LESINDO.COM – Jika Yogyakarta sering disebut sebagai saudara tua yang dinamis dan penuh denyut wisata, maka Solo adalah sang penjaga tradisi—tenang, bersahaja, namun menghanyutkan. Di kota ini, modernitas tidak datang untuk menggusur, melainkan untuk bertamu dengan sopan. Bangunan baru berdiri berdampingan dengan tembok-tembok lama, sementara hiruk-pikuk zaman bernegosiasi halus dengan adat yang tak pernah lelah dijaga.
Solo bukan kota yang berteriak. Ia berbisik—lembut namun mengendap di ingatan. Dari sapaan “monggo” yang tulus, langkah kaki yang tertib, hingga alunan gamelan yang kadang terdengar samar dari pendapa-pendapa tua, Solo mengajarkan bahwa keindahan tak selalu harus mencolok. Inilah kota yang menjadikan tata krama (unggah-ungguh) sebagai mata uang utama dalam kehidupan sosialnya.
Jejak Historis yang Menghidupkan Jiwa
Sejarah Solo adalah kisah panjang tentang kejayaan, perpecahan, dan keteguhan menjaga jati diri. Kota ini lahir dari dinamika besar Kerajaan Mataram Islam yang terpecah melalui Perjanjian Giyanti pada abad ke-18. Dari peristiwa itu, berdirilah dua pusat kekuasaan: Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.
Namun bagi masyarakat Solo, keraton bukan sekadar simbol masa lalu. Ia adalah jantung kebudayaan. Di balik tembok-temboknya, denyut tradisi tetap hidup. Tarian Bedhaya dan Srimpi dilatih dengan kesabaran lintas generasi. Wayang, karawitan, dan sastra Jawa dijaga bukan sebagai benda museum, tetapi sebagai napas kehidupan.
Nilai-nilai itu meresap ke dalam keseharian masyarakat. Cara bertutur yang halus, sikap menunduk penuh hormat, serta kebiasaan mendahulukan orang lain bukanlah formalitas kosong, melainkan cermin dari filosofi hidup Jawa: andhap asor dan tepa slira.
Segudang Seni dan Ilmu yang Membumi
Solo adalah laboratorium budaya yang tak pernah kehabisan bahan pelajaran. Di Pasar Gede, sejarah bercampur dengan aroma rempah dan riuh tawar-menawar. Di sudut kota, museum-museum kecil menyimpan cerita panjang tentang perjalanan batik, keris, dan manuskrip Jawa.
Batik Solo dengan motif kecil dan warna sogan yang teduh bukan sekadar kain, melainkan narasi tentang kesabaran, ketekunan, dan kerendahan hati. Setiap goresan malam mengandung filosofi hidup.
Di panggung Wayang Orang Sriwedari, tokoh-tokoh Mahabharata dan Ramayana masih berbicara kepada zaman. Pertunjukan yang bertahan lebih dari satu abad ini membuktikan bahwa seni tradisi bukan peninggalan mati, melainkan warisan yang terus bernapas.
Kuliner: Diplomasi di Atas Meja Makan
Di Solo, makanan bukan sekadar pengisi perut, tetapi sarana menyampaikan rasa dan nilai.
Nasi Liwet dengan nasi gurih, ayam suwir, labu siam, dan siraman kumut hangat adalah simbol kebersamaan. Disantap lesehan, tanpa sekat status sosial.
Selat Solo menghadirkan perjumpaan budaya Timur dan Barat: steak ala Eropa yang disapa bumbu Jawa, segar dan lembut.
Sementara Serabi Notosuman menjadi penutup manis yang tak lekang oleh waktu—lembut, harum, dan penuh nostalgia.
Keunikan yang Tak Tergantikan
Mengapa Solo tetap berbeda di tengah arus megapolitan? Karena kota ini memiliki ritme sendiri. Saat kota lain berlari, Solo berjalan pelan—alon-alon waton kelakon. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tak harus menanggalkan akar.
Trotoar yang ramah, ruang publik yang terjaga, pasar tradisional yang tetap hidup, serta seni yang terus dipentaskan menjadi bukti bahwa keseimbangan masih mungkin dirawat.
Solo adalah “Spirit of Java” yang sesungguhnya. Di setiap sudut jalan, dalam tiap sapaan ramah, dan di balik kepulan aroma masakan dari warung tenda, kita menemukan jati diri Jawa: anggun, bersahaja, dan penuh cinta. (mac)

