yang sedang diingat, yang tak lagi bisa disentuh, namun tetap ingin dihormati.

Di sini, sungkeman berubah menjadi jembatan—antara yang hidup dan yang telah pergi. Antara raga dan kenangan.

Tapi sejarah Jawa juga mencatat: tidak semua sungkeman berakhir dalam damai.

Di Kotagede, berdiri sebuah batu yang dikenal sebagai Watu Gilang. Ia bukan sekadar peninggalan. Ia adalah saksi.

Pada masa awal berdirinya kekuasaan Mataram, Panembahan Senopati berusaha menyatukan wilayah-wilayah di sekitarnya. Salah satu yang paling kuat menolak adalah Ki Ageng Mangir—seorang pemimpin yang disegani, teguh, dan tidak mudah tunduk.

Alih-alih menghadapinya dengan perang terbuka, jalan lain dipilih. Lebih halus, lebih sunyi, sekaligus lebih getir.

Putri raja, Ratu Pembayun, diutus. Ia datang bukan sebagai utusan kekuasaan, tapi sebagai perempuan—dengan pesona, kecerdasan, dan strategi yang tak terbaca. Ki Ageng Mangir jatuh cinta. Pernikahan pun terjadi. Sebuah ikatan yang, di permukaan, tampak seperti penyatuan dua dunia.

Namun cinta itu ternyata membawa jalan pulang yang berbeda.

Dengan bujukan halus, Ki Ageng Mangir diajak menghadap ke Mataram. Sebuah langkah yang, dalam tradisi Jawa, berarti membuka diri pada kemungkinan tunduk—atau setidaknya berdamai.

Di hadapan Watu Gilang, ia diminta melakukan sungkeman. Sebuah penghormatan yang, dalam logika budaya, adalah bentuk tertinggi dari kerendahan hati.

Ia bersimpuh. Menunduk. Tanpa curiga.

Dan justru di momen paling rendah itulah, takdir berubah arah.

Saat kepala itu mendekat dalam sembah, tangan kekuasaan bergerak. Kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan ke batu. Sekali. Keras. Dan cukup untuk mengakhiri segalanya.

Sungkeman, yang biasanya menjadi simbol bakti, di hari itu berubah menjadi pintu kematian.

Sejak saat itu, Watu Gilang tak lagi hanya batu. Ia adalah ingatan yang tak selesai—tentang bagaimana kekuasaan bisa menyelinap ke dalam tradisi, bagaimana cinta bisa dijadikan jalan, dan bagaimana kerendahan hati bisa dibalas dengan pengkhianatan.

Di sisi lain, ada sosok yang paling sunyi dalam kisah itu: Ratu Pembayun. Ia bukan hanya putri raja, tapi juga istri. Ia menjadi jembatan, sekaligus alat. Dan setelah semuanya terjadi, ia harus hidup dengan satu kenyataan yang tak mudah ditanggung—kehilangan suami di tangan ayahnya sendiri.

Maka sungkeman, dalam wajahnya yang paling dalam, bukan hanya tentang menunduk.

Ia adalah tentang kepercayaan.

Tentang siapa yang kita pilih untuk kita hormati tanpa curiga.

Dan tentang risiko terbesar dari kerendahan hati: bahwa tidak semua orang yang kita muliakan, mampu menjaga kehormatan itu.

Di setiap Lebaran, ketika tubuh-tubuh kembali bersimpuh di ruang keluarga, mungkin kita sedang mengulang sesuatu yang lebih tua dari sekadar tradisi. Kita sedang merawat makna—bahwa dalam dunia yang sering keras, masih ada ruang untuk tunduk dengan tulus.

Meski sejarah pernah mengajarkan, bahkan dalam posisi paling rendah, manusia tetap bisa terluka.(Lia)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments