Oleh Urangayu
Sejak awal kehidupan, manusia memulai langkahnya dengan tangan kosong—bahkan kantong harapan pun masih bolong. Tidak ada harta yang ikut menangis di ranjang kelahiran, tak satu pun jabatan menyelip di balik selimut bayi, dan nama besar masih sebatas doa yang diselipkan orang tua, belum tentu terkabul. Namun waktu, seperti pedagang licik di pasar kehidupan, mulai menawarkan banyak etalase: gelar, pangkat, kekuasaan, pengaruh, dan tentu saja—pengakuan.
Maka manusia pun belajar berjalan bukan hanya dengan kaki, tetapi dengan ambisi. Sedikit demi sedikit, hidup berubah menjadi lomba karung yang serius, di mana semua berlomba-lomba membawa beban sebanyak mungkin, lalu saling menepuk dada: siapa paling berat, dia paling sukses. Anehnya, tak ada yang bertanya untuk apa beban itu dibawa, atau ke mana sebenarnya tujuan lomba ini.
Di tengah perjalanan, manusia mulai lupa bahwa tangannya diciptakan untuk memberi salam, bukan sekadar menggenggam. Kesibukan mengejar “yang penting” menjelma menjadi rutinitas suci: rapat yang tak kunjung selesai, target yang selalu naik, dan citra diri yang dipoles seolah hidup adalah pameran etalase. Makna hidup pun menyempit, direduksi menjadi angka, posisi, dan validasi. Nilai diri tak lagi diukur dari kebijaksanaan, melainkan dari seberapa sering nama disebut, seberapa tinggi kursi diduduki, dan seberapa mahal simbol yang dipamerkan.
Padahal, semua yang tampak kokoh itu sejatinya rapuh. Harta hanyalah titipan yang bisa ditarik sewaktu-waktu, jabatan kontrak tanpa kepastian perpanjangan, dan nama besar sering kali hanya gema yang bergantung pada siapa yang bertepuk tangan. Namun manusia bersikeras memperlakukan semua itu seperti warisan abadi. Mereka lupa, atau pura-pura lupa, bahwa hidup tidak menyediakan brankas di akhirat.
Satirnya, manusia begitu lihai mencatat aset, tetapi sering lupa mengarsipkan nurani. Begitu teliti menghitung laba, namun ceroboh menimbang akibat. Begitu rajin membangun citra, tetapi malas merawat makna. Seolah-olah hidup adalah panggung sandiwara panjang, di mana peran lebih penting daripada kejujuran, dan tepuk tangan lebih berharga daripada ketenangan batin.
Ketika perjalanan itu mendekati ujung—tanpa seremoni, tanpa aba-aba—barulah kesadaran datang terlambat. Tangan yang dulu sibuk menggenggam kini harus belajar melepaskan. Di titik itu, semua titel luruh seperti cat terkelupas, semua benda kehilangan suara, dan semua klaim kepemilikan menjadi sunyi. Tak ada yang bisa disuap, tak ada yang bisa ditunda.
Yang tersisa bukanlah apa yang pernah dipajang, melainkan apa yang pernah diperbuat. Jejak perbuatan tampil apa adanya, tanpa filter dan tanpa narasi pembenaran. Setiap pilihan, setiap sikap, setiap tindakan berdiri sebagai saksi. Di sanalah hidup menemukan keadilannya yang paling jujur: bahwa manusia datang dengan tangan kosong, dan pergi pun dengan tangan yang sama—hanya diisi atau dikosongkan oleh kualitas dirinya sendiri.
Maka barangkali, hidup bukan soal seberapa banyak yang berhasil digenggam, melainkan seberapa bijak tangan itu digunakan. Sebab pada akhirnya, yang benar-benar ikut pulang bukanlah harta, jabatan, atau nama besar, melainkan apakah sepanjang perjalanan, manusia sempat menjadi manusia.

