LESINDO.COM – Hidup ini memang punya selera humor yang aneh. Setelah berkali-kali menghantam kita dengan badai—yang membuat atap mental nyaris copot dan isi kepala berantakan—eh, sekarang justru grimis yang sok penting datang membawa drama. Bukan merobohkan apa pun, tapi cukup untuk membuat kita menggigil seolah belum pernah selamat dari apa-apa.
Padahal, dulu kita sudah melewati hal-hal yang layak masuk berita kriminal atau minimal jadi bahan obrolan trauma. Tanpa teriak. Tanpa upacara. Kita jalan saja, dengan wajah datar dan kantong mata yang makin turun. Aneh, kan? Yang dulu nyaris mematahkan tulang punggung, sekarang hanya jadi cerita. Tapi hal kecil hari ini—pesan tak dibalas, rencana melenceng sedikit, omongan orang setengah matang—rasanya bisa bikin napas berat.
Bang, hidup belakangan ini capek tapi tenang. Capek karena hidup tidak pernah benar-benar belajar dari kesalahan. Tenang karena kita juga sudah berhenti berharap dia berubah.
Rencana sering gagal dengan penuh percaya diri. Orang datang membawa janji, lalu pergi membawa alasan. Usaha kadang seperti lelucon kosmik: kerja keras disambut hasil pas-pasan, kalau pun ada lebih, cepat-cepat diambil semesta buat “keseimbangan”.
Mental lelah? Jelas. Nangis? Sudah tidak estetis. Ngomel? Buang energi.
Kita sekarang masuk fase hidup di mana keluhan disaring dulu: penting atau cuma ribut? Kalau cuma ribut, silakan antre. Tidak semua hal dapat jatah dipikirkan.
Ekspektasi diturunkan pelan-pelan, seperti menurunkan harga diri agar bisa bertahan hidup. Bukan menyerah, ini efisiensi batin. Dulu, satu masalah kecil bisa berkembang biak di kepala sampai subuh. Sekarang? Tarik napas, minum kopi, lanjut hidup. Overthinking sudah pensiun dini—bukan karena sembuh, tapi karena capek.
Inilah yang orang sebut dewasa.
Bukan jadi bijak, tapi jadi realistis sampai sedikit sinis. Hidup tidak lebih lembut; kita saja yang berhenti dramatis. Grimis tetap grimis. Basah, iya. Penting? Tidak juga. Rumah masih berdiri, jadi kenapa harus panik seperti atap runtuh?
Capek masih ada. Getir juga masih setia. Tapi panik sudah tidak agresif. Tidak lagi menyerang dari segala arah seperti debt collector emosi. Sekarang ia datang sopan, kita persilakan duduk, lalu kita abaikan.
Kalau dipikir-pikir, lucu juga.
Setelah sejauh ini—setelah dikhianati, diremehkan, gagal berkali-kali—masa iya kita tumbang hanya karena hal-hal kecil yang dulu bahkan tidak pantas masuk daftar masalah?
Dikhianati? Ya. Tapi dunia tidak kiamat. Masih ada teman yang tulus. Masih ada segelintir manusia waras. Dan di atas semua itu, masih ada sandaran yang Maha Kuasa—yang tidak pernah ikut-ikutan pergi meski kita sering sok mandiri.
Orang mau datang, silakan. Mau pergi, jangan lupa tutup pintu.
Hidup pada dasarnya memang urusan datang dan mati. Selebihnya hanya lalu lintas emosi dan drama yang terlalu sering dibesar-besarkan. Alam saja santai: ada pasang, ada surut. Tidak ada yang marah, tidak ada yang baper.
Belajarlah pada alam. Saat ia diam, ia bukan kosong. Ia hanya bekerja tanpa ribut. Tidak seperti manusia yang baru disentil sedikit sudah merasa dizalimi semesta.
Jadi kalau hari ini kita menggigil hanya karena grimis kecil, mungkin bukan karena grimisnya. Mungkin karena lelah yang belum sempat dipeluk.
Dan tidak apa-apa. Kita tidak rapuh—hanya sudah terlalu lama berdiri.
Hidup masih keras. Tapi kita juga tidak selemah dulu.
Grimis boleh turun. Kita cukup mengencangkan jaket, menghela napas, dan berjalan lagi—tanpa drama, tanpa pengumuman. (cha)

